Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jabar Masih Butuh Banyak Lulusan Radiografer untuk Sektor Kesehatan

Kota Bandung
3 min read
Jabar Masih Butuh Banyak Lulusan Radiografer untuk Sektor Kesehatan
Politeknik Al Islam Bandung Resmi Buka D-4 Teknologi Radiologi Pencitraan. Dok Istimewa
  • Politeknik Al Islam Bandung membuka program D-4 Teknologi Radiologi Pencitraan setelah kebutuhan radiografer Jawa Barat baru terpenuhi sekitar 62 persen, dengan kekurangan diperkirakan 4.000 tenaga.
  • Pertumbuhan rumah sakit dan teknologi pencitraan medis meningkatkan kebutuhan radiografer berkompetensi digital, keselamatan radiasi, analisis, jaminan mutu, serta kolaborasi lintas profesi.
  • Pengembangan radiografer diarahkan pada standar pendidikan, CPD, dan kemampuan digital global; PAIB menargetkan 15 mahasiswa angkatan pertama, dengan 14 mahasiswa telah terdaftar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Politeknik Al Islam Bandung (PAIB) resmi membuka Program Studi Sarjana Terapan (D-4) Teknologi Radiologi Pencitraan (TRP). Program studi tersebut mendapat izin penyelenggaraan pada 4 Agustus 2026.

Direktur Politeknik Al Islam Bandung, dr. Shiane Hanako Sheba, MKM., MCE., mengatakan pembukaan D-4 TRP menjadi langkah kampus untuk menjawab kebutuhan tenaga radiografer di Jawa Barat. Berdasarkan informasi yang diterima pihaknya dari Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, pemenuhan tenaga radiografer di Jawa Barat baru mencapai sekitar 62 persen.

"Kami ingin sekali membangun kesehatan di Provinsi Jawa Barat khususnya dengan menghasilkan tenaga kesehatan profesi radiografer profesional yang kompeten," ujar Shiane dalam kegiatan Dies Natalis ke-25 pada Sabtu (26/9/2026).

  1. 1. Sangat dicari berbagai rumah sakit

    WhatsApp Image 2026-09-27 at 6.59.17 AM.jpeg
    Politeknik Al Islam Bandung Resmi Buka D-4 Teknologi Radiologi Pencitraan. Dok Istimewa

    Shiane mengatakan masih terdapat kekurangan sekitar 4.000 tenaga radiografer di Jawa Barat jika dibandingkan dengan proporsi jumlah penduduk. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan PAIB dalam membuka program studi D-4 TRP.

    Selain memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan, pembukaan prodi ini juga menjadi bagian dari amanah badan penyelenggara atau pemilik PAIB, yakni Yayasan Rumah Sakit Islam KSW Jabar. Menurut Shiane, kebutuhan radiografer juga semakin meningkat seiring dengan perkembangan teknologi pencitraan medis dan pertumbuhan rumah sakit di Jawa Barat.

    Pemerintah, kata dia, juga tengah menjalankan program untuk melengkapi rumah sakit dengan teknologi pencitraan yang semakin canggih. Kondisi itu turut meningkatkan kebutuhan terhadap tenaga radiografer yang memiliki kompetensi sesuai perkembangan teknologi.

    "Tambah lagi nih pertumbuhan rumah sakit kalau kita ngomong Jawa Barat saja, itu juga lumayan luar biasa ya. Dalam lima tahun terakhir mungkin kalau enggak salah telah bertambah sebanyak 13 persen," katanya.

    PAIB menyebut D-4 TRP yang dibuka tersebut menjadi program studi sejenis pertama di Kota Bandung.

  2. 2. Teknologi radiologi berkembang, kompetensi radiografer ikut berubah

    WhatsApp Image 2026-09-26 at 1.08.49 PM (1).jpeg
    Politeknik Al Islam Bandung Resmi Buka D-4 Teknologi Radiologi Pencitraan. Dok Istimewa

    Ketua Persatuan Ahli Radiografi Indonesia (PARI) Pengda Jawa Barat, Drs. Yusuf Iskandar, S.ST., mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah cara pelayanan radiologi diberikan sekaligus meningkatkan tuntutan kompetensi radiografer.

    Menurutnya, teknologi radiologi kini mencakup pemanfaatan Computed Radiography/Digital Radiography (CR/DR), Picture Archiving and Communication System (PACS), Radiology Information System (RIS), Artificial Intelligence (AI), hingga teleradiologi untuk mendukung pelayanan dan konsultasi medis lintas wilayah.

    Perubahan tersebut membuat kemampuan radiografer tidak lagi sebatas mengoperasikan peralatan pencitraan. Mereka juga dituntut memiliki kemampuan digital, memahami keselamatan radiasi, menerapkan praktik berbasis bukti, melakukan analisis, menjaga jaminan mutu, serta berkolaborasi dengan berbagai profesi kesehatan.

    Hal tersebut sejalan dengan kompetensi yang disiapkan melalui jenjang D-4 TRP. Shiane menjelaskan, terdapat perbedaan kompetensi antara lulusan D-3 dan D-4 Radiologi.

    "Kalau sudah menggunakan obat, kemudian MRI, radioterapi, kedokteran nuklir, itu adalah miliknya D-4, iya kompetensinya D-4," ujar Shiane.

    Ia menambahkan, kebutuhan terhadap kompetensi tersebut semakin relevan karena teknologi seperti MRI, radioterapi, dan kedokteran nuklir semakin banyak digunakan di fasilitas pelayanan kesehatan.

  3. 3. Kompetensi radiografer didorong memenuhi standar global

    20260926_124504.jpg
    Politeknik Al Islam Bandung Resmi Buka D-4 Teknologi Radiologi Pencitraan. Dok Istimewa

    Pengembangan kompetensi radiografer tidak hanya menjadi perhatian di tingkat daerah dan nasional. Isu tersebut juga dibahas dalam The 1st PAIB International Conference on Fostering Sustainable Synergy Across Health, Education, and Economic (IC-HEES) 2026.

    Presiden International Society of Radiographers and Radiological Technologists (ISRRT), Napapong Pongnapang, Ph.D., dalam sesi "Radiographer Competency Development & Global Health Integration" menyoroti pentingnya peningkatan kompetensi radiografer.

    Beberapa hal yang menjadi perhatian mencakup harmonisasi standar pendidikan, pengembangan profesional berkelanjutan atau *Continuing Professional Developmen (CPD), serta peningkatan kemampuan digital dalam profesi radiografi.

    Perspektif pemerintah, organisasi profesi, dan dunia internasional tersebut menunjukkan bahwa peningkatan jumlah tenaga radiografer perlu berjalan beriringan dengan peningkatan mutu dan kompetensi profesional.

    Untuk tahun pertama, PAIB menargetkan penerimaan 15 mahasiswa D-4 TRP. Hingga saat ini, sebanyak 14 mahasiswa telah terdaftar atau sekitar 90 persen dari target.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More