Cuaca di Bandung Kian Panas? Ternyata Ada Faktor Iklim-Emisi Kendaraan

- Cuaca terik di Bandung Raya dipengaruhi posisi semu matahari dekat Jawa dan ekuator, terutama September–Oktober serta masa peralihan musim, yang meningkatkan intensitas radiasi.
- Minimnya awan konvektif membuat sinar matahari langsung mencapai permukaan; kombinasi suhu tinggi dan kelembapan turut memicu sensasi gerah atau ngelekeb.
- BMKG mencatat kecenderungan kenaikan suhu jangka panjang di Bandung, terkait dinamika iklim global, pertumbuhan permukiman, dan peningkatan emisi kendaraan di kawasan perkotaan.
Bandung, IDN Times - Cuaca terik belakangan terasa menyengat di sejumlah wilayah Bandung Raya. Suhu udara yang cukup tinggi ditambah paparan sinar matahari langsung membuat aktivitas di luar ruangan terasa lebih panas dari biasanya.
Prakirawan cuaca dari BMKG Bandung, Edi Wibowo, menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari posisi gerak semu matahari, minimnya tutupan awan, hingga kelembapan udara. Selain itu, tren kenaikan suhu dalam jangka panjang juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.
Pada periode tertentu, khususnya September hingga Oktober dan saat peralihan musim, posisi gerak semu matahari berada tepat di atas atau dekat dengan wilayah Jawa dan sekitar ekuator.
"Kondisi ini membuat intensitas radiasi matahari yang diterima permukaan bumi menjadi lebih optimal," kata dia melalui keterangan resmi dikutip IDN Times, Jumat (16/10/2026).
Akibatnya, paparan panas matahari pada siang hari dapat terasa lebih menyengat dibandingkan periode lainnya. Minimnya tutupan awan juga berpengaruh terhadap kondisi tersebut. Ketika pertumbuhan awan konvektif pada siang hari terbatas, sinar matahari dapat langsung mencapai permukaan bumi tanpa banyak terhalang awan.
Kondisi langit yang cerah atau cerah berawan membuat paparan sinar matahari terasa lebih kuat. Masyarakat pun dapat merasakan panas yang menyengat ketika beraktivitas di luar ruangan.
Selain itu, kombinasi temperatur tinggi dan kelembapan udara turut memengaruhi kenyamanan masyarakat. Kondisi ini dapat menimbulkan sensasi gerah atau yang akrab disebut warga Bandung sebagai ngelekeb.
"Situasi tersebut dapat terjadi menjelang masa peralihan musim atau ketika suatu wilayah masih berada dalam pengaruh periode kemarau," papar Edi.
Dia juga memaparkan bahwa kondisi suhu udara di Bandung dalam jangka panjang menunjukkan kecenderungan meningkat secara bertahap. Tren tersebut berkaitan dengan dinamika iklim global serta perkembangan kawasan perkotaan.
"Pertumbuhan permukiman dan peningkatan emisi kendaraan turut menjadi faktor yang memengaruhi kondisi lingkungan perkotaan. Perubahan lingkungan ini dapat memperkuat sensasi panas yang dirasakan masyarakat di sejumlah kawasan," ungkapnya.
Dengan demikian, cuaca terik yang dirasakan warga Bandung Raya tidak hanya berkaitan dengan posisi matahari dan kondisi awan pada hari tertentu, tetapi juga dipengaruhi kelembapan udara serta perubahan iklim dan lingkungan dalam jangka panjang.



















