Menghidupkan Nostalgia Pop Sunda Lewat Lestari Tradisi Bandung 1990

Pagelaran Lestari Tradisi Bandung 1990 di Bumi Sangkuriang menghadirkan kembali Pop Sunda era 1990-an, termasuk karya Nining Meida dan Doel Sumbang.
Produser Happy Salma menekankan pelestarian budaya tidak perlu menunggu viral, melainkan menjadi ruang masyarakat mengenali akar budaya dan mengapresiasi seniman.
Festival kolaborasi Titimangsa dan Bakti Budaya Djarum Foundation menyajikan pertunjukan Sunda, lomba, bazar kuliner serta kerajinan, dengan sejumlah musisi dan kelompok seni tampil.
Bandung, IDN Times - Lagu-lagu Pop Sunda yang populer pada era 1990-an kembali dihadirkan dalam pagelaran Lestari Tradisi Bandung 1990. Panggung ini menjadi ruang untuk mengenang perjalanan musik Sunda sekaligus mempertemukan kesenian tradisional dengan budaya populer.
Pagelaran yang digelar di Bumi Sangkuriang, Jalan Kiputih, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung, Sabtu (17/10/2026), menghadirkan sejumlah musisi dan seniman, termasuk Nining Meida dan Doel Sumbang yang dikenal lewat karya-karya musik Sunda.
Pendiri Titimangsa sekaligus produser Lestari Tradisi, Happy Salma mengatakan, Bandung memiliki peran penting dalam perkembangan seni dan budaya Indonesia. Kota ini menjadi ruang pertemuan berbagai bentuk kesenian, mulai dari tradisi hingga budaya populer.
"Kalau Bandung, memang Bandung tuh adalah bintangnya Indonesia, memang lahirnya dari sana," ujar Happy dalam konferensi pers di lokasi.
1. Lagu-lagu era 1980-an akan turut dinyanyikan

Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil Menurut Happy, perpaduan kesenian tradisional dan budaya populer semakin terasa pada era 1980-an hingga 1990-an. Saat itu, jaipongan dan lagu-lagu berbahasa Sunda menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Happy mengungkapkan, era tersebut juga menyimpan kenangan personal. Ia masih mengingat lagu-lagu Sunda yang kerap dinyanyikan orangtuanya, termasuk Kalangkang yang dipopulerkan Nining Meida.
"Nah, yang menarik karena di era tahun 1990-an, saya juga ingat lagu-lagu yang suka dinyanyikan oleh orangtua saya. Mungkin malam nanti saya akan sing along juga nyanyi Kalangkang sama Teh Nining Meida," katanya.
2. Pelestarian budaya tak harus menunggu viral

Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil Lebih lanjut, Happy mengatakan, Lestari Tradisi Bandung 1990 tidak sekadar menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga mengajak masyarakat kembali mengenali akar budaya mereka.
Menurut dia, pelestarian budaya tidak semestinya bergantung pada popularitas di media sosial. Karya seni dan tradisi tetap memiliki nilai meskipun tidak menjadi viral.
"Kami harus punya kepercayaan diri bahwa sesuatu yang bagus itu tidak selalu harus viral. Kita mau melakukan kegiatan ini karena kita meyakini ada nilai yang baik di sana," tutur Happy.
Ia berharap pagelaran tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk menikmati kesenian tradisional sekaligus mengapresiasi para seniman yang terus merawatnya.
"Acara ini menjadi ruang pengingat untuk menoleh kembali pada kompas kehidupan kita, dari mana kita berasal, agar kita tidak gagap dalam melangkah menghadapi masa depan," ucapnya.
3. Hadirkan kesenian hingga kuliner khas Sunda

Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian mengatakan, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menjaga tradisi yang sudah ada. Masyarakat juga perlu mendapatkan kesempatan untuk mengenal dan menikmati kesenian, kuliner, serta kerajinan tradisional.
"Melalui Lestari Tradisi Bandung 1990, kami ingin menghadirkan suasana pesta rakyat yang hangat, tempat masyarakat bisa berkumpul, menikmati beragam kesenian, dan merayakan kekayaan budaya yang kita miliki," katanya.
Festival yang digelar Titimangsa bersama Bakti Budaya Djarum Foundation ini menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari unjuk bakat seniman lokal, pagelaran kesenian Sunda, lomba kesenian, hingga bazar kuliner dan kerajinan.
Pengunjung dapat menemukan makanan khas, seperti kupat tahu, surabi, mi kocok, cuanki, dan es campur. Bazar tersebut juga menghadirkan kerajinan, batik, fesyen berbahan tenun, aromaterapi, serta jamu tradisional.
Pada malam hari, sejumlah musisi dijadwalkan tampil di panggung utama, di antaranya Doel Sumbang, Nining Meida, Bungsu Bandung, Candil, Dewi Gita, Dira Sugandi, Yukie Pas Band, Ebith Beat A, Ujang Darso, dan Rehan Darso.
Sejumlah kelompok seni juga turut meramaikan acara, seperti Saung Angklung Udjo, Padepokan Jugala Jaipongan, SambaSunda, dan Sanggar Tari Indrawati Lukman. Penampilan mereka memadukan musik, tari, dan berbagai bentuk kesenian Sunda.
Acara turut menghadirkan Hot Mama Dance Club. Pada bagian penutup, para penampil dan pengunjung diajak menyanyikan lagu Bubuy Bulan bersama-sama.




















