Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pelopor Desain Interior Indonesia, Prof. Widagdo Tutup Usia

Kota Bandung
3 min read
Pelopor Desain Interior Indonesia, Prof. Widagdo Tutup Usia
Pelopor Desain Interior Indonesia, Prof. Widagdo Tutup Usia. Dok ITB
  • Prof. Widagdo, Guru Besar Emeritus FSRD ITB dan pelopor pendidikan desain interior Indonesia, meninggal pada 26 September 2026 di usia 92 tahun.
  • Sejak bergabung dengan ITB pada 1965, ia merintis kurikulum dan memantapkan Program Studi Desain Interior, serta tetap membimbing mahasiswa pascasarjana setelah purnabakti.
  • Selain akademisi, ia terlibat merancang interior Kompleks MPR/DPR RI dan Paviliun Indonesia di Expo Osaka 1970 serta Sevilla 1992, sekaligus meninggalkan pemikiran desain dan kebudayaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Institut Teknologi Bandung (ITB) berduka atas wafatnya Prof. Widagdo, Dipl.Inn.Arch., Guru Besar Emeritus Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB. Ia meninggal dunia pada Sabtu (26/9/2026) sekitar pukul 21.40 WIB dalam usia 92 tahun.

Prof. Widagdo dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan pendidikan desain interior di Indonesia. Selain mengabdikan diri di dunia akademik, ia meninggalkan sejumlah karya dan pemikiran, termasuk keterlibatannya dalam perancangan interior Kompleks Gedung MPR/DPR RI di Senayan, Jakarta.

“Pikiran, tenaga, ilmu, serta keteladanan yang telah beliau berikan akan senantiasa menjadi bagian yang berharga dalam perjalanan institusi ini,” ujar Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., dalam sambutan pelepasan jenazah di Aula Barat ITB Kampus Ganesha, Minggu (27/9/2026).

  1. 1. Merintis pendidikan desain interior di Indonesia

    WhatsApp Image 2026-09-27 at 11.47.15 AM.jpeg
    Pelopor Desain Interior Indonesia, Prof. Widagdo Tutup Usia. Dok ITB

    Prof. Widagdo lahir di Solo pada 1 Mei 1934. Ia menempuh pendidikan desain interior di Staatliche Akademie der Bildenden Künste Stuttgart, Jerman, dan meraih gelar Dipl.Inn.Arch. atau Diplom Innenarchitektur pada 1964.

    Pendidikan di Jerman memperkenalkannya pada pemikiran modernisme dan tradisi desain Eropa, termasuk Bauhaus. Pemikiran tersebut kemudian turut memengaruhi pengembangan pendidikan desain di ITB.

    Prof. Widagdo bergabung dengan ITB sejak 1965. Di FSRD ITB, ia turut membangun fondasi pendidikan desain interior, merintis kurikulum, serta memantapkan Program Studi Desain Interior.

    Selama menjadi akademisi, bidang yang diajarkannya mencakup desain interior, pendidikan desain hingga sejarah sosial desain.

    Pengabdiannya juga berlanjut setelah memasuki masa purnabakti. Prof. Widagdo masih berkontribusi sebagai dosen luar biasa pada program pascasarjana, termasuk membimbing mahasiswa magister dan doktor serta menguji tesis dan disertasi.

  2. 2. Perancang interior Kompleks Gedung MPR/DPR RI

    Gedung MPR/DPR/DPD RI di Jakarta
    Gedung MPR/DPR/DPD RI di Jakarta. (Wikimedia Commons/Davidelit)

    Selain dikenal sebagai akademisi, Prof. Widagdo juga aktif sebagai praktisi desain. Salah satu karya pentingnya adalah keterlibatannya dalam perancangan interior Kompleks Gedung MPR/DPR RI di Senayan, Jakarta.

    Dalam karya tersebut, pendekatan modernisme dipadukan dengan penggunaan material dan karakter lokal Indonesia.

    Ia juga berkontribusi dalam representasi Indonesia pada sejumlah pameran internasional. Bersama para senior Seni Rupa ITB, Prof. Widagdo terlibat sebagai pakar desain dalam pengembangan Paviliun Indonesia untuk Expo Osaka 1970 dan Expo Sevilla 1992.

    Melalui paviliun tersebut, Indonesia merepresentasikan teknologi tradisional sekaligus kekayaan kebudayaan Indonesia di panggung internasional.

  3. 3. Tinggalkan warisan pemikiran tentang desain dan kebudayaan

    WhatsApp Image 2026-09-27 at 11.47.14 AM (1).jpeg
    Pelopor Desain Interior Indonesia, Prof. Widagdo Tutup Usia. Dok ITB

    Perhatian Prof. Widagdo terhadap hubungan desain, estetika, kebudayaan dan modernitas dituangkan antara lain melalui buku Desain & Kebudayaan. Pada 2008, ia juga menyampaikan orasi ilmiah Guru Besar Emeritus berjudul “Membangun Bangsa Menuju Masyarakat Madani: Sebuah Refleksi Setengah Milenium Sejarah Indonesia”.

    Dalam pemikirannya, kebudayaan ditempatkan sebagai salah satu unsur penting dalam kemajuan sebuah bangsa. Di luar ITB, Prof. Widagdo pernah dipercaya menjadi Ketua Dewan Desain Nasional, Ketua Majelis Kehormatan HDII dan anggota Dewan Kerajinan Nasional.

    Atas pengabdiannya, ia menerima Medali Ganesha Bakti Cendekia Utama ITB pada 2005. Prosesi pelepasan jenazah Prof. Widagdo digelar di Aula Barat ITB Kampus Ganesha pada Minggu (27/9/2026). Prosesi tersebut menjadi penghormatan terakhir atas jasa dan pengabdiannya kepada ITB, masyarakat, bangsa dan negara.

    Rektor ITB menyampaikan duka cita kepada keluarga almarhum. Ia menyebut kepergian Prof. Widagdo bukan hanya menjadi kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi ITB dan dunia pendidikan.

    “Selamat jalan, Prof. Widagdo, Dipl.Inn.Arch. Terima kasih atas pengabdian, keteladanan, dan warisan nilai yang Bapak berikan untuk ITB dan untuk kami semua. Semoga Allah SWT menempatkan Bapak di tempat terbaik di sisi-Nya,” kata Tatacipta.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More