DKPP Jabar Klaim Stok Pangan Aman hingga Ramadan 2027

- DKPP Jawa Barat mengklaim kebutuhan pangan pokok, termasuk beras dan daging ayam, diproyeksikan tercukupi hingga Ramadan 2027 melalui manajemen stok terintegrasi dan cadangan daerah.
- Kemarau sejak Juli dengan puncak diperkirakan Agustus-Oktober memicu kekeringan, menurunkan proyeksi panen dan meningkatkan risiko puso pada sawah tadah hujan.
- Produksi gabah di Bandung Barat berpotensi turun 10–15 persen tanpa intervensi pengairan, sementara beberapa daerah irigasi mengalami debit berkurang namun belum ditemukan gagal panen.
Bandung, IDN Times - Kemarau disertai fenomena El Nino di Jawa Barat telah berdampak pada pertanian hingga muncul adanya potensi gagal panen. Meski begitu, Pemprov Jabar mengklaim untuk kebutuhan pangan akan tercukupi hingga Ramadan 2027 nantinya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat, Linda Al Amin mengatakan, kebutuhan pangan diproyeksikan mencukupi, termasuk untuk masa Ramadan 2027 mendatang.
"Kebutuhan pangan pokok menjelang masa mendatang secara umum diproyeksikan sudah mencukupi. Mengacu pada pola pemenuhan pangan tahunan Pemda Provinsi Jawa Barat dan manajemen stok terintegrasi dari Badan Pangan Nasional," ujar Linda, Selasa (11/8/2026).
1. Pasokan cadangan pangan akan terus dipenuhi

Ilustrasi pertanian (IDN Times/Rochmanudin) Linda menjelaskan, kebutuhan pokok masyarakat yang jelas tetap terpenuhi yaitu, beras hingga daging ayam di mana saat ini pemerintah provinsi tengah mengupayakan agar pasokan cadangan pangan daerah bisa terus bertambah, meski dibayang-bayangi adanya potensi gagal panen karena kemarau panjang.
"Komoditas utama seperti beras, cabai, dan daging ayam akan dipersiapkan agar tetap surplus melalui pasokan cadangan pangan daerah dan optimalisasi masa tanam," katanya.
Sebelumnya, Linda mengatakan, dampak musim kemarau yang terjadi sejak Juli kemarin dan diprediksi puncaknya antara Agustus-Oktober ini telah membuat sejumlah lahan pertanian di daerah mengalami kekeringan.
"Kekeringan memberikan dampak langsung berupa penurunan proyeksi hasil panen serta risiko gagal panen (puso) pada lahan sawah tadah hujan yang kekurangan pasokan air," kata Linda.
2. El Nino mengancam pertanian di Jabar
Ilustrasi pertanian (IDN Times/Ervan Masbanjar) Kendati banyak lahan pertanian yang terdampak, Linda mengungkapkan, sektor pertanian padi dilaporkan mengalami dampak secara langsung dari kemaru tahun ini. Bahkan, di Kabupaten Bandung Barat potensi penurunan hasil panen mencapai belasan persen.
"Komoditas terdampak paling signifikan dirasakan pada komoditas padi (beras). Sebagai contoh, sejumlah kawasan seperti Bandung Barat memproyeksikan penurunan produksi gabah sekitar 10–15 persen jika tidak dilakukan intervensi pengairan secara cepat," tuturnya.
Hal senada dinyatakan, Kepala Dinas Sumber Daya Air (DSDA) Provinsi Jawa Barat, Dikky Achmad Sidik. Dia mengungkapkan, saat ini ada beberapa bendung yang menjadi tanggung jawab provinsi mengalami penurunan debit air. Hal ini berdampak ke sektor pertanian.
"Beberapa daerah irigasi yang kekeringan ditemukan di Leuwikuya, Soreang Kabupaten Bandung, Ciputrahaji di Ciamis, Biuk dan Padawaras, Tasikmalaya," kata Dikky saat dikonfirmasi, Selasa (4/8/2026).
3. Potensi gagal panen ada di beberapa daerah

Ilustrasi pertanian (Dok. ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar) Hanya saja, Dikky menjelaskan, kekeringan yang terjadi ini bukan berarti lahan-lahan pertanian yang ada di wilayah tersebut tidak dialiri air sama sekali. Air tetap ada, namun volumenya tidak besar seperti kondisi normal.
Disinggung mengenai potensi gagal panen akibat air debit air yang berkurang, Dikky memastikan hal tersebut belum ditemukan karena beberapa petani sudah ada yang masuk masa panen.
"Biasanya masih ada debit, tidak sampai kering. Ada sebagian sudah masuk masa panen jadi kebutuhan nya kecil dan terpenuhi," kata dia.


















