Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bisnis F&B Dihantam Gejolak Ekonomi, Kolaborasi Jadi Kunci Bertahan

Bisnis F&B Dihantam Gejolak Ekonomi, Kolaborasi Jadi Kunci Bertahan
Perkembangan Industri food and beverage di Kota Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno
Intinya Sih
  • Industri F&B masih tertekan akibat kenaikan harga bahan baku, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian global, membuat pelaku usaha harus lebih cermat mengatur keuangan serta efisiensi operasional.
  • Kolaborasi antar pelaku usaha dinilai jadi strategi efektif untuk menekan biaya dan memperluas pasar, mulai dari pembelian bahan baku bersama hingga promosi silang antar-brand.
  • Komunitas F&B di kota besar seperti Bandung dan Jakarta berperan penting dalam menciptakan peluang kolaborasi serta menghadirkan pengalaman sosial yang menarik bagi konsumen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Bandung, IDN Times – Industri food and beverage (F&B) masih menghadapi berbagai tantangan meski pandemi telah berlalu beberapa tahun lalu. Kenaikan harga bahan baku, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga ketidakpastian ekonomi global membuat banyak pelaku usaha harus memutar otak agar bisnis tetap bertahan dan menghasilkan keuntungan.

Founder Ray Janson Radio, Ray Janson, menilai kondisi tersebut tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha kecil, tetapi juga bisnis yang sudah berkembang.

"Bisnis saya sendiri contohnya belum balik 100 persen. Setelah pandemik (Covid-19), ada berbagai faktor lain seperti konflik global, kenaikan mata uang asing, dan harga bahan baku yang terus meningkat," kata Ray dalam kegiatan Industry Night 2026 di Kota Bandung, Senin (15/6/2026).

Menurutnya, situasi tersebut membuat pelaku usaha tidak bisa lagi hanya mengandalkan produk yang sedang tren untuk bertahan di pasar.

1. Tren produk bukan penentu utama bisnis bisa bertahan

WhatsApp Image 2026-06-16 at 08.03.05.jpeg
Founder Ray Janson Radio, Ray Janson. IDN Times/Debbie Sutrisno

Ray mengatakan, banyak orang menganggap kesuksesan bisnis F&B ditentukan oleh menu atau produk yang viral. Padahal, faktor terpenting justru berada pada pengelolaan bisnis secara keseluruhan.

Menurutnya, bisnis yang mampu bertahan dalam jangka panjang biasanya memiliki manajemen keuangan yang sehat dan mampu mengatur arus kas dengan baik.

"Yang bakal stay di mana-mana, F&B seluruh dunia itu sama. Bisnisnya harus ngurusin cash flow dengan baik dan memanage bisnisnya dengan baik. Produk bisa mengikuti tren atau bahkan melawan tren," ujarnya.

Karena itu, pelaku usaha perlu lebih fokus pada efisiensi operasional, pengelolaan stok bahan baku, hingga perencanaan keuangan agar tetap memiliki ruang untuk berkembang di tengah tekanan ekonomi.

2. Pelaku usaha harus lebih sering bekerjasama

WhatsApp Image 2026-06-16 at 08.11.59 (1).jpeg
Perkembangan Industri food and beverage di Kota Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Di tengah kenaikan harga bahan baku dan biaya operasional, Ray menilai kolaborasi menjadi salah satu strategi yang paling efektif bagi pelaku usaha F&B. Menurutnya, kolaborasi tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk acara atau promosi bersama. Banyak peluang kerja sama yang bisa dilakukan untuk menekan biaya sekaligus memperluas pasar.

Misalnya, beberapa pelaku usaha dapat melakukan pembelian bahan baku secara bersama-sama kepada supplier sehingga memperoleh harga yang lebih kompetitif.

"Solusinya sama seperti saat pandemi. Bisnis harus bisa berkolaborasi supaya bukan hanya bertahan, tapi juga berkembang bersama," katanya.

Ia menambahkan, kerja sama juga bisa dilakukan melalui pengembangan produk, promosi silang antar-brand, hingga penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan beberapa pelaku usaha sekaligus.

3. Komunitas menjadi modal penting untuk mengembangkan bisnis

WhatsApp Image 2026-06-16 at 08.11.59.jpeg
Perkembangan Industri food and beverage di Kota Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Ray menilai, kota-kota seperti Bandung, Jakarta, dan Bali telah memiliki ekosistem komunitas F&B yang cukup kuat. Para pelaku usaha tidak segan untuk saling berdiskusi dan berkolaborasi demi menciptakan peluang baru.

"Komunitas itu penting untuk mengaktifkan kolaborasi. Sekarang banyak outlet yang menggandeng komunitas lari, fotografi, dan komunitas lainnya untuk meramaikan tempat usaha," ujar Ray.

Ia menilai pendekatan berbasis komunitas akan semakin relevan ke depan karena konsumen tidak hanya mencari produk yang baik, tetapi juga pengalaman dan koneksi sosial yang bisa mereka dapatkan dari sebuah tempat atau jenama.

Dengan kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan, Ray meyakini pelaku usaha F&B perlu lebih adaptif dalam mengelola bisnis. Manajemen keuangan yang sehat, kolaborasi yang kuat, serta dukungan komunitas menjadi kombinasi penting agar bisnis tetap cuan dan mampu berkembang di tengah ketidakpastian ekonomi.

Share Article
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha

Latest News Jawa Barat

See More