Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kasus DBD di Kota Cimahi Sudah Lampaui Jumlah Sepanjang Tahun 2023

Kasus DBD di Kota Cimahi Sudah Lampaui Jumlah Sepanjang Tahun 2023
Fogging untuk mengantisipasi wabah DBD di Jakarta Selatan. (IDN Times/Dwi Agustiar)
Share Article

Cimahi, IDN Times - Kasus Demam Berdarah Dangue (DBD) di Kota Cimahi, Jawa Barat tahun ini cukup tinggi. Jumlahnya mencapai 440 kasus yang terdata hingga pekan kedua April ini. Jumlah itu tersebut sudah melebihi kasus DBD yang terdata sepanjang tahun 2023.

"Sampai April minggu ke-2 ada 440 kasus DBD. Jumlahnya naik dua kali lipat bahkan sudah melebihi jumlah sepanjang tahun 2023 yang mencapai 363 kasus," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular pada Dinas Kesehatan Kota Cimahi, Dwihadi Isnalini saat dikonfirmasi, Jumat (17/5/2024).

Dari total kasus DBD yang terdata tahun 2024, ada 6 kasus yang harus berakhir dengan meninggal dunia. Salah satu penyebabnya dikarenakan terlambat dibawa ke fasilitas kesehatan hingga memiliki penyakit bawaan atau komorbid. "Ada 6 kasus kematian," ucap Dwihadi.

1. Perubahan iklim disebut jadi pemicu

Tips Penjegahan dan Pertolongan Pertama DBD (fkm.unair.ac.id/ Ulfa Lailatus Sa’adah)
Tips Penjegahan dan Pertolongan Pertama DBD (fkm.unair.ac.id/ Ulfa Lailatus Sa’adah)

Menurut Dwihadi, ada sejumlah faktor yang membuat kasus DBD di Kota Cimahi begitu tinggi tahun ini. Di antaranya faktor perubahan iklim yang dipandang membebani pelayanan dan sistem kesehatan karena membuat kasus Demam Berdarah semakin naik.

Selain itu, faktor cuaca ditengarai juga menjadi pemicunya. Cuaca yang terkadang turun hujan kerap menimbulkan genangan yang menjadi tempat favorit tumbuhnya jentik nyamuk aedes aegypti, yang merupakan nyamuk penyebar DBD.

"Perubahan iklim, menjadi salah satu faktor. Selain faktor cuaca, kadang kan turun hujan kemarau lagi. Biasanya itu memicu munculnya genangan-genangan air," ujar Dwihadi.

2. PSN disebut jadi solusi pencegahan terbaik

Ilustrasi nyamuk Aedes aegypti (pixabay.com/Mohamed Nuzrath)
Ilustrasi nyamuk Aedes aegypti (pixabay.com/Mohamed Nuzrath)

Dia mengatakan, antisipasi yang cukup mudah dilakukan masyatakat untuk mencegah penyebaran kasus DBD ialah melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) sesering mungkin. Jangan sampai, kata Dwihadi, jentik nyamuk dibiarkan tumbuh dan berkembangbiak.

"Antisipasi kami berharap masyarakat memberantas sarang nyamuk, apalagi dengan musim hujannya yang tidak terus-menerus berarti meninggalkan sisa genangan air. Nah genangan air ini yang perlu kita perhatikan," imbuh Dikdik.

Dwihadi juga mengingatkan bahwa nyamuk aedes aegypti tak hanya berkembangbiak di luar rumah. Namun sangat berpotensi juga hidup di dalam rumah seperti sangkar burung dan genangan air sisa dispenser.

"Ini sering ditemukan di dalam rumah dan usahakan jangan ada gantungan cucian di dalam rumah," kata Dwihadi.

3. Masyarakat disarankan tanam daun mint hingga ikan cupang

https://ayosehat.kemkes.go.id/
https://ayosehat.kemkes.go.id/

Selain itu, Dwihadi menyarankan masyarakat Kota Cimahi menanam yang bisa mengusir nyamuk. Seperti bunga lavender, daun siri dan daun mint. Sebab, tanaman-tanaman tersebut diyakini bisa mengusir nyamuk penyebar virus DBD.

"Kita anjurkan menanam tanama yang bisa mengusir nyamuk. Contoh bunga lavender, daun siri, daun mint," katanya.

Dwihadi juga menyarankan agar masyarakat memelihara ikan cupang, mujair, mas dan sebagainya di bak penampungan air yang sulit dijangkau. Sebab, keberadaan berbagai jenis ikan itu akan menghambat perkembangbiakan jentik nyamuk aedes aegypty.

"Ikan cupang atau ikan lainya juga adalah pemakan jentik. Jadi bisa buat pencegahan dari mulai jentiknya agar tidak berkembangbiak jadi nyamuk penyebab DBD," imbuh Dwihadi.

Share Article
Topics
Editorial Team
Ferry Rizki
EditorFerry Rizki

Latest News Jawa Barat

See More

Jawa Barat Dinilai Unggul dalam Pengembangan Wisata Ramah Muslim

19 Jun 2026, 07:37 WIBNews