Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Banjir-El Nino Bikin Produksi Beras Jabar Turun 8,16 Persen di 2026

Kota Bandung
3 min read
Banjir-El Nino Bikin Produksi Beras Jabar Turun 8,16 Persen di 2026
Ilustrasi beras Bulog. IDN Times/Hendra Simanjuntak
  • BPS Jawa Barat memperkirakan produksi beras 2026 mencapai 5,42 juta ton dari 9,39 juta ton gabah kering giling, turun 8,16 persen dibandingkan 2025.

  • Banjir di sentra pertanian Pantura pada awal tahun dan kekeringan akibat El Niño pada pertengahan tahun menekan aktivitas pertanian serta produktivitas padi dan jagung.

  • Produksi jagung diproyeksikan turun 2,20 persen menjadi 777,30 ribu ton; sementara beras premium dan cabai menjadi komoditas yang dipantau terkait stok serta harga.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Produksi beras di Jawa Barat diperkirakan mengalami penurunan sepanjang 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat produksi padi dalam bentuk gabah kering giling (GKG) tahun ini diperkirakan mencapai 9,39 juta ton atau setara 5,42 juta ton beras.

Angka tersebut tercatat mengalami penurunan sekitar 8,16 persen dibandingkan produksi tahun 2025. Penurunan dipengaruhi sejumlah faktor cuaca ekstrem, mulai dari banjir di kawasan sentra pertanian Pantai Utara (Pantura) pada awal tahun hingga kekeringan akibat fenomena El Niño pada pertengahan 2026.

  1. 1. Penyebabnya adalah cuaca ekstrem

    Ilustrasi beras di gudang bulog (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)
    Ilustrasi beras di gudang bulog (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)

    Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, mengatakan angka produksi tersebut merupakan data sementara berdasarkan pemutakhiran luas baku sawah (LBS) parsial 2025.

    "Angka ini mengalami koreksi atau penurunan sekitar 8,16 persen dibanding tahun 2025, yang dipengaruhi oleh faktor cuaca ekstrem seperti banjir di sentra Pantura pada awal tahun serta kekeringan akibat El NiNo di pertengahan tahun," kata Ari dalam rilis Berita Resmi Statistik (BRS), dikutip Selasa (3/11/2026).

  2. 2. Terdapat banjir di wilayah Pantura Jawa Barat

    Ilustrasi beras di pasar (IDN Times/Shemi)
    Ilustrasi beras di pasar (IDN Times/Shemi)

    BPS memperkirakan luas panen padi Jawa Barat pada 2026 mencapai 1.632,81 ribu hektare. Dari luas panen tersebut, produksi gabah kering giling diperkirakan mencapai 9.391,81 ribu ton. Jumlah itu setara dengan produksi beras sekitar 5.423,60 ribu ton.

    "Penurunan produksi tidak hanya terjadi pada komoditas padi. BPS Jabar juga memperkirakan produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen pada 2026 mencapai 777,30 ribu ton," kata dia.

    Angka tersebut turun sekitar 2,20 persen dibandingkan produksi tahun sebelumnya. Sementara itu, luas panen jagung pipilan diperkirakan mencapai 105,25 ribu hektare. Secara keseluruhan pertanian dua komoditas tersebut mengalami penurunan karena dampak banjir dan kekeringan.

    "Banjir di wilayah Pantura mengganggu aktivitas pertanian pada awal tahun, sementara kekeringan pada pertengahan tahun turut menekan produktivitas tanaman," kata dia.

  3. 3. Selain beras ada beberapa komoditas lain yang panenannya menurun

    Ilustrasi Beras di Pasar (IDN Times/Besse Fadhilah)
    Ilustrasi Beras di Pasar (IDN Times/Besse Fadhilah)

    Di sisi lain, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat, Linda Al Amin sebelumnya mengungkapkan, ada beberapa komoditas pangan yang menjadi salah satu pemicu inflasi bersama beras pada September 2026.

    Dia mengatakan, cabai rawit merah, cabai merah keriting, dan beras premium merupakan komoditas yang diperhatikan peredaran dan stok ketersediaannya.

    "Komoditas yang paling perlu mendapat perhatian di Jawa Barat saat ini adalah cabai rawit merah, cabai merah keriting, dan beras premium," kata Linda dalam keterangannya, Rabu (7/10/2026).

    Berdasarkan data Panel Harga Pangan per 7 Oktober 2026, harga rata-rata cabai rawit merah mencapai Rp80.013 per kilogram. Angka tersebut jauh melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) yang berada pada kisaran Rp40.000 hingga Rp57.000 per kilogram.

    Linda menambahkan, dalam beberapa hari terakhir, harga cabai rawit merah bahkan bergerak sangat fluktuatif di rentang Rp60.667 hingga Rp100.000 per kilogram.

    "Artinya, komoditas hortikultura menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi," kata dia.

Related Articles

See More