Banyak Keluhan SPMB Jabar, Dedi Mulyadi Mencak-mencak di Kantor Disdik

- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turun langsung ke Kantor Disdik Jabar untuk menanggapi keluhan orang tua terkait pelaksanaan SPMB dan PCMB 2026.
- Dedi menyoroti perbedaan jadwal antara PCMB dan SPMB yang tidak sesuai rencana awal, serta meminta agar pengaduan bisa ditangani di sekolah masing-masing, bukan terpusat di Disdik.
- Masalah utama dinilai berasal dari aplikasi SPMB yang dibangun ulang dari nol, sehingga Dedi memerintahkan evaluasi menyeluruh dan pemanggilan pihak pengembang untuk klarifikasi teknis.
Bandung, IDN Times - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi turun langsung memantau proses pengaduan orang tua dalam pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di Kantor Dinas Pendidikan Jawa Barat di Jalan Radjiman, Kota Bandung, Selasa (9/6/2026).
Beberapa orang tua langsung mengadukan keluhan-keluhannya kepada Dedi Mulyadi selama proses SPMB Maung dan juga Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB). Dedi berterus terang kepada orang tua murid dan juga Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jabar, Purwanto yang ada di lokasi.
Dia mengatakan, gelaran SPMB Maung tahun ini sedikit berbeda dengan yang diinginkannya. Dia mulanya menginginkan proses PCMB ini seharusnya dilakukan sebelum gelaran SPMB. Namun justru digelar berbarengan setelah proses SPMB Sekolah Maung.
"Saya awalnya minta PCMB ini digelar sebelum SPMB atau pada Maret 2026, tapi kenapa tidak dilakukan," ujar Dedi.
1. Persoalan orang tua ini seharusnya bisa selesai di sekolah

Selain itu, Dedi juga meminta agar pengaduan setelah gelaran SPMB dan PCMB seharusnya tidak difokuskan ke kantor Disdik Jawa Barat. Menurutnya, aduan tersebut bisa dibuka di sekolah masing-masing.
"Ini bisa selesai di sekolah masing-masing, kalau semua kesini siapa yang mau menjawab (keluhan)," jelasnya.
Dedi mengungkapkan bahwa mayoritas masalah yang muncul bukan berasal dari aturan penerimaan siswa baru, melainkan dari sisi aplikasi yang digunakan.
"Kalau menurut saya sih nggak ribet. Ini kan kalau sudah dari 340.000 ada beberapa problem yang disebabkan oleh teknis aplikasi, saya lihat," kata Dedi.
2. Kendala ada pada pembuatan aplikasi baru

Dia pun memanggil pihak yang merancang dan mengembangkan aplikasi SPMB guna meminta penjelasan secara langsung.
"Makanya hari ini saya ingin panggil yang menggunakan aplikasinya, yang membuatnya, karena ketentuan Gubernur seharusnya aplikasi tidak dibuat oleh Dinas Teknis. Aplikasi itu harus dibuat oleh Diskominfo atau terintegrasi oleh Diskominfo," ujarnya.
Menurut Dedi, persoalan yang muncul dalam sistem SPMB tahun ini sebenarnya bukan masalah besar. Ia menilai aplikasi yang digunakan justru terlalu banyak mengalami perubahan karena dibangun dari awal, padahal sebelumnya sudah tersedia sistem yang dapat disempurnakan.
"Kalau saya melihat problemnya tadi sederhana. Seharusnya fitur yang sudah ada itu tinggal disempurnakan. Tetapi kalau saya melihat tadi bahwa dia membuat aplikasinya dari nol," katanya.
3. Dedi Mulyadi langsung panggil tim teknis

Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa Pemprov Jawa Barat akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem teknologi yang digunakan dalam pelaksanaan SPMB.
Dedi menegaskan dirinya ingin mengetahui secara detail siapa yang membuat aplikasi tersebut dan bagaimana proses pengembangannya hingga akhirnya memunculkan berbagai kendala yang dikeluhkan masyarakat.
"Makanya saya mau panggil sekarang, ini teknis banget, nggak ada yang berat," kata dia.

















