Pesta Pernikahan Putar Uang Rp81,6 Triliun, Kalahkan Konser Dunia

Kemenekraf memperkirakan pesta pernikahan memutar Rp81,6 triliun per tahun, berdasarkan sekitar 1,45 juta pernikahan dan asumsi belanja Rp85 juta per hajatan.
Sektor musik diproyeksikan menyerap 9 persen dari ekonomi hajatan, atau Rp7,34 triliun, melalui organ tunggal, dangdut, koplo, musisi lokal, dan pekerja pertunjukan.
Konser internasional diperkirakan menghasilkan Rp11,8 triliun, sementara kegiatan komunitas Rp3,75 triliun; pemerintah didorong memperhatikan musisi lokal serta standar tata suara.
Bandung, IDN Times - Pesta pernikahan ternyata menjadi salah satu penggerak ekonomi terbesar dalam industri event di Indonesia. Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) memperkirakan perputaran uang dari hajatan pernikahan mencapai Rp81,6 triliun setiap tahun, melampaui kontribusi konser musisi internasional.
Temuan tersebut dipaparkan Direktur Musik Kemenekraf/Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) RI, Mohammad Amin, dalam diskusi ekosistem musik nasional di The Hallway Space, Kosambi, Kota Bandung, Selasa (3/11/2026).
Menurut Amin, besarnya kontribusi ekonomi dari pesta pernikahan selama ini belum banyak diperhitungkan. Padahal, hajatan keluarga yang menghadirkan organ tunggal, dangdut hingga musik koplo turut menggerakkan banyak pelaku usaha dan pekerja di industri musik.
"Dari ketiga jenis event ini, mana yang paling besar memberikan dampak terhadap perekonomian kita? Banyak yang mengira konser musisi dunia. Namun, data simulasi justru menunjukkan kekuatan ekonomi musik rakyat yang luar biasa dari pesta perkawinan," kata Amin.
1. Pesta pernikahan menghasilkan stimulus ekonomi Rp81,6 triliun

Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil Amin menjelaskan, estimasi tersebut mengacu pada jumlah pernikahan di Indonesia yang mencapai sekitar 1,45 juta pasangan setiap tahun berdasarkan data Kantor Urusan Agama (KUA).
Dari jumlah tersebut, sekitar 40 persen generasi Z disebut memilih melangsungkan pernikahan di KUA tanpa menggelar pesta besar. Meski begitu, pasangan yang tetap mengadakan hajatan masih memberikan potensi perputaran ekonomi dalam jumlah besar.
Amin menggunakan asumsi biaya hajatan sebesar Rp85 juta untuk setiap pernikahan. Berdasarkan simulasi yang dipaparkannya, total stimulus ekonomi dari kegiatan tersebut diperkirakan mencapai Rp81,6 triliun per tahun.
"Saya orang Sulawesi. Perkawinan di kampung kami biayanya bisa mencapai Rp85 juta ke atas karena ada adat uang panai. Menggunakan angka moderat belanja Rp85 juta per perhelatan hajatan keluarga, total stimulus ekonomi yang berputar mencapai Rp81,6 triliun," kata dia.
2. Konser internasional menghasilkan stimulus Rp11,8 triliun

Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil Dari total perputaran uang tersebut, sektor musik diperkirakan menyerap sekitar 9 persen atau setara Rp7,34 triliun. Serapan itu berasal dari berbagai hiburan yang biasa dihadirkan dalam pesta pernikahan, mulai dari organ tunggal, pertunjukan dangdut hingga musik koplo.
Besarnya potensi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas musik tidak hanya bertumpu pada konser berskala besar. Panggung hiburan dalam hajatan masyarakat juga menjadi ruang ekonomi bagi musisi lokal, penyedia peralatan suara, hingga pekerja pertunjukan.
Di sisi lain, Amin juga memaparkan perhitungan ekonomi dari konser internasional atau mega event yang menghadirkan musisi dunia. Dalam simulasinya, terdapat sekitar 104 konser internasional yang digelar di Indonesia setiap tahun.
"Dengan rata-rata biaya penyelenggaraan mencapai Rp113 miliar per acara, total stimulus ekonomi yang dihasilkan diperkirakan sebesar Rp11,8 triliun," kata dia.
Namun, tidak seluruh perputaran uang tersebut masuk ke sektor musik. Amin memperkirakan serapan langsung industri musik hanya sekitar 60 persen atau setara Rp7 triliun.
Sementara itu, sebagian dana lainnya mengalir ke sektor pendukung, seperti perhotelan, transportasi penerbangan, logistik, perizinan, dan akomodasi.
3. Panggung desa dan komunitas juga menggerakkan ekonomi musik

Ilustrasi konser musik (IDN Times/Achmad Hidayat Alsair) Selain hajatan pernikahan dan konser internasional, Amin membagi pertunjukan musik ke dalam kategori major events dan kegiatan lokal atau komunitas.
Untuk major events, termasuk festival musik dan agenda Karisma Event Nusantara (KEN), terdapat sekitar 184 kegiatan yang diperkirakan berlangsung setiap tahun. Kegiatan tersebut menghasilkan stimulus ekonomi sekitar Rp150 miliar, dengan potensi serapan sektor musik sebesar 40 persen atau setara Rp60 miliar.
Sementara itu, kegiatan komunitas seperti pentas seni tingkat rukun tetangga, karang taruna, hingga panggung perayaan desa juga memiliki kontribusi tersendiri.
Dengan estimasi 250 ribu kegiatan setiap tahun dan rata-rata belanja Rp15 juta per acara, stimulus ekonomi dari kegiatan komunitas diperkirakan mencapai Rp3,75 triliun. Adapun potensi serapan sektor musik mencapai Rp286 miliar.
Melihat potensi tersebut, Amin mendorong pemerintah memberikan perhatian terhadap keberlangsungan musisi lokal dan penyelenggara pertunjukan rakyat. Salah satu hal yang disorot adalah peningkatan standar tata suara dalam pertunjukan musik.
"Kanye West dan konser-konser megah internasional bukan satu-satunya generator dalam industri musik kita. Musik rakyat, panggung desa, dan hajatan keluarga adalah urat nadi perputaran ekonomi yang nyata dan wajib kita rawat mutunya," kata Amin.



















