Pakar ITB Ungkap Besarnya Potensi Geothermal Indonesia Capai 23,2 GW

Indonesia memiliki potensi panas bumi 23,2 GW, dengan Jawa Barat sebagai salah satu wilayah terbesar, tetapi kapasitas pembangkit yang dimanfaatkan baru sekitar 2,78 GW atau 10 persen.
Pakar ITB Lambok Hutasoit menjelaskan reservoir panas bumi umumnya berada di lapisan batuan berbeda dari akuifer dangkal, sehingga pemanfaatannya tidak otomatis menyedot air tanah masyarakat.
PLTP Kamojang di Jawa Barat beroperasi komersial sejak 1983 sebagai PLTP pertama Indonesia, memiliki lima unit pembangkit berkapasitas total 235 MW.
Bandung, IDN Times - Indonesia memiliki potensi energi panas bumi atau geothermal yang sangat besar karena berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Namun, pemanfaatan energi tersebut masih perlu ditingkatkan.
Pakar hidrogeologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Lambok M. Hutasoit mengatakan, Jawa Barat menjadi salah satu wilayah dengan potensi panas bumi terbesar di Indonesia. Menurutnya, masih banyak sumber daya panas bumi yang dapat dikembangkan di berbagai daerah.
"Banyak sekali. Potensi panas bumi Indonesia itu sangat besar. Di Indonesia, salah satu wilayah dengan potensi panas bumi paling besar adalah Jawa Barat. Provinsi-provinsi lain juga memiliki potensi panas bumi. Jadi, memang masih sangat banyak yang bisa dikembangkan," ujar Lambok melalui siaran pers, Sabtu (17/10/2026).
1. Reservoir panas bumi berbeda dengan air tanah

Ilustrasi Geotermal (Foto: IDN Times) Salah satu persoalan yang kerap menjadi perhatian masyarakat adalah kekhawatiran aktivitas PLTP dapat mengurangi ketersediaan air tanah. Lambok menjelaskan, kekhawatiran tersebut tidak bisa digeneralisasi karena kondisi setiap wilayah memiliki karakteristik geologi yang berbeda.
Reservoir panas bumi yang dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik, kata dia, umumnya berada pada lapisan batuan yang berbeda dengan akuifer dangkal yang menjadi sumber air bagi kebutuhan masyarakat.
"Reservoir panas bumi dengan akuifer air tanah itu kebanyakan tidak berhubungan secara langsung. Jadi, tidak bisa begitu saja dikatakan bahwa ketika reservoir panas bumi dimanfaatkan, air tanah di atasnya otomatis akan ikut tersedot," katanya.
2. Potensi panas bumi Indonesia mencapai 23,2 GW

salah satu keunggulan geotermal adalah baseload energy (YouTube.com/Pertamina) Lambok juga menjelaskan mengenai kedalaman pengeboran yang dilakukan dalam pengembangan panas bumi. Menurutnya, pengeboran hingga sekitar 2.000 meter masih berada di lapisan kerak bumi.
"Kalau dibandingkan dengan struktur bumi secara keseluruhan, kedalaman 2.000 meter itu tidak ada apa-apanya. Kalau kita berbicara mengenai kedalaman sampai ke inti bumi, itu jaraknya ribuan kilometer," katanya.
Indonesia masih memiliki peluang besar untuk meningkatkan pemanfaatan energi panas bumi. Lambok memperkirakan pemanfaatan panas bumi saat ini baru sekitar 10 persen dari keseluruhan potensi nasional.
Jawa Barat menjadi salah satu daerah dengan sumber daya panas bumi yang melimpah. Namun, pengembangan energi tersebut menurut Lambok perlu diiringi dengan edukasi publik agar masyarakat memahami karakteristik panas bumi, manfaatnya, serta bagaimana risiko lingkungan dan air dikelola.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), potensi energi panas bumi Indonesia mencapai 23,2 gigawatt (GW). Sementara itu, kapasitas panas bumi yang telah dimanfaatkan untuk pembangkit listrik baru sekitar 2,78 GW.
"Pemerintah dan perusahaan pengembang juga harus menjelaskan kondisi tersebut dengan baik kepada masyarakat. Bagaimana sistem panas buminya, bagaimana susunan lapisan batuannya, dan lapisan mana yang dimanfaatkan. Hal-hal seperti itu harus dijelaskan supaya masyarakat memahami kondisi yang sebenarnya," kata dia.
3. PLTP Kamojang sudah beroperasi sejak 1983

pabrik geotermal di Indonesia (YouTube.com/KementerianESDM) Salah satu contoh pengembangan panas bumi di Indonesia terdapat di Kamojang, Jawa Barat. PLTP Kamojang telah beroperasi secara komersial sejak 1983. Kawasan tersebut juga sempat dikunjungi Staf Khusus Wakil Presiden sekaligus Komisaris Pertamina Patra Niaga, Tina Talisa.
Dalam kunjungan tersebut, Tina melihat langsung proses produksi listrik dari energi panas bumi, termasuk pengelolaan air dan sistem pengeborannya.
Melalui akun Instagram pribadinya, Tina menjelaskan bahwa Kamojang merupakan PLTP pertama di Indonesia. Saat ini, fasilitas tersebut memiliki lima unit pembangkit dengan total kapasitas terpasang 235 megawatt (MW).
"Kamojang bukan hanya cerita tentang pembangkit listrik. Selama puluhan tahun, pengembangan panas bumi di sini tumbuh berdampingan dengan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya," tulis Tina melalui akun Instagram pribadinya.






















