- 4 November 2026 di Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta Jawa Tengah.
- 7 November 2026 di IFI (Institut Francais d’Indonesie) Yogyakarta Jawa Tengah.
- 21 Novemberr 2026 di Sagala Rumah Studio, Depok Jawa Barat.
- 28 November 2026 di Gedung De Majestic, Bandung Jawa Barat.
- Bulan Desember 2026 di Jakarta (tentative).
Monda Pelesiran Hadirkan Tiga Pertunjukan Seni Berbahasa Sunda

- Peqho Teater menggelar Monda Pelesiran, rangkaian tiga pertunjukan berbahasa Sunda yang mengajak publik merawat identitas budaya sambil merefleksikan individualisme dan dampak teknologi.
- Program ini memadukan monolog Copong, Ngeunteung, dan performing art MaAink, dengan tema kekosongan diri, refleksi kehidupan, serta kegelisahan menghadapi arus informasi digital.
- Roadshow berlangsung November 2026 di Surakarta, Yogyakarta, Depok, dan Bandung; Jakarta direncanakan pada Desember dengan jadwal masih tentatif.
Bandung, IDN Times - Peqho Teater akan segera menggelar Monda Pelesiran, sebuah pertunjukan monolog dan performing art berbahasa Sunda yang menggabungkan tiga karya dalam satu malam. Program ini digagas oleh Adjie N.A selaku pendiri Peqho Teater dan diproduseri oleh Mima Yusuf.
Mengusung semangat kebanggaan terhadap budaya Indonesia, Monda Pelesiran ingin mengajak masyarakat kembali mengenali identitas akar budaya Sunda. Pertunjukan ini juga mengangkat refleksi kehidupan manusia modern yang kerap terjebak dalam individualisme dan terdampak perkembangan teknologi.
Pada November 2026, Monda Pelesiran dijadwalkan menyambangi sejumlah kota, yakni Surakarta, Yogyakarta, Depok, dan Bandung. Pertunjukan di Jakarta juga masuk dalam rencana roadshow, tetapi jadwalnya masih tentatif.
Rangkaian pertunjukan ini terdiri dari dua monolog, yaitu Copong dan Ngeunteung, serta satu performing art berjudul MaAink. Ketiganya menghadirkan pendekatan artistik berbeda untuk membicarakan kekosongan diri, refleksi terhadap kehidupan, hingga kegelisahan manusia di tengah derasnya arus informasi digital.
1. Tiga karya mengangkat keresahan manusia modern

Monda Pelesiran Hadirkan Tiga Pertunjukan Seni Berbahasa Sunda (Dok. Peqho Teater) Pertunjukan pertama, Copong, yang berarti kosong, ditulis oleh sastrawan Sunda Nazarudin Azhar dan dimainkan oleh Aditya Lakon, aktor film sekaligus penggiat seni pertunjukan asal Tasikmalaya. Menggabungkan genre realis dan surealis, monolog ini menggambarkan keresahan seorang laki-laki yang merasakan kekosongan dalam hidupnya.
Kisahnya dekat dengan pengalaman masyarakat perkotaan yang menghadapi berbagai tekanan kehidupan.
Karya kedua, Ngeunteung atau bercermin, ditulis oleh sastrawan Sunda Teddi Muhtadin dan disutradarai oleh Heksa Ramdono dari Teater Candu Bandung. Monolog bertema surealis ini dibawakan Dede Dablo, aktor panggung sekaligus aktor pantomim asal Bandung.
Melalui perpaduan monolog dan pantomim, pertunjukan tersebut mengajak penonton merefleksikan diri, mengingat kuasa Sang Pencipta, serta tidak melupakan leluhur.
Kegelisahan terhadap individualisme dan derasnya informasi di era digital berlanjut dalam MaAink, karya performing art yang ditulis sekaligus disutradarai Adjie N.A. Melibatkan delapan aktor hasil audisi dari berbagai komunitas teater di Jakarta, pertunjukan ini memadukan koreografi, dialog, tata cahaya dinamis, serta musik Sunda dengan sentuhan modern.
Adjie N.A. mengungkapkan bahwa pemilihan bahasa Sunda dalam pergelaran ini dilandasi oleh kesadaran untuk merawat akar budaya di tengah gempuran modernitas.
Ia menilai, identitas kultural harus tetap dijaga tanpa harus kehilangan keindonesiaan seseorang. "menurut saya, Bahasa Sunda itu adalah salah satu kekayaan Indonesia. Menjadi Indonesia itu bukan berarti kita kehilangan akar bahasa, gitu, tapi justru harus dipertahankan," tutur Adjie.
2. Musik dan tembang Sunda memperkuat pesan pertunjukan

ilustrasi budaya lokal bermain angklung (pexels.com/Teguh Dewanto) Dalam MaAink, unsur musik menjadi bagian penting untuk membangun suasana pertunjukan. Musiknya digarap oleh Imam Firmansyah, komposer musik tradisional sekaligus pendiri komunitas Tukang Tabuh, bersama Xonad.NG, musisi The Bahamas band yang juga bekerja sebagai audio engineer dan produser musik.
Pertunjukan ditutup dengan tembang Sunda kuno Pupuh Maskumambang. Bagian penutup ini membawa pesan kepada generasi muda agar menjaga akar budaya Sunda dan bangga terhadap identitas sebagai manusia yang berbudaya. Pesan tersebut sejalan dengan gagasan utama Monda Pelesiran, yakni menjadikan seni pertunjukan sebagai ruang untuk merefleksikan diri sekaligus mendekatkan kembali masyarakat dengan warisan budayanya.
Melalui tiga karya dengan pendekatan berbeda, Monda Pelesiran menempatkan budaya Sunda bukan hanya sebagai unsur pertunjukan, tetapi juga sebagai medium untuk membicarakan persoalan kehidupan masa kini. Meski mengangkat keresahan manusia modern, rangkaian karya ini turut mengajak penonton melihat kembali nilai-nilai budaya sebagai bagian dari identitas diri.
3. Peqho Teater membawa Monda Pelesiran ke lima kota

Monda Pelesiran Hadirkan Tiga Pertunjukan Seni Berbahasa Sunda (Dok. Peqho Teater) Peqho Teater didirikan oleh Adjie N.A pada 2002. Aktif berkarya di bidang seni pertunjukan, kelompok teater ini telah mementaskan lebih dari 30 pertunjukan secara mandiri maupun melalui kolaborasi dengan komunitas lain. Berbagai genre pernah diangkat, mulai dari realis, komedi, musikal, hingga dance theater.
Selain budaya Sunda melalui Monda Pelesiran, Peqho Teater juga pernah mengangkat budaya Lombok lewat pertunjukan Batu Golog pada 2019. Pada 2025, Peqho Kids, bagian dari Peqho Teater, membawakan pertunjukan Randai yang mengangkat budaya Minangkabau. Roadshow Monda Pelesiran menjadi kesempatan bagi kelompok ini untuk kembali merangkul seniman Jawa Barat melalui karya berbahasa Sunda.
Di sisi lain, pemilihan kota di luar wilayah Jawa Barat seperti Solo dan Jogja juga dilakukan dengan misi khusus, yakni membuktikan bahwa karya seni tradisional yang dikemas secara kontemporer dapat dinikmati oleh siapa saja lintas budaya.
"Kami ingin berbagi karena biasanya pertunjukan-pertunjukan di panggung itu selalu yang klasik, ya kan? Tradisi gitu, berbahasa Jawa, berbahasa Sunda atau apa. Nah, justru di sini kita mau berbagi bahwa, 'Eh, bisa lho dengan format kontemporer, bisa lho dengan format yang begini,'" kata Adjie.
Berikut jadwal pertunjukan Monda Pelesiran:






















