Jalan Sukabumi–Sagaranten Ambrol, Lalin Tersendat

- Sukabumi diguyur hujan terus menerus, menyebabkan longsor TPT di Jalan Sukabumi–Sagaranten.
- Tanda-tanda kerusakan sudah terlihat sebelum kejadian, namun dihiraukan oleh warga setempat.
- Sebagian badan jalan ambles akibat longsor, hanya separuh badan jalan yang bisa digunakan dengan sistem tutup-buka.
Sukabumi, IDN Times - Hujan deras yang mengguyur wilayah selatan Kabupaten Sukabumi sejak akhir pekan ini menyebabkan Tembok Penahan Tanah (TPT) di Jalan Sukabumi–Sagaranten mengalami longsor. Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu (11/2/2026) dini hari di Kampung Langkob, Desa Nyalindung, Kecamatan Nyalindung.
TPT yang ambrol diketahui bertuliskan “Jabar Istimewa”. Akibat longsor tersebut, sebagian badan jalan tertutup material sehingga arus lalu lintas di lokasi hanya bisa dilalui satu lajur dan diberlakukan sistem tutup-buka.
1. Sukabumi diguyur hujan terus menerus

Warga setempat, Desi Atrya Sudrajat (22), menyebut longsor diperkirakan terjadi saat hujan terus menerus mengguyur Sukabumi. Menurutnya, hujan telah turun sejak Sabtu pagi dan semakin deras pada malam harinya.
Ia menambahkan, intensitas hujan yang tinggi dan berlangsung lama diduga memperlemah struktur tanah dan TPT di lokasi tersebut.
"Hujan dari kemarin Sabtu pagi, tapi Sabtu malam hujannya besar. Sampai sekarang juga masih hujan," kata Desi.
2. Tanda-tanda kerusakan sudah terlihat, namun dihiraukan

Desi mengungkapkan, sebelum kejadian, kondisi TPT sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir membuat tanah di sekitar dinding penahan menjadi labil.
“Dari beberapa hari sebelumnya juga sudah kelihatan mau longsor karena hujan terus,” katanya.
Panjang longsoran diperkirakan mencapai sekitar empat meter. Sementara bagian bawah TPT langsung berbatasan dengan jurang sehingga berpotensi membahayakan jika longsor susulan terjadi.
3. Sebagian badan jalan ambles

Selain meruntuhkan TPT, peristiwa itu juga menggerus sebagian badan jalan. Meski demikian, jalan masih dapat dilalui kendaraan. Namun, pengendara harus bergantian melintas karena hanya separuh badan jalan yang bisa digunakan.
“Kendaraan masih bisa lewat, tapi setengah jalan saja. Jadi sistemnya tutup-buka. Untungnya jalannya masih cukup lebar karena ada coran,” jelas Desi.
Warga juga mencatat bahwa longsor di titik tersebut bukan kali pertama terjadi. Pada Desember 2025 lalu, kejadian serupa sempat terjadi di lokasi yang sama.
Hingga berita ini diturunkan, hujan masih mengguyur wilayah Nyalindung. Pengguna jalan diimbau tetap waspada saat melintas karena potensi longsor susulan masih mungkin terjadi.

















