Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

10 Ribu Mahasiswa Baru Dibekali Literasi Keuangan dan Keamanan Digital

Kota Bandung
10 Ribu Mahasiswa Baru Dibekali Literasi Keuangan dan Keamanan Digital
10 Ribu Mahasiswa Baru Dibekali Literasi Keuangan dan Keamanan Digital (Dok. OVO)
  • OVO dan Bank Indonesia mengedukasi sekitar 10.000 mahasiswa baru Unpad melalui Fintech Academy dan MoneyFestasi dalam rangka PRABU UNPAD 2026.
  • Materi mencakup pengenalan produk ilegal, modus social engineering, perlindungan PIN dan OTP, penanganan transaksi mencurigakan, serta pengelolaan keuangan berbasis kebutuhan, risiko, dan kemampuan.
  • Program Fintech Academy by OVO telah menjangkau lebih dari 10.400 mahasiswa di tiga kampus pada 2026 dan dijadwalkan menyasar tiga kampus tambahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times – Memasuki dunia perkuliahan membuat mahasiswa mulai menghadapi berbagai bentuk kemandirian, termasuk dalam mengelola keuangan dan menggunakan layanan digital. Kondisi tersebut membuat pemahaman mengenai literasi keuangan dan keamanan transaksi menjadi bekal yang semakin penting bagi generasi muda.

Momentum tersebut dimanfaatkan OVO bersama Bank Indonesia melalui Fintech Academy dan MoneyFestasi untuk memberikan edukasi kepada mahasiswa baru Universitas Padjadjaran (Unpad). Kegiatan bertajuk "Literasi Digital untuk Generasi Muda, Bijak di Media Sosial dan Bertransaksi di Era Digital" itu menjadi bagian dari rangkaian Penerimaan Raya Mahasiswa Baru Universitas Padjadjaran (PRABU UNPAD 2026).

Edukasi yang berlangsung di Lapangan Jati Universitas Padjadjaran, Selasa (11/8/2026), diikuti sekitar 10.000 mahasiswa baru. Program tersebut dikemas dalam talk show interaktif dengan menghadirkan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat Junanto Herdiawan, Presiden Direktur OVO Karaniya Dharmasaputra, serta Financial Planner Rista Zwestika.

Kegiatan ini hadir di tengah masih adanya kesenjangan antara pemanfaatan layanan keuangan dan pemahaman masyarakat terhadap produk tersebut. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dirilis OJK bersama BPS, terdapat selisih 14,05 poin persentase antara tingkat inklusi dan literasi keuangan. Di sisi lain, lebih dari 572.000 laporan rekening penipuan tercatat melalui layanan cekrekening.id sepanjang 2017-2024.

  1. 1. Mahasiswa diajak mengenali risiko transaksi digital

    ilustrasi transaksi (pexels.com/Ivan Samkov)
    ilustrasi transaksi (pexels.com/Ivan Samkov)

    Presiden Direktur OVO Karaniya Dharmasaputra mengatakan masa awal perkuliahan dapat menjadi momentum untuk membangun kebiasaan finansial dan digital yang sehat. Menurutnya, mahasiswa perlu memahami risiko sebelum menggunakan berbagai layanan keuangan digital secara mandiri.

    “Mahasiswa baru sedang memasuki fase yang menuntut kemandirian dalam mengelola keuangan dan memanfaatkan layanan digital. Melalui kolaborasi bersama Bank Indonesia, MoneyFestasi dan UNPAD, kami berharap inisiatif Fintech Academy by OVO ini dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk mengenali risiko, bertransaksi secara aman, serta membangun kebiasaan finansial yang bertanggung jawab sejak awal perkuliahan hingga memasuki dunia kerja nantinya,” ujar Karaniya, dalam siaran pers yang diterima IDN Times, Selasa (11/8/2026).

    Dalam sesi tersebut, mahasiswa mendapatkan pembekalan mengenai sejumlah aspek keamanan digital. Materi yang diberikan antara lain cara mengenali ciri dan red flags produk keuangan ilegal, mewaspadai modus social engineering yang menyasar data sensitif seperti PIN dan kode OTP, serta memahami langkah yang perlu dilakukan ketika menemukan aktivitas transaksi mencurigakan.

  2. 2. Literasi digital dinilai perlu dibangun sejak awal

    10 Ribu Mahasiswa Baru Dibekali Literasi Keuangan dan Keamanan Digital (Dok. OVO)
    10 Ribu Mahasiswa Baru Dibekali Literasi Keuangan dan Keamanan Digital (Dok. OVO)

    Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat Junanto Herdiawan menilai generasi muda memiliki posisi penting dalam membangun ekosistem digital yang aman dan produktif. Ia mengingatkan mahasiswa untuk tidak terburu-buru ketika menghadapi informasi atau transaksi yang diragukan.

    “Di era digital, apa yang kita lakukan di ruang digital, baik melalui media sosial maupun transaksi digital, perlu dilakukan secara bijak dan bertanggung jawab. Saring sebelum sharing, jaga data pribadi, dan pastikan setiap transaksi dilakukan dengan aman. Kalau ragu, stop dulu, jangan panik, lakukan verifikasi melalui kanal resmi. Di generasi muda harus menjadi agen literasi yang cerdas agar manfaat ekosistem digital dapat dirasakan secara optimal dan aman,” ujar Junanto.

    Selain keamanan transaksi, mahasiswa juga diajak memahami cara mengelola uang secara lebih terencana. Financial Planner Rista Zwestika menekankan pentingnya membangun kebiasaan mengatur keuangan tanpa harus menunggu seseorang memiliki penghasilan besar.

    “Mahasiswa tidak perlu menunggu memiliki penghasilan besar untuk mulai mengatur keuangan. Biasakan menyusun prioritas, mengelola uang sesuai kebutuhan, dan menyisihkan dana sejak awal. Begitu pula saat memilih produk keuangan atau berinvestasi, pastikan setiap keputusan didasarkan pada tujuan, manfaat, risiko, dan kemampuan, bukan sekadar mengikuti tren atau Fear of Missing Out (FOMO),” kata Rista.

  3. 3. Fintech Academy terus diperluas ke kampus

    Ilustrasi mahasiswa. (Freepik / benzoix)
    Ilustrasi mahasiswa. (Freepik / benzoix)

    Program Fintech Academy by OVO menjadi bagian dari upaya memperluas edukasi keuangan digital di lingkungan perguruan tinggi. Sepanjang 2026, program tersebut telah hadir di Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Sebelas Maret, dan Universitas Padjadjaran dengan total lebih dari 10.400 mahasiswa.

    Program ini juga dijadwalkan berlanjut ke tiga kampus lain yang akan menjangkau sekitar 600 mahasiswa sepanjang 2026. Dengan tambahan tersebut, total partisipan Fintech Academy sejak pertama kali diluncurkan pada 2021 diproyeksikan mencapai lebih dari 16.000 mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia.

    Melalui kolaborasi dengan MoneyFestasi, OVO berharap edukasi tersebut dapat membantu mahasiswa membangun kebiasaan finansial yang sehat sekaligus menggunakan layanan digital secara bijak. Edukasi ini diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menghadapi kebutuhan keuangan yang semakin beragam selama masa perkuliahan hingga memasuki dunia kerja.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More