Dikepung Banjir, Pemkab Bandung Tetapkan Status Tanggap Darurat

- Pemkab Bandung resmi menetapkan status tanggap darurat setelah banjir dan longsor melanda beberapa kecamatan serta menelan satu korban jiwa.
- Status ini mempermudah koordinasi dan penyaluran bantuan di enam kecamatan terdampak, termasuk wilayah yang baru dilaporkan mengalami banjir dan longsor tambahan.
- Pemerintah menggelontorkan anggaran sekitar Rp900 juta dari BTT serta menerima bantuan Rp310 juta dari BNPB dan dukungan CSR untuk kebutuhan logistik warga terdampak.
Bandung, IDN Times - Pemerintah Kabupaten Bandung resmi menetapkan status tanggap darurat kebencanaan selama beberapa hari ke depan. Langkah ini diambil setelah terjadinya bencana alam banjir dan longsor selama sepekan kemarin hingga mengakibatkan satu orang meninggal terseret arus.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Bandung, Wahyudin mengatakan, pemerintah kabupaten sebelumnya sudah menerapkan status siaga darurat. Namun, karena saat ini peristiwa bencana alam seperti banjir terdapat di sejumlah kecamatan dan dampaknya hingga hari ini, maka status ditingkatkan.
"Sesuai hasil rapat hari kemarin, baru kemarin sore nah statusnya kita tingkatkan untuk supaya lebih efektif efisien penanggulangan penanggulangan bencana. Jadi kemarin sudah ditetapkan per hari ini SK Bupati," kata Wahyudin kepada IDN Times, Sabtu (18/4/2026).
1. Kabupaten Bandung resmi tetapkan status tanggap darurat

Status kedaruratan bencana ini juga diterapkan untuk mempermudah penanganan di lapangan karena, berdasarkan data selama seminggu kemarin lokasi banjir dengan dampak yang besar ada di enam kecamatan.
"Jadi sekarang hari ini mulai ditetapkan sebagai statusnya tanggap darurat. Jadi meningkat dari siaga darurat menjadi tanggap darurat. Dan bencana juga membuat korban jiwa," kata dia.
Selain enam kecamatan ini, Wahyudin menyampaikan, per hari ini sudah ada beberapa titik banjir di wilayah yang lainnya. Dengan begitu, status kebencanaan turut dinaikkan.
"Contohnya hari ini tadi malam ada laporan juga di Sukarami ada mungkin limpasan air sampai masuk ke rumah seperti itu terus ada longsor juga," ucapnya.
"Jadi ada ada yang sekaligus yang tadi di hampir di enam kecamatan, ada yang satu dua peristiwa tuh, satu dua kejadian. Tapi itu sering, hampir setiap hari tuh datang datanya masuk ke kami," ujar Wahyudin.
2. Anggaran akan digelontorkan untuk penanganan Kebencanaan

Kemudian, dengan sudah ditingkatkannya status kebencanaan maka untuk anggaran pemerintah pun bisa langsung digelontorkan untuk membantu para korban. Bahkan, beberapa bantuan untuk masyarakat pun sudah digelontorkan kepada masyarakat terdampak.
"Sebetulnya sudah terdistribusi bantuan dengan anggaran reguler. Kemudian juga kami kan memperoleh bantuan dari yang lain, dari BNPB. Sesuai kemarin yang diterima di Rancaekek, kami dapat bantuan kalau di sesuai yang tercantum itu Rp310 juta," ujar dia.
Selain itu, Pemkab Bandung juga menerima bantuan dari PDAM, ada CSR Bank bjb. Adapun untuk anggaran reguler dari BPBD Kabupaten Bandung baru ratusan juta Rupiah.
"Kalau di BPBD sendiri yang baru digeserkan itu anggaran BTT-nya baru sekitar Rp900 jutaan. Nah, sekarang belum kita masih mengajukan untuk kegiatan tanggap darurat terutama untuk pembunuhan kebutuhan logistik di masyarakat seperti itu," kata dia.
3. Seorang warga tewas terseret arus sungai

Sebelumnya cuaca ekstrem di wilayah Kabupaten Bandung sudah terjadi sejak awal April 2026. Atas kondisi ini satu warga di Kampung Girang, Banjaran, dinyatakan meninggal karena hanyut terseret aliran sungai, Rabu (15/4/2026).
Kejadian bermula saat salah satu korban atas nama Gina terjatuh akibat kondisi lingkungan yang tergerus air. Kemudian beberapa warga yang mencoba menolong justru ikut terseret arus di antaranya adalah Indra, Wildan, Ersih yang merupakan orangtua korban, dan Agus yang merupakan seorang satpam sekolah di Banjaran.
Kapolsek Banjaran Sudi Hartono menambahkan, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 15.42 WIB. Berdasarkan keterangan saksi, awalnya satu orang hanyut, kemudian beberapa warga yang mencoba menolong justru ikut terseret arus.
"Di depan SMA 1 Banjaran, satpam atas nama Agus sempat menolong dan sempat ke pinggir. Namun kemungkinan karena arus cukup deras sehingga hanyut kembali," ujar Sudi.
Ia menyebut korban Gina telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di wilayah Bojongsering, Ciparay, dengan jarak terbawa arus sekitar 1 hingga 2 kilometer dari lokasi awal kejadian.

















