Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Produksi Terganggu Hama Patek, Cabai Jadi Penyumbang Inflasi Jabar

Kota Bandung
2 min read
Produksi Terganggu Hama Patek, Cabai Jadi Penyumbang Inflasi Jabar
Ilustrasi cabai di Pasar Badung. (IDN Times/Yuko Utami)
  • Inflasi Jawa Barat pada Oktober 2026 mencapai 0,20 persen secara bulanan dan 2,90 persen tahunan, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar.

  • Kenaikan harga cabai rawit, cabai merah, dan tomat dipicu pasokan terbatas akibat kemarau panjang serta serangan hama patek; ayam, telur, emas perhiasan, dan beras justru turun.

  • Kota Bogor mencatat inflasi bulanan tertinggi 0,35 persen, sedangkan Kota Bandung terendah 0,08 persen; BPS meminta TPID mengantisipasi permintaan jelang libur akhir tahun.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Cabai rawit, cabai merah, dan tomat menjadi penyumbang kenaikan harga sejumlah kebutuhan masyarakat di Jawa Barat sepanjang Oktober 2026. Keterbatasan pasokan akibat kemarau panjang dan serangan hama patek pada tanaman hortikultura menjadi pemicu kenaikan harga komoditas tersebut.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat inflasi bulanan atau month-to-month (mtm) pada Oktober 2026 mencapai 0,20 persen. Sementara inflasi tahunan atau year-on-year (yoy) tercatat sebesar 2,90 persen.

Adapun secara keseluruhan, inflasi year-to-date (ytd) Jawa Barat hingga Oktober 2026 tercatat sebesar 2,31 persen. Angka inflasi tahunan masih berada di level 2,90 persen.

  1. 1. Harga ayam dan telur justru mengalami penurunan

    Ilustrasi daging ayam. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)
    Ilustrasi daging ayam. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

    Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati mengatakan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang andil inflasi terbesar pada Oktober, yakni 0,12 persen. Kelompok tersebut mengalami inflasi sebesar 0,41 persen.

    "Komoditas utama yang mendominasi kenaikan harga meliputi cabai rawit, cabai merah, dan tomat, yang dipicu oleh keterbatasan pasokan akibat musim kemarau panjang serta serangan hama patek pada tanaman hortikultura," kata Margaretha dalam rilis Berita Resmi Statistik (BRS), dikutip Selasa (3/11/2026).

  2. 2. Harga beras sudah bukan lagi penumpang inflasi

    Ilustrasi beras di gudang bulog (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)
    Ilustrasi beras di gudang bulog (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)

    Di tengah kenaikan harga sejumlah komoditas hortikultura, Margaretha menjelaskan, beberapa bahan pangan justru mengalami penurunan harga. BPS mencatat harga daging ayam ras dan telur ayam ras turun karena pasokan yang melimpah.

    Sementara, harga emas perhiasan juga mengalami penurunan mengikuti tren harga emas di pasar global. Hal tersebut terjadi selama beberapa waktu kemarin, dan saat ini harganya cenderung naik kembali.

    "Harga beras yang sebelumnya menjadi salah satu komoditas penyumbang tekanan inflasi mulai menunjukkan tren penurunan pada Oktober 2026," katanya.

  3. 3. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Bogor

    Ilustrasi Inflasi (IDN Times/Arief Rahmat)
    Ilustrasi Inflasi (IDN Times/Arief Rahmat)

    Jika dilihat berdasarkan wilayah, Margaretha menuturkan, inflasi bulanan tertinggi di Jawa Barat terjadi di Kota Bogor sebesar 0,35 persen. Sebaliknya, Kota Bandung mencatatkan inflasi terendah, yakni sebesar 0,08 persen.

    BPS mengingatkan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk mengantisipasi potensi kenaikan permintaan bahan pokok menjelang libur akhir tahun.

    "Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) harus bersiap mengantisipasi potensi lonjakan permintaan bahan pokok menjelang libur akhir tahun, khususnya guna meredam tekanan harga hortikultura di tengah transisi musim," kata Margaretha.

Related Articles

See More