Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Jaga Moral, Anggota DPR RI Asal Jabar Desak Perumusan Fatwa Siber

IMG-20251128-WA0007.jpg
(Istimewa)
Intinya sih...
  • Anggota DPR RI Fraksi PKB, Habib Syarief, menekankan pentingnya fondasi etika, keamanan, dan literasi dalam digitalisasi pembelajaran.
  • Habib Syarief menawarkan tiga pilar transformatif sebagai landasan penguatan digitalisasi pendidikan, termasuk pengembangan Digital Twin Berbasis Etika dan Keamanan Anak.
  • Habib juga mendorong pembentukan forum lintas disiplin untuk merumuskan fatwa digital sebagai panduan moral masyarakat terkait interaksi siber dan korban digital bullying.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PKB, Habib Syarief turut merespons langkah percepatan digitalisasi pembelajaran dari pemerintah. Langkah tersebut dinilai baik, namun harus dibarengi dengan fondasi etika, keamanan, dan kekuatan literasi yang matang.

Menurut Habib, program digital pembelajaran yang diluncurkan pemerintah merupakan lompatan penting. Namun, dia mengingatkan bahwa setiap kebijakan besar selalu memiliki dua sisi, manfaat dan risiko, yang harus diprediksi sejak awal.

"Digitalisasi itu sudah tak terhindarkan, tetapi kita tidak boleh menutup mata terhadap dampak negatifnya. Para pendidik kini banyak yang kebingungan menghadapi perubahan yang terlalu cepat," ujar Habib, dikutip dari keterangan resmi, Sabtu (29/11/2025).

1. Banyak pelajar hanya menyerap nilai positif dunia digital

IMG-20251128-WA0006.jpg
(Istimewa)

Dalam sesi tersebut, Habib memulai dengan mengutip sebuah paragraf dalam buku Menteri Pendidikan tentang visi kesalehan digital sebagai fondasi bangsa masa depan.

Gagasan itu penting, tetapi masih menyisakan pertanyaan besar: bagaimana memastikan moralitas dan etika tetap berdiri kokoh saat teknologi menjadi medium utama belajar. Habib mengungkap, banyak siswa hanya mampu menyerap sebagian kecil nilai positif dari dunia digital.

"Sementara sisi negatifnya justru lebih mudah merasuki kehidupan mereka, mulai dari cyberbullying, paparan konten berbahaya, hingga hilangnya batas etika dalam berkomunikasi," katanya.

2. Etika digital penting untuk fondasi

Digitalisasi Pembelajaran Nasional
Ilustrasi Digitalisasi Pembelajaran Nasional

Untuk menjawab tantangan tersebut, Habib Syarief menawarkan tiga pilar transformatif sebagai landasan penguatan digitalisasi pendidikan, pertama yaitu Digital Twin Berbasis Etika dan Keamanan Anak.

Dia mengusulkan pengembangan digital twin, yaitu ekosistem digital personal bagi peserta didik yang dilengkapi filter adaptif berbasis AI. Teknologi ini dapat mendeteksi ancaman, memblokir konten negatif, serta memberi ruang pembelajaran yang aman dan terarah.

Habib menilai hal ini penting karena banyak pendidik kini kewalahan mengawasi perilaku siswa di dunia maya. "Tanpa fondasi etika digital, teknologi hanya akan menjadi ruang yang membingungkan bagi anak-anak," katanya.

3. Minimalisir angka perundungan siber

Digitalisasi Pembelajaran
Ilustrasi Digitalisasi Pembelajaran

Habib mendorong pembentukan forum lintas disiplin, melibatkan ulama, ahli hukum, pakar sosial, dan teknologi untuk merumuskan fatwa digital sebagai panduan moral masyarakat. Menurutnya, ruang digital membutuhkan pedoman kebajikan baru, bukan hanya hukum halal-haram.

Fatwa digital ini diharapkan dapat menyentuh isu interaksi siber seperti larangan menggunjing, memata-matai, fitnah digital, serta etika bermedia sosial. Hingga kini, menurut Habib, belum ada lembaga yang mengkaji secara komprehensif etika ruang digital bagi masyarakat Indonesia.

Habib menyoroti banyaknya korban digital bullying yang tidak mendapatkan pemulihan layak. Kondisi ini bahkan membuat psikolog kewalahan karena belum ada mekanisme yang jelas untuk membantu korban memperbaiki reputasi digitalnya.

Ia mengusulkan mandat hak rehabilitasi digital, yaitu kewajiban platform untuk menghapus jejak konten perundungan, mengangkat konten positif korban dalam hasil pencarian, menyediakan mekanisme hukum untuk menghapus riwayat digital yang tidak relevan, serta mendukung program pemulihan psikologi digital.

"Korban perundungan digital bisa jauh lebih banyak daripada ODGJ. Ini masalah besar tetapi belum mencuat ke permukaan," ujarnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Galih Persiana
EditorGalih Persiana
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More

Keuangan Menipis, Pegawai Bandung Zoo Patungan Beli Pakan Satwa

29 Nov 2025, 10:48 WIBNews