Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Dedi Mulyadi Berencana Bangun Underpass di Pasteur Kota Bandung

Dedi Mulyadi Berencana Bangun Underpass di Pasteur Kota Bandung
Ilustrasi kemacetan Pasteur Bandung (IDN Times/Azzis Zulkhairil)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berencana membangun underpass di kawasan Pasteur, Bandung, untuk mengurai kemacetan yang sering terjadi setiap akhir pekan dan hari libur.
  • Rencana pembangunan underpass masih dalam tahap kajian tata kota dan infrastruktur; jika memenuhi syarat, proyek akan dilanjutkan dengan pembuatan Desain Engineering Detail tahun depan.
  • Kota Bandung dinobatkan sebagai kota termacet di Indonesia menurut Tomtom Traffic Index 2025, mendorong Wali Kota Muhammad Farhan memperbaiki sistem transportasi dan meninjau ulang aturan trayek angkot.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandung, IDN Times - Gubernur Provinsi Jawa Barat, Dedi Mulyadi berencana membangun infrastuktur underpass di kawasan Pasteur, Kota Bandung, untuk mengurangi terjadinya kemacetan di wilayah tersebut setiap hari Sabtu dan Minggu.

Diketahui, kawasan Pasteur sendiri merupakan salah satu gerbang masuk paling populer di Kota Bandung, di mana terdapat akses tol dan juga sangat dekat dengan pusat perkotaan. Saban hari libur daerah Pasteur tidak pernah sepi, melainkan penuh oleh kendaraan hingga kerap membuat kemacetan panjang.

Menurut Dedi, Pemerintah Provinsi perlu mencari solusi untuk masalah kemacetan di kawasan itu agar tidak berdampak terhadap arus lalu lintas disaat waktu akhir pekan dan libur panjang.

"Saya berkeinginan ya itu dibuat, kan keluar Pasteur apalagi Jumat, Sabtu, Minggu, itu selalu menimbulkan antrean panjang, gerbang pintu tol ada traffic light, ya pasti macet, sehingga harus dicarikan solusi. Solusinya salah satunya adalah underpass," ujar Dedi Mulyadi, dikutip Sabtu (18/4/2026).

1. Berharap syarat bisa terpenuhi

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. P Aditya

Meski demikian, Dedi menegaskan bahwa rencana pembangunan underpass masih dalam proses kajian dengan upaya pemenuhan syarat, baik itu dari aspek tata kota maupun infrastrukturnya.

"Ya mudah-mudahan lah dari sisi kajian tata kotanya, dari sisi aspek infrastrukturnya, bisa terpenuhi syaratnya, bisa tahun depan mulai di bangun," katanya.

Bahkan, jika semua pemenuhan persyaratan sudah terpenuhi, Dedi mengatakan akan segera membuatkan DED (desain engineering detail) untuk pembangunan underpass Pasteur.

"Kalau sudah kalau itu terpenuhi di Perubaan Anggaran kan bisa dibuatkan DED-nya, sehingga tahun depan bisa dibangun," katanya.

2. Bandung jadi kota paling macet di Indonesia

Suasana di Braga Bandung
Suasana di Braga Bandung (Ali Farhan)

Mengenai anggaran untuk rencana pembangunan underpass itu, Dedi mengaku belum bisa memastikan hal itu karena masih mengkaji rencananya. Kota Bandung sendiri kini dicap sebagai kota paling macet nomor satu di Indonesia, merujuk data dari Tomtom Traffic Index pada 2025. Mereka mencatat rata-rata perjalanan per 10 kilometer (km) di Ibu Kota Jawa Barat ini harus ditempuh selama 33 menit.

Sementara, di posisi kedua ada Medan dengan 32 menit, Palembang 28 menit, Surabaya 27 menit, dan Jakarta dengan 23 menit. Kota Bandung bahkan menduduki peringkat 12 dunia sebagai kota termacet, sedangkan Jakarta masih berada di peringkat ke-90.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan merasa malu dengan penilaian tersebut, sebab jelas bukan sebuah prestasi yang membanggakan. Dia memastikan, perbaikan akan dilaksanakan selama kepemimpinannya.

"Saya sih malu ya Kota Bandung dicap sebagai Kota termacet se-Indonesia. Bukan membanggakan, jadi perbaikan utama adalah sistem transportasi," ujar Farhan di kantor Agate Summarecon Bandung, Sabtu (5/7/2025).

3. Sistem transportasi umum belum bagus

IMG_20260401_083949.jpg
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. IDN Times/Debbie Sutrisno

Farhan pun memberi beberapa alasan Kota Bandung jadi yang termacet, salah satu di antaranya jumlah kendaraan pribadi yang hampir dimiliki oleh seluruh warga. Dia juga berterus terang bahwa sistem transportasi di wilayahnya jelek.

"Kenapa Bandung macet karena (warganya) banyak beli kendaraan pribadi seperti mobil, motor, karena transportasi jelek sekali. Ini mah fakta jumlah penduduk Kota Bandung 2,6 juta jumlah kendaraan pribadi nomor D Bandung itu 2,3 juta," kata Farhan.

"Jadi yang kami lakukan sekarang adalah strategi apapun untuk kendaraan umum ini sistemnya adalah tidak menggunakan trayek," tuturnya.

Menurutnya, sistem trayek yang saat ini masih digunakan untuk regulasi kendaraan umum seperti angkot menjadi ganjalan, dan banyak kalah bersaing dengan transportasi berbasis online yang tidak memiliki jalur khusus.

Kondisi ini, menurutnya, membuat masyarakat lari ke transportasi online yang mana menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil dan motor, dibandingkan kendaraan umum seperti angkot. Oleh karena itu sistem trayek ini harus dihilangkan.

Dengan kondisi ini, Farhan memastikan akan berusaha mengubah jalur trayek dengan sistem seperti carter di mana nantinya angkot bisa bersaing dan banyak digunakan oleh masyarakat untuk transportasi umum, dibandingkan kendaraan pribadi.

"Saya akan berjuang agar trayek ini dibongkar tota. Kalau pake aturan trayek maka gak pernah bisa bersaing dengan ojol dan lainnya. Mengapa? Karena perhitungan sama dengan ojol taksi semuanya berbasis carter. Angkot enggak, ya bagaimana mau dapat. Maka saya berpihak kepada angkot," katanya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Galih Persiana
EditorGalih Persiana
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More