Dedi Mulyadi Tegaskan Sayembara Begal Bukan Ajak Warga Menghakimi

Bandung, IDN Times - Langkah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam membuat sayembara penangkap begal, maling dan kejahatan jalanan lainnya dengan hadiah Rp5 sampai Rp50 juta telah menjadi pro dan kontra. Banyak masyarakat yang memandang hal tersebut positif.
Hanya saja, pemerintah pusat justru meminta hal tersebut disetop. Seperti Menteri Koordinator bidang Hukum, HAM dan Imipas Yusril Ihza Mahendra berharap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (Demul) tak menggelar sayembara menangkap begal.
Menurutnya hal itu bisa mendorong orang untuk main hakim sendiri. Dia juga menyinggung kondisi perekonomian yang tengah sulit saat ini. Dengan iming-iming hadiah sayembara Rp5 juta atau Rp10 juta, orang akan berbondong-bondong menyiapkan diri.
1. Sayembara dinila bukan untuk main hakim sendiri

Meski begitu, Dedi Mulyadi mengatakan, sayembara bagi warga yang berhasil membantu menangkap begal, maling, copet, jambret, maupun perampok bukan untuk mendorong aksi main hakim sendiri. Menurut dia, kebijakan tersebut justru dimaksudkan untuk mencegah penghakiman massa yang kerap berujung pada kematian pelaku.
"Saya menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang memberikan otokritik terhadap sayembara tangkap begal, tangkap maling, tangkap copet, tangkap jambret, tangkap rampok," ujar Dedi dalam media sosialnya, Sabtu (25/7/2026).
Menurut dia, ada beberapa pihak yang turut mengkhawatirkan kebijakan tersebut dapat memicu aksi main hakim sendiri atau bahkan munculnya rekayasa kejahatan demi memperoleh hadiah sayembara. Hanya saja, Dedi menganggap, selama ini banyak kasus pencurian yang berakhir tragis karena pelaku tewas di tangan massa.
"Sayembara ini justru untuk mencegah terjadinya upaya main hakim sendiri atau main hakim ramai-ramai yang berujung pada kematian," katanya.
2. Uang diberikan setelah pelaku ditahan

Menurut Dedi, adanya hadiah bagi warga yang membantu menangkap pelaku akan mengubah respons masyarakat saat menghadapi tindak kriminal. Dengan adanya imbalan tersebut, masyarakat dinilai akan lebih memilih menyerahkan pelaku kepada aparat daripada melampiaskan emosi dengan kekerasan.
"Ketika ditangkap maling, begal, dan sejenisnya, orang cenderung tidak akan menghabisi sampai meninggal karena dia merasa akan mendapat imbalan atau hadiah dari apa yang dia lakukan," ujarnya.
Dia menambahkan, hadiah tersebut juga diharapkan dapat mengganti sebagian kerugian korban akibat aksi kejahatan. Dedi juga menanggapi kekhawatiran adanya skenario rekayasa kejahatan atau seseorang berpura-pura menjadi begal demi memperoleh hadiah sayembara.
Menurutnya, kemungkinan itu hampir tidak mungkin terjadi karena hadiah hanya diberikan apabila pelaku benar-benar terbukti melakukan tindak pidana dan telah diproses secara hukum.
"Uang diberikan setelah pelaku pembegalan atau pelaku maling yang ditangkap memang betul maling, kemudian menjadi tersangka dan ditahan. Mana mungkin ada orang pura-pura ingin ditahan hanya untuk mendapatkan imbalan," katanya.
3. Pencurian tidak selalu dilakukan oleh pengangguran

Dedi juga menjawab kritik yang menyebut pemerintah seharusnya lebih fokus mengatasi pengangguran daripada membuat sayembara penangkapan begal. Menurutnya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat tetap berupaya menciptakan lapangan kerja dan menarik investasi, namun ia menilai faktor penyebab kejahatan jauh lebih kompleks.
"Kanu setiap hari berusaha menyelesaikan pengangguran dan membangun investasi. Tetapi pencurian, kejahatan, maling, dan sejenisnya tidak melulu karena menganggur," ujarnya.
Dia menjelaskan, ada faktor lingkungan yang membentuk tradisi kriminal secara turun-temurun di sejumlah wilayah. Bahkan, menurutnya, terdapat kelompok kejahatan yang telah terorganisasi, mulai dari pelaku pencurian kendaraan bermotor hingga begal.
"Pelaku kejahatan ini tidak semuanya orang Jawa Barat. Banyak yang bukan warga Jawa Barat," katanya.
Lebih lanjut, Dedi mengajak masyarakat untuk tidak takut menghadapi aksi kriminalitas. Dia menegaskan, aparat keamanan telah meningkatkan patroli di berbagai wilayah sehingga masyarakat diharapkan tetap tenang, namun berani melawan kejahatan dengan cara yang benar.
"Jangan begal yang menjadi berkuasa dan membuat rasa takut dalam pikiran kita. Justru kita harus membuat begal takut kepada kita," ujarnya.
Dedi juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang memberikan kritik terhadap kebijakannya, termasuk kepada Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra yang turut memberikan masukan.
"Kami menerima kritik dengan sepenuh hati untuk kebaikan masyarakat Jawa Barat," kata dia.



















