Menepis Batas, Penyandang Down Syndrome di Bandung Menjadi Barista

Hagya Cafe and Roostery di Bandung membuka pekerjaan part-time bagi penyandang disabilitas, yang terlibat meracik kopi, menyajikan pesanan, dan melayani pelanggan.
Vania Sawiasa, 27 tahun, bekerja sebagai barista setelah belajar membuat kopi; penghasilannya dipakai untuk kebutuhan dan tabungan, serta ia bercita-cita memiliki kedai kopi sendiri.
Lima penyandang disabilitas bekerja di Hagya Cafe, didukung magang, pendampingan POTADS, serta pelatihan dan peralatan dari program TJSL PLN Pusherlis.
Bandung, IDN Times - Kesempatan bekerja setelah lulus sekolah masih menjadi tantangan bagi penyandang disabilitas, termasuk mereka yang memiliki down syndrome. Namun, Hagya Cafe and Roostery di Kelurahan Pasirkaliki, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, membuka ruang kerja bagi penyandang disabilitas untuk bisa berdya.
Di kafe tersebut, teman-teman istimewa terlibat langsung dalam aktivitas operasional, mulai dari meracik kopi, menyajikan pesanan hingga melayani pelanggan. Mereka tidak sekadar mengikuti pelatihan, tetapi juga mendapatkan kesempatan bekerja dengan sistem kontrak part-time.
Salah satunya Vania Sawiasa. Perempuan asal Bandung ini mengaku senang bekerja sebagai barista di Hagya Cafe karena bisa bertemu banyak teman sekaligus mengembangkan kemampuannya meracik kopi.
"Senang. Banyak teman-teman," kata Vania saat ditemui di Hagya Cafe.
1. Vania ingin punya kedai kopi sendiri

Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil Bagi Vania, bekerja sebagai barista di Hagya Cafe bukan hanya soal untuk mendapatkan penghasilan. Pekerjaan tersebut menjadi momentum ruang untuk mengembangkan keterampilan dan berinteraksi dengan orang lain.
Perempuan berusia 27 tahun itu mengaku senang bisa bekerja bersama teman-temannya. Ia juga sudah mampu membuat sejumlah menu kopi dan mengantarkan pesanan langsung kepada pelanggan.
Beberapa menu yang biasa dibuatnya antara lain kopi tubruk, kopi gula aren, dan kopi hitam. Sementara untuk minuman kesukaannya, Vania memilih kopi susu dan kopi hitam. Semua pesanan itu dia bisa mengerjakannya sendiri karena sudah memiliki ilmunya.
"Sebelum bekerja di Hagya Cafe, Vania pernah mengikuti les untuk belajar membuat kopi," ucapnya.
Penghasilan dari pekerjaannya pun mulai ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan menabung. Salah satu barang yang pernah dibelinya dari hasil bekerja adalah tumbler. Ketika ditanya mengenai cita-citanya, Vania mengaku ingin memiliki kedai kopi sendiri.
"Saya ingin punya kedai kopi sendiri," ujarnya.
2. Lima penyandang disabilitas mendapat kesempatan bekerja di Hagya Cafe

Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil Founder Hagya Coffee and Roostery sekaligus pengurus Yayasan Matahati Luar Biasa, Handy Santika mengatakan, keterlibatan penyandang disabilitas di kafenya berangkat dari persoalan yang kerap dihadapi setelah menyelesaikan pendidikan.
Menurutnya, banyak penyandang disabilitas yang sudah mendapatkan pendidikan dan pelatihan, tetapi masih kesulitan menemukan tempat untuk mengembangkan kemampuan maupun mendapatkan pekerjaan.
"Permasalahan disabilitas itu, setelah mereka lulus sekolah, mereka mau ke mana?" ujar Hady.
Berangkat dari persoalan tersebut, ia mencoba membuka kesempatan kerja melalui Hagya Coffee Roostery. Sebelum bekerja, para calon pekerja menjalani masa magang selama satu bulan untuk melihat kemampuan dan potensi masing-masing.
Hasil evaluasi selama magang kemudian menjadi pertimbangan untuk memberikan kontrak kerja part-time selama tiga bulan. Namun, sejumlah pekerja yang bergabung sejak awal masih bertahan hingga hampir satu tahun.
"Ada lima penyandang disabilitas yang bekerja part-time. Empat di antaranya telah memiliki kontrak kerja, sementara satu pekerja lainnya bertugas di bagian dapur dan merupakan penyandang tunarungu," ujarnya.
Selain pekerja yang sudah bergabung, ada sekitar enam penyandang disabilitas yang baru mulai menjalani proses magang. Hady mengakui, proses adaptasi pada awalnya tidak selalu mudah. Karena itu, ia sempat mendapatkan pendampingan dari Persatuan Orang Tua dan Anak dengan Down Syndrome (POTADS) untuk memahami cara berkomunikasi dan berinteraksi dengan pekerja.
"Awalnya memang agak sulit, karena belum tahu, belum bisa beradaptasi. Makanya ada pendampingan dulu dari POTADS. Dikasih tahu caranya beradaptasi dengan mereka. Tapi itu hanya berlangsung satu minggu," katanya.
Setelah proses pendampingan, para pekerja mulai terbiasa dengan lingkungan kerja. Hady juga menerapkan pendekatan yang lebih santai melalui humor dan apresiasi agar mereka tetap percaya diri.
"Ternyata ada beberapa trik pendekatan harus difun-kan, harus humor, dan harus diapresiasi agar tetap semangat," ujarnya.
3. PLN Peduli memberikan pelatihan hingga dukungan peralatan

Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil Upaya pemberdayaan di Hagia Cafe juga mendapat dukungan dari PT PLN melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Pusherlis.
Senior Manager Keuangan, Komunikasi, dan Umum PLN Pusherlis, Sumarni, mengatakan, dukungan tersebut diberikan melalui program TJSL Empower 2024. Program ini menyasar masyarakat di sekitar lingkungan kantor PLN Pusherlis, termasuk kelompok penyandang disabilitas di Hagia Cafe.
Menurutnya, penyandang disabilitas memiliki potensi untuk mengembangkan kemampuan dan menghasilkan produk ekonomi kreatif apabila mendapatkan kesempatan serta pendampingan yang tepat.
"Saya rasa mereka ini sangat prospektif di tengah keterbatasan. Tetapi mereka bisa menunjukkan semangat, mereka bisa dipekerjakan di Hagia Cafe ini bersama masyarakat pada umumnya. Itu yang menarik bagi kami untuk menyalurkan bantuan ini kepada mereka," kata Sumarni.
Dukungan yang diberikan tidak hanya berupa bantuan dana, tetapi juga pelatihan keterampilan. Beberapa di antaranya pelatihan membatik, bakery, pastry, pengembangan UMKM hingga pemasaran digital.
PLN juga memberikan dukungan peralatan yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan pelatihan tersebut..Sumarni berharap, keterampilan yang diperoleh para peserta bisa dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi dan memiliki peluang untuk dipasarkan lebih luas.
"Goals-nya adalah bahwa mereka di tengah keterbatasan, sebagai individu dan sebagai mereka yang harus bersosial, mereka mempunyai semangat yang sama dengan kita. Dapat berkreasi, dapat memberikan karya-karya terbaik mereka, untuk nantinya juga bisa memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat di sekitarnya," kata dia.























