Tren Cashless Dominan di Ciayumajakuning pada Momen Lebaran

- Kebutuhan uang tunai di Ciayumajakuning saat Ramadan dan Idulfitri 2026 turun 5,16% dibanding tahun sebelumnya, menandakan pergeseran transaksi masyarakat ke arah digital.
- Bank Indonesia membuka 99 titik layanan penukaran uang melalui aplikasi PINTAR dan mengatur distribusi dua tahap agar akses uang layak edar tetap merata menjelang Lebaran.
- Skema Tukar Uang Antar Bank (TUKAB) menyumbang sekitar 35% kebutuhan uang tunai, memperkuat kolaborasi perbankan dalam distribusi serta mendukung efisiensi sistem keuangan regional.
Cirebon, IDN Times - Bank Indonesia mencatat kebutuhan uang tunai masyarakat di wilayah Ciayumajakuning pada periode Ramadan dan Idulfitri 2026 mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya.
Dalam program Semarak Rupiah Ramadan dan Idulfitri (SERAMBI), realisasi kebutuhan uang tercatat sebesar Rp3,97 triliun atau mencapai 102,06% dari proyeksi, lebih rendah dibanding 2025 yang mencapai Rp4,18 triliun atau 102,23 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis, mengatakan penurunan tersebut mencerminkan mulai bergesernya pola transaksi masyarakat ke arah digital, meski kebutuhan uang tunai saat momen Lebaran masih tetap tinggi.
“Secara tahunan, kebutuhan uang tunai pada 2026 menurun 5,16 persen atau sekitar Rp216 miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Namun demikian, realisasi masih berada di atas proyeksi, yang menunjukkan permintaan masyarakat tetap kuat,” ujarnya, Senin (6/4/2026).
1. Realisasi tetap lampaui proyeksi

Data Bank Indonesia menunjukkan, pada 2025 kebutuhan uang tunai diproyeksikan sebesar Rp4,09 triliun, namun realisasinya mencapai Rp4,18 triliun atau 102,23 persen. Sementara pada 2026, proyeksi ditetapkan sebesar Rp3,89 triliun dengan realisasi Rp3,97 triliun atau 102,06%.
Menurut Rengganis, capaian di atas 100% mengindikasikan adanya dinamika permintaan uang tunai yang sulit diprediksi secara presisi, terutama menjelang hari besar keagamaan seperti Idulfitri.
“Kami melihat pola yang konsisten, di mana realisasi selalu melampaui proyeksi. Ini menjadi perhatian dalam perencanaan distribusi uang agar tetap optimal dan tidak terjadi kekurangan di masyarakat,” katanya.
Dalam mendukung kebutuhan masyarakat, Bank Indonesia membuka layanan penukaran uang melalui aplikasi PINTAR selama periode 23 Februari hingga 13 Maret 2026. Layanan ini dibagi dalam dua tahap guna mengatur distribusi secara lebih merata.
Sebanyak 99 titik layanan penukaran disiapkan di wilayah Ciayumajakuning dengan total kuota mencapai 14.900 paket penukaran. Upaya ini dilakukan untuk memastikan akses masyarakat terhadap uang layak edar tetap terjaga.
Rengganis menjelaskan, digitalisasi layanan penukaran melalui aplikasi menjadi strategi untuk mengurangi antrean sekaligus meningkatkan efisiensi distribusi uang tunai.
“Dengan sistem berbasis aplikasi, masyarakat dapat mengatur jadwal penukaran secara lebih tertib. Ini membantu kami dalam mengelola permintaan yang biasanya melonjak tajam menjelang Lebaran,” ujarnya.
2. Peran TUKAB dalam distribusi

Selain melalui layanan langsung, Bank Indonesia juga mengoptimalkan skema Tukar Uang Antar Bank (TUKAB) dalam memenuhi kebutuhan uang masyarakat. Pada 2026, sekitar 35 persen dari total kebutuhan uang tunai dipenuhi melalui mekanisme ini.
Skema TUKAB dinilai mampu meningkatkan efisiensi distribusi uang, karena melibatkan perbankan dalam penyaluran uang layak edar kepada masyarakat.
“Kolaborasi dengan perbankan melalui TUKAB menjadi kunci dalam menjaga ketersediaan uang tunai. Dengan demikian, distribusi tidak hanya bergantung pada Bank Indonesia, tetapi juga didukung oleh jaringan perbankan,” kata Rengganis
3. Indikasi pergeseran ke transaksi digital

Rengganis mengatakan, penurunan kebutuhan uang tunai pada 2026 turut mengindikasikan adanya perubahan perilaku masyarakat dalam bertransaksi.
Penggunaan kanal pembayaran digital seperti transfer dan QR code semakin meningkat, terutama di wilayah perkotaan.
Meski demikian, Bank Indonesia menilai uang tunai masih memiliki peran penting, khususnya di momen keagamaan dan di sektor-sektor tertentu yang belum sepenuhnya terdigitalisasi.
“Ke depan, kami melihat keseimbangan antara transaksi tunai dan non-tunai akan terus berkembang. Bank Indonesia akan memastikan keduanya berjalan berdampingan untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat,” ujarnya.


















