Isi Dompet Makin Tipis, Inflasi Cirebon Tembus 3 Persen

- Inflasi tahunan Kota Cirebon pada Oktober 2026 mencapai 3,02 persen, dengan IHK naik dari 107,64 menjadi 110,89; inflasi bulanan tercatat 0,26 persen.
- Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil 1,48 persen, dipicu antara lain oleh beras, bensin, biaya pendidikan, cabai rawit, dan SKM.
- Pendidikan mencatat kenaikan indeks tahunan tertinggi 4,77 persen, sementara inflasi bulanan terutama didorong cabai merah, cabai rawit, tomat, tauge, beras, dan bawang merah.
Cirebon, IDN Times - Laju kenaikan harga barang dan jasa di Kota Cirebon, Jawa Barat, terus berlanjut. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) pada Oktober 2026 mencapai 3,02 persen.
Kenaikan tersebut tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Cirebon yang bergerak dari 107,64 pada Oktober 2025 menjadi 110,89 pada Oktober 2026.
Kepala BPS Kota Cirebon, Samiran mengatakan perkembangan harga berbagai komoditas di Kota Cirebon selama Oktober 2026 secara umum menunjukkan kenaikan.
“Selain inflasi tahunan, Kota Cirebon juga mengalami inflasi bulanan atau month-to-month (m-to-m) sebesar 0,26 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender atau year-to-date (y-to-d) tercatat sebesar 2,43 persen,” kata Samiran, Selasa (3/11/2026).
1. Beras dan bensin beri tekanan

Harga pangan Berdasarkan kelompok pengeluaran, makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu penyumbang terbesar inflasi tahunan. Kelompok ini mengalami kenaikan harga sebesar 4,56 persen dengan andil inflasi mencapai 1,48 persen.
Sejumlah komoditas yang memberikan kontribusi terhadap inflasi tahunan antara lain beras, bensin, biaya akademi atau perguruan tinggi, cabai rawit, serta Sigaret Kretek Mesin (SKM).
Selain itu, minyak goreng, pepaya, daging sapi, kangkung, bakso siap santap, dan daging ayam ras juga masuk dalam daftar 15 komoditas dengan andil inflasi terbesar.
Kenaikan harga komoditas tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya indeks pada seluruh kelompok pengeluaran. Kondisi ini menunjukkan tekanan harga tidak hanya berasal dari kebutuhan pangan, tetapi juga sejumlah barang dan jasa lainnya.
2. Pendidikan dan transportasi ikut naik

ilustrasi pria modern bersepeda sebagai moda transportasi ramah lingkungan (pexels.com/Vitaly Gariev) Kelompok pendidikan mencatat kenaikan indeks tahunan tertinggi, yakni 4,77 persen. Disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 4,56 persen serta kelompok transportasi sebesar 4,25 persen.
Meski demikian, besarnya kenaikan indeks tidak selalu berbanding lurus dengan kontribusi terhadap inflasi keseluruhan.
Kelompok transportasi memberikan andil inflasi sebesar 0,42 persen, sedangkan pendidikan menyumbang 0,25 persen. Adapun kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran memberikan kontribusi sebesar 0,47 persen.
Kelompok kesehatan mengalami kenaikan 3,58 persen, diikuti penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 3,05 persen. Sementara itu, perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga naik 2,50 persen.
Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan meningkat 1,67 persen, pakaian dan alas kaki 1,61 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,90 persen.
Adapun kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami kenaikan paling rendah, yakni 0,16 persen.
3. Cabai hingga tomat dorong inflasi bulanan

ilustrasi cabai merah dan rempah-rempah untuk makanan pedas (pexels.com/Jana Ohajdova) Sementara itu harga juga terlihat dalam perkembangan bulanan. Inflasi m-to-m Kota Cirebon pada Oktober 2026 mencapai 0,26 persen.
Sejumlah komoditas yang memberikan andil inflasi bulanan terbesar didominasi bahan pangan. Cabai merah dan cabai rawit menjadi dua komoditas yang masuk dalam daftar utama penyumbang inflasi. Komoditas lainnya meliputi tomat, tauge atau kecambah, beras, pisang, es, pepaya, ketimun, dan bawang merah.
Selain bahan pangan, biaya fotokopi, mobil, mi kering instan, labu siam, serta sop juga masuk dalam daftar 15 komoditas penyumbang inflasi bulanan terbesar.
Sebaliknya, sejumlah komoditas memberikan andil deflasi. Daging ayam ras dan tempe menjadi komoditas yang masuk dalam daftar penyumbang deflasi terbesar, disusul obat dengan resep, jeruk, buah naga, serta jagung manis.
BPS mencatat tidak ada kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks secara tahunan di Kota Cirebon pada Oktober 2026. Seluruh sebelas kelompok pengeluaran memberikan andil terhadap inflasi tahunan. Selain makanan, transportasi, pendidikan, dan restoran, kelompok perlengkapan rumah tangga menyumbang 0,11 persen.
Kelompok kesehatan memberikan andil 0,08 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,07 persen, serta pakaian dan alas kaki sebesar 0,05 persen.
Sementara itu, perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang 0,04 persen, perumahan 0,03 persen, serta rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,02 persen.






















