Bandara Kertajati Kalah Telak, Husein Kuasai 98 Persen Penumpang

Keberangkatan penumpang domestik Jawa Barat mencapai 18.093 orang pada September 2026, naik 63,22 persen dari Agustus, terutama setelah sejumlah rute Bandara Husein Sastranegara dibuka kembali.
Bandara Husein Sastranegara mengangkut 17.829 penumpang atau 98,54 persen total keberangkatan lima bandara, sedangkan Kertajati hanya melayani 15 penumpang.
Secara tahunan, penumpang domestik melonjak 4.699,20 persen dari 377 orang pada September 2025, namun aktivitas penerbangan komersial masih belum merata di lima bandara Jawa Barat.
Majalengka, IDN Times - Aktivitas penerbangan domestik di Jawa Barat masih terkonsentrasi di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka belum menunjukkan tingkat keberangkatan penumpang yang sebanding, meskipun keduanya menjadi bagian dari infrastruktur transportasi udara di Jawa Barat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, jumlah penumpang penerbangan domestik yang berangkat melalui angkutan udara komersial pada September 2026 mencapai 18.093 orang. Angka tersebut meningkat 63,22% dibandingkan Agustus 2026 yang tercatat sebanyak 11.085 orang.
Kepala BPS Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati mengatakan peningkatan jumlah penumpang tersebut terutama dipengaruhi pembukaan kembali sejumlah rute penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara.
1. Husein angkut 17.829 penumpang

Penumpang Pesawat di Bandara Husein Terus Tumbuh Capai 2.000 Orang per Hari. IDN Times/Debbie Sutrisno Bandara Husein Sastranegara mencatat keberangkatan sebanyak 17.829 penumpang domestik pada September 2026. “Jumlah tersebut setara dengan sekitar 98,54% dari total penumpang berangkat melalui lima bandara yang diamati,” kata Margaretha, Selasa (3/11/2026).
Sementara itu, Bandara Nusawiru di Kabupaten Pangandaran mencatat 241 penumpang. Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka berada jauh di bawahnya dengan 15 penumpang.
Adapun Bandara Cakrabhuwana Penggung di Kota Cirebon mencatat delapan penumpang. Sementara itu, Bandara Wiriadinata di Kota Tasikmalaya tidak mencatat keberangkatan penumpang selama September 2026.
2. Kertajati tertinggal jauh

BIJB Kertajati Majalengka (IDN Times/Inin Nastain) Rendahnya jumlah keberangkatan penumpang dari Kertajati menjadi catatan tersendiri dalam perkembangan transportasi udara Jawa Barat.
Pada September 2026, bandara yang berada di Kabupaten Majalengka tersebut hanya melayani 15 penumpang berangkat. Jumlah itu terpaut 17.814 penumpang dibandingkan Husein Sastranegara.
Jika dilihat dari kontribusinya terhadap total keberangkatan penumpang domestik di lima bandara, porsi Kertajati hanya sekitar 0,08%. Sebaliknya, Husein menyumbang hampir seluruh aktivitas keberangkatan penumpang.
Data tersebut menunjukkan aktivitas penerbangan domestik di Jawa Barat pada September 2026 masih didominasi Bandara Husein, meskipun Kertajati merupakan salah satu bandara yang melayani penerbangan komersial domestik.
BPS mencatat peningkatan jumlah penumpang secara umum tidak terlepas dari dibukanya kembali sejumlah rute penerbangan dari Husein Sastranegara.
3. Penumpang Melonjak 4.699%

Inin Nastain IDN Times/ BIJB Kertajati Majalengka Secara tahunan, perkembangan angkutan udara domestik Jawa Barat juga menunjukkan peningkatan sangat tinggi.
Jumlah penumpang berangkat pada September 2025 hanya tercatat sebanyak 377 orang. Setahun kemudian, angkanya meningkat menjadi 18.093 orang atau tumbuh 4.699,20%.
Kenaikan tersebut sejalan dengan bertambahnya aktivitas penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara yang menjadi penyumbang terbesar jumlah penumpang pada periode laporan.
Meski demikian, data tersebut belum memperlihatkan pemerataan aktivitas penerbangan komersial di seluruh bandara yang diamati BPS.
BPS Jawa Barat mengamati lima bandara yang melayani penerbangan sebagai sarana transportasi udara di provinsi tersebut. Seluruhnya melayani penerbangan domestik atau perjalanan dalam negeri.
Kelima bandara tersebut meliputi Husein Sastranegara di Kota Bandung, Kertajati di Kabupaten Majalengka, Nusawiru di Kabupaten Pangandaran, Cakrabhuwana Penggung di Kota Cirebon, serta Wiriadinata di Kota Tasikmalaya.



















