Kapolda Larang Polisi Nge-Vape, Memang Seberapa Bahayanya Produk Ini?

- Polisi di seluruh Jawa Barat dilarang menggunakan vape, baik di ruang kerja maupun seluruh markas polisi.
- Kemenkes dan IDI menyoroti vape bukan alternatif aman karena aerosolnya dapat mengiritasi saluran napas, mengandung partikel halus, senyawa volatil, serta logam.
- Kandungan nikotin berpotensi memicu ketergantungan, terutama pada remaja; rasa menarik tidak menjamin keamanan, sementara baterai perangkat dapat memicu panas berlebih, kebakaran, atau ledakan.
Bandung, IDN Times - Polisi di seluruh daerah Jawa Barat mulai dilarang menggunakan vape atau rokok elektrik. Mereka tidak hanya dilarang menggunakannya di dalam ruangan kerja, tapi hingga di seluruh markas polisi.
Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin bahkan sempat menyebut bahwa rokok elektrik bukanlah alternatif yang lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Justru, penggunaannya berpotensi meningkatkan risiko penyakit tidak menular sekaligus membuka celah penyalahgunaan narkotika, terutama di kalangan anak dan remaja.
Pun dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang pernah menyampaikan sikap menentang penggunaan rokok elektrik karena potensi dampak kesehatannya. Meski penelitian mengenai efek jangka panjang vape masih terus berkembang, sejumlah risiko kesehatannya sudah perlu menjadi perhatian.
Lantas kenapa vape sangat berbahaya?
1. Berisiko mengganggu kesehatan paru-paru

ilustrasi rokok elektrik (pixabay.com/VasilySukovatitsyn) Disadur dari laman kemkes.go.id, salah satu risiko penggunaan vape berkaitan dengan sistem pernapasan. Cairan rokok elektrik umumnya mengandung bahan seperti propilen glikol dan gliserin yang dipanaskan untuk menghasilkan aerosol. Proses pemanasan tersebut dapat menghasilkan zat lain yang berpotensi membahayakan tubuh.
Aerosol vape juga dapat mengandung partikel halus, senyawa organik volatil, serta logam yang berasal dari komponen perangkat. Paparan zat-zat tersebut berpotensi menyebabkan iritasi dan peradangan pada saluran pernapasan.
Penggunaan vape juga pernah dikaitkan dengan kasus cedera paru-paru akut. Salah satu kejadian yang mendapat perhatian luas adalah wabah e-cigarette or vaping product use-associated lung injury (EVALI) di Amerika Serikat pada 2019. Wabah tersebut terutama dikaitkan dengan produk vape yang mengandung THC dan vitamin E asetat, sehingga tidak tepat jika seluruh kasusnya dianggap disebabkan oleh semua jenis vape.
Meski demikian, fakta tersebut menunjukkan bahwa kandungan cairan dan produk yang digunakan berpengaruh terhadap risiko kesehatan. Pengguna sebaiknya tidak menganggap aerosol vape aman hanya karena tidak menghasilkan asap seperti rokok konvensional.
2. Kandungan nikotin bisa menyebabkan ketergantungan

ilustrasi uap rokok elektrik (unsplash.com/E-Liquids UK) Banyak produk vape mengandung nikotin, zat adiktif yang dapat membuat penggunanya mengalami ketergantungan. Penggunaan berulang dapat membuat seseorang sulit berhenti dan terus ingin mengonsumsi nikotin.
Ketika tubuh terbiasa menerima nikotin, pengguna bisa mengalami gejala putus nikotin saat mengurangi atau menghentikan pemakaian. Gejalanya antara lain mudah marah, sulit berkonsentrasi, gelisah, dan munculnya keinginan kuat untuk kembali menggunakan produk tersebut.
Risiko ini perlu mendapat perhatian khusus pada remaja dan dewasa muda. Otak masih berkembang hingga sekitar usia 25 tahun, sehingga paparan nikotin dapat mengganggu bagian otak yang berkaitan dengan perhatian, pembelajaran, suasana hati, dan pengendalian impuls.
Selain itu, nikotin dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah untuk sementara. Karena itu, penggunaan vape bukan hanya persoalan kebiasaan, tetapi juga berkaitan dengan risiko kesehatan dan ketergantungan.
3. Vape tetap berisiko meski punya banyak pilihan rasa

ilustrasi kerusakan paru-paru akibat vaping atau rokok elektrik (aamc.org) Beragam pilihan rasa, mulai dari buah hingga permen, membuat vape terlihat menarik bagi orang yang sebelumnya tidak merokok. Desain perangkat yang praktis juga membuat produk ini mudah digunakan dalam berbagai situasi.
Namun, rasa yang menarik tidak menjamin kandungan di dalamnya aman untuk dihirup. Bahan perasa yang aman dikonsumsi melalui makanan belum tentu aman ketika dipanaskan dan masuk ke paru-paru.
Penggunaan vape juga dapat membuat orang yang sebelumnya tidak merokok mulai terpapar nikotin. Pada sebagian pengguna, kebiasaan tersebut berpotensi berkembang menjadi ketergantungan. Penggunaan vape dan rokok konvensional secara bersamaan pun tidak menghilangkan risiko kesehatan dari keduanya.
Selain dampak terhadap tubuh, perangkat vape menggunakan baterai yang dapat mengalami kerusakan. Dalam kondisi tertentu, baterai yang rusak atau digunakan secara tidak tepat berpotensi menyebabkan panas berlebih, kebakaran, atau ledakan.
Karena itu, vape tidak seharusnya dipandang sebagai produk tanpa risiko. Bagi orang yang tidak merokok, pilihan paling aman adalah tidak memulai penggunaan vape. Sementara itu, pengguna yang ingin berhenti dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk memperoleh dukungan dan metode berhenti yang sesuai.





















