Energi Bersih Berkembang, Kesiapan Tenaga Kerja Lokal Jadi Tantangan

- Transisi energi bersih di Bali membutuhkan tenaga kerja lokal terampil agar generasi muda dapat berperan dan memperoleh manfaat dari pertumbuhan pekerjaan hijau.
- Bappenas, GIZ, dan PKET mendorong integrasi kompetensi energi terbarukan di lima SMK Bali, termasuk kurikulum, sarana praktik, sertifikasi guru, dan keterlibatan praktisi industri.
- SHEB 2026 memperkenalkan karier energi bersih melalui diskusi, kunjungan PLTS, dan kompetisi, sambil membahas regulasi, magang, serta portal kerja hijau bersama pemangku kepentingan.
Bandung, IDN Times – Transisi menuju energi bersih tidak hanya membutuhkan pembangunan infrastruktur pembangkit, tetapi juga tenaga kerja lokal yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri. Tanpa persiapan sumber daya manusia sejak dini, masyarakat berisiko belum dapat mengambil peran optimal dalam perkembangan sektor energi terbarukan.
Tantangan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan pekerjaan hijau atau green jobs di Bali. Kementerian PPN/Bappenas bersama Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH melalui proyek kerja sama Indonesia-Jerman Green Jobs for Social Inclusion and Sustainable Transformation (GESIT), dengan dukungan Pusat Keterampilan Energi Terbarukan (PKET), mendorong penguatan keterampilan tenaga kerja lokal agar sejalan dengan kebutuhan transisi energi.
Upaya tersebut dibahas dalam kegiatan Satu Hari Energi Bersih (SHEB) 2026 yang berlangsung di Mercure Hotel Sanur pada 15 Oktober 2026, sebagai bagian dari Bali Climate Week 2026. Kegiatan ini mempertemukan generasi muda, lembaga pendidikan, pemerintah, dan pelaku industri untuk mengenalkan peluang karier serta kebutuhan keterampilan di sektor energi bersih.
Ketua Umum PKET, Sim Budiman Setiawan, mengatakan, pengembangan energi terbarukan perlu berjalan beriringan dengan penyiapan sumber daya manusia, terutama generasi muda di daerah.
“Transisi energi tidak hanya soal teknologi, tetapi juga tentang manusia. Jika kita ingin Nusa Penida 100% beralih ke energi terbarukan, kita tidak bisa terus-menerus mendatangkan teknisi dari luar daerah. Tenaga kerja lokal, khususnya generasi muda Bali, harus menjadi aktor utama dan penerima manfaat terbesar dari lahirnya era pekerjaan hijau ini,” ujar Sim dalam keterangan tertulisnya.
1. Pendidikan Vokasi Perlu Terhubung dengan Kebutuhan Industri

Dok.Istimewa Salah satu tantangan dalam pengembangan tenaga kerja energi terbarukan adalah keterhubungan antara pendidikan vokasi dan kebutuhan industri. Siaran pers GESIT menyebut, pilihan pendidikan dan jalur karier yang berkaitan dengan energi terbarukan masih terbatas di sejumlah konteks percontohan di Bali.
Di SMKN 1 Nusa Penida, misalnya, program keahlian yang tersedia masih berfokus pada bidang pariwisata. Sementara itu, sebagian tenaga teknis kelistrikan masih membutuhkan peningkatan kompetensi dan sertifikasi yang sesuai dengan standar industri energi terbarukan.
Untuk merespons tantangan tersebut, lima SMK percontohan di Bali didorong mengintegrasikan kompetensi energi terbarukan melalui berbagai pendekatan. Upaya itu mencakup pengembangan konsentrasi keahlian, mata pelajaran pilihan dalam Kurikulum Merdeka, kegiatan ekstrakurikuler, serta pelibatan praktisi industri sebagai guru tamu.
Sim mengatakan, transformasi pendidikan kejuruan menjadi bagian penting dalam menyiapkan tenaga kerja yang dapat memenuhi kebutuhan sektor energi bersih.
“Transformasi sekolah kejuruan adalah kunci. Saat ini kami mengawal integrasi kurikulum energi terbarukan di 5 SMK percontohan di Bali, mengubah paradigma dari sekadar teori menjadi praktik riil yang terhubung langsung dengan kebutuhan industri energi terbarukan,” katanya.
Selain integrasi kurikulum, penguatan sarana praktik dan peningkatan kompetensi serta sertifikasi guru juga menjadi bagian dari pendekatan yang dikembangkan. Dengan demikian, pembelajaran di sekolah diharapkan lebih relevan dengan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja.
2. Generasi Muda Diperkenalkan dengan Peluang Green Jobs

Dok.Istimewa Penguatan keterampilan perlu disertai pengenalan mengenai jenis pekerjaan dan jalur karier yang tersedia di sektor energi bersih. Melalui tema From Learning to Living, SHEB 2026 menghadirkan sesi “Ngobrolin Energi: Kenalan dengan Green Jobs di Sektor Energi Bersih” untuk memperkenalkan peluang karier, keterampilan yang dibutuhkan, serta pengalaman praktisi industri dan akademisi.
Kegiatan tersebut juga dilengkapi sesi pembelajaran kreatif, diskusi bersama komika dan kreator konten Bali Kak Onyot, Gerai Edukasi, serta Green Jobs Clinic. Melalui klinik tersebut, peserta berkesempatan berkonsultasi langsung dengan praktisi industri.
Pada 14 Oktober 2026, sebanyak 30 peserta yang terdiri atas siswa dan guru SMK, mahasiswa, serta instruktur pelatihan mengikuti kunjungan pembelajaran ke PLTS Bali Timur berkapasitas 25 MWp di Karangasem. Peserta mendapat kesempatan melihat pengoperasian pembangkit energi terbarukan sekaligus mengenal kompetensi dan pekerjaan yang dibutuhkan di sektor tersebut.
Rangkaian kegiatan juga mencakup Bali Renewable Energy Young Innovators (BREYI) 2026. Kompetisi ini diikuti 118 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dalam kategori inovasi teknologi dan inovasi sosial.
Empat finalis dari Universitas Udayana, Institut Teknologi Nasional Bandung, Universitas Negeri Semarang, dan Universitas Negeri Gorontalo mempresentasikan gagasan mereka di hadapan dewan juri dan peserta SHEB 2026. Selain itu, sembilan finalis kompetisi video edukasi PLTS bagi siswa SMK di Bali turut menampilkan karya mereka.
Berbagai kegiatan tersebut menjadi sarana pengenalan sektor energi terbarukan kepada generasi muda. Namun, pengenalan peluang karier perlu diikuti dengan akses pendidikan, pelatihan, dan sertifikasi agar keterampilan yang diperoleh dapat terhubung dengan kebutuhan dunia kerja.
3. Kolaborasi Industri Dibutuhkan untuk Menyiapkan Tenaga Kerja

Dok.Istimewa Selain pendidikan dan pengenalan karier, pengembangan pekerjaan hijau membutuhkan koordinasi antara pemerintah, industri, asosiasi, dan lembaga pendidikan. Karena itu, SHEB 2026 turut menghadirkan Policy Room atau Ruang Kebijakan untuk membahas kebutuhan keterampilan dan tenaga kerja dalam mendukung transisi energi.
Sejumlah asosiasi yang terlibat antara lain Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Asosiasi Energi Angin Indonesia (AEAI), Masyarakat Energi Biomassa Indonesia (MEBI), dan Asosiasi Pengembang Pembangkit Listrik Tenaga Air (APPLTA).
Masukan dari industri diperlukan agar kurikulum, pelatihan, dan sertifikasi sesuai dengan kebutuhan dunia usaha. Sebelum pelaksanaan Policy Room, pemerintah dan pemangku kepentingan yang tergabung dalam Tim Penguatan Peran Masyarakat dan Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia Bidang Energi Terbarukan telah merumuskan sejumlah rekomendasi awal.
Rekomendasi tersebut meliputi pengembangan regulasi daerah untuk memperkuat keterlibatan tenaga kerja lokal dalam proyek energi terbarukan, integrasi pembelajaran energi terbarukan di SMK, serta pengembangan program magang industri bagi siswa SMK dan mahasiswa.
Selain itu, rekomendasi mencakup peningkatan kompetensi dan sertifikasi guru serta calon tenaga kerja melalui kerja sama dengan industri, termasuk pengembangan Bursa Kerja Hijau atau Green Jobs Portal untuk menghubungkan tenaga kerja terampil dengan peluang kerja dan proyek energi bersih.
Tim tersebut dibentuk melalui Keputusan Gubernur Bali Nomor 494/03-M/HK/2026 tanggal 18 Mei 2026.
Melalui proyek GESIT, Bappenas dan GIZ bersama PKET, Pemerintah Provinsi Bali, industri, asosiasi, serta lembaga pendidikan mendorong penguatan hubungan antara pendidikan, kebutuhan dunia kerja, dan kebijakan pengembangan sumber daya manusia.
Pengembangan energi bersih pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi dan infrastruktur. Kesiapan tenaga kerja lokal juga menjadi bagian penting agar masyarakat, terutama generasi muda, dapat berpartisipasi dan memperoleh manfaat dari tumbuhnya sektor pekerjaan hijau.



















