Kronologi Munculnya Kopdes Merah Putih di Stone Garden Bandung Barat

- Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Gunung Masigit, Bandung Barat, viral karena dibangun di area geowisata Stone Garden yang dianggap jauh dari akses warga.
- Kepala Desa Tarkopa menjelaskan lokasi KDMP berada di bawah Gunung Masigit dan dipilih oleh PT Agrinas Pangan Nusantara setelah menilai lima usulan lahan desa.
- Camat Cipatat menyebut lahan parkir Stone Garden dipilih karena satu-satunya tanah kas desa yang memenuhi syarat luas dan datar untuk pembangunan KDMP.
Bandung, IDN Times - Keberadaan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) viral di media sosial, karena lokasinya berada di area geowisata Stone Garden. Tempatnya pun cukup jauh dari akses masyarakat sekitar.
Area geowisata Stone Garden ini merupakan gunung kapur, dan gedung KDMP tersebut berada di area parkir kendaraan objek wisata tersebut. Kepala Desa Gunung Masigit, Tarkopa membeberkan kronologi mengapa akhirnya dibangun Kopdes di area geowisata ini.
Dia mengklaim, lokasi Kopdes ini sebenarnya tidak berada di wilayah gunung kapur, melainkan di bawahnya. Selama proses pembangunan pun, kata dia, tidak menggangu area parkir kendaraan.
"Posisinya di bawah Gunung Masigit, di lapang parkir Stone Garden. Dan pembangunan itu tidak mengganggu lapang parkir karena memang diatur jangan sampai posisinya ada di tengah-tengah. Ke permukiman juga tidak terlalu jauh," ungkap Tarkopa, Selasa (7/7/2026).
1. Dari lima usulan hanya kawasan Stone Garden yang disetujui PT Agrinas

Sebelum akhirnya dipilih sebagai tempat KDMP, Tarkopa menjelaskan, pihaknya sudah terlebih dahulu mengusulkan beberapa lokasi yang bisa dijadikan kopdes merah putih ke PT Agrinas Pangan Nusantara sebagai penanggung jawab program Presiden Prabowo ini.
Total ada lima bidang tanah carik desa yang diusulkan kepada PT Agrinas Pangan Nusantara. Adapun lima lokasi ini yaitu, kawasan Stone Garden, Liung Gunung, Cigintung, Cihalimun, dan Cicalada.
"Saya tunjukkan ada beberapa titik carik desa. Di antaranya Stone Garden di RW 9 Girimulya, kemudian Liung Gunung, Cigintung, Cihalimun, dan Cicalada. Setelah dilakukan pengecekan oleh PT Agrinas, yang dianggap paling ideal ya lokasi di Stone Garden," ujar Tarkopa.
2. Bantah lokasinya di atas gunung

Setelah dilakukan pengusulan, PT Agrinas Pangan Nusantara yang merupakan perusahaan pelat merah ini memilih kawasan Stone Garden untuk dibangun KDMP. Tarkopa mengatakan, pemerintah desa mau tidak mau menyetujui karena lahan tersebut yang dinilai layak dan sesuai ketentuan.
"Jadi pemerintah desa hanya sampai ke situ. Secara jujur itu tidak di atas gunung. Di bawah, di antara Gunung Masigit dan Stone Garden," kata Tarkopa.
Dia memastikan, bangunan Kopdes itu saat ini progresnya sudah hampir selesai dan nantinya bisa segera beroperasi. Tarkopa juga berharap koperasi ini bisa membantu UMKM sekitar.
"Harapan saya nantinya bisa berkolaborasi dengan pihak Pokdarwis karena Stone Garden itu dikelola oleh Pokdarwis. Nanti warung-warung yang ada di kawasan wisata bisa disuplai oleh Kopdes," jelasnya.
3. Keputusan lokasi tanggungjawab pemerintah pusat

Sementara, Camat Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Herman Permadi mengatakan, lokasi area parkir Stone Garden ini dipilih karena memang Desa Gunung Masigit tidak memiliki lahan lainnya. Sehingga, sesuai aturan program tersebut, dibangun di area tersebut.
"Jadi begini. Aturannya kan KDMP itu harus dibangun di tanah desa, yaitu tanah kas desa. Tidak bisa di tanah yang lain. Nah, di Gunung Masigit sudah tidak punya tanah kas desa lagi selain yang ada di dekat Stone Garden, yang selama ini dipakai sebagai lahan parkir," ujar Herman saat dikonfirmasi, Senin (6/7/2026).
Berdasarkan data yang diketahuinya, salah satu syarat lokasi KDMP ini selain harus di tanah desa, luasnya wajib 1.000 meter persegi.
"Akhirnya dipilih lokasi yang memang tersedia, datar, dan memenuhi syarat. Sebenarnya kami juga mencoba mengusulkan lokasi lain. Pak Kades juga berupaya mencari alternatif, tetapi tidak diterima karena lokasinya miring. Yang diminta harus lahan yang datar," katanya.
Lebih lanjut, mengenai jumlah penduduk di Desa Gunung Masigit, Herman mengatakan total ada sekitar 22 ribu jiwa yang mana penduduknya tersebar di beberapa RW, dan tidak terkumpul di satu lokasi. Adapun total untuk KDMP di wilayah Cipatat ditargetkan ada di semua desa.
"Kami memiliki 12 desa. Rencananya setiap desa ada satu KDP, jadi total 12. Namun yang lahannya sudah tersedia baru Gunung Masigit, Kertajaya, Cipatat, Ciaruamekar, dan Nyalindung. Jadi baru lima desa," kata Herman.
"Yang lain masih terkendala karena tidak memiliki tanah kas desa. Misalnya Rajamandala sudah tidak punya tanah kas desa, begitu juga Mandalamukti. Jadi kami masih kebingungan mencari lahannya," sambungnya.

















