OJK Dorong 4.665 Peternak Ayam Petelur Naik Kelas, Bidik Pasar Ekspor

- OJK Jawa Barat melibatkan 4.665 peternak ayam petelur di 21 sentra untuk membangun ekosistem hulu-hilir, dengan proyeksi pendapatan Rp34,88 juta per bulan bagi peternak berpopulasi 2.000 ekor.
- Akses pembiayaan diperkuat melalui proyeksi KUR Rp456,5 miliar dari perbankan, melibatkan Bank BJB, BNI, dan Mandiri, guna membantu peternak meningkatkan kapasitas usaha menghadapi tantangan sektor.
- OJK mendorong hilirisasi tepung telur dan produk turunan serta ekspor; rantai pasok langsung ke SPPG juga diproyeksikan menurunkan harga telur 10–15 persen dan menghemat anggaran MBG Rp4,23 triliun per tahun.
Bandung, IDN Times - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat mendorong pengembangan komoditas ayam petelur sebagai salah satu penggerak ekonomi daerah. Program tersebut dilakukan melalui penguatan akses keuangan sekaligus membangun ekosistem usaha dari sektor hulu hingga hilir.
Kepala OJK Jawa Barat, Darwisman, mengatakan program pengembangan ekonomi daerah (PED) tahun 2026 melibatkan 4.665 pelaku usaha ternak ayam petelur, baik perorangan maupun perseroan, yang tersebar di 21 sentra peternakan di Jawa Barat.
"Program ini diharapkan mampu memberikan dampak riil terhadap perekonomian dan tidak hanya berhenti pada peningkatan akses keuangan semata," ujar Darwisman pada kegiatan EGG (Endog Jabar Go Global), “Ti Lembur Ka Global, Ngawangun Ekonomi Jabar Istimewa”, di Bandung, Jumat (25/9/2026).
1. Pendapatan peternak diproyeksikan Rp34,88 juta per bulan

Kepala OJK Jawa Barat, Darwisman. Dok Istimewa Darwisman mengatakan pengembangan ekosistem ayam petelur di Jawa Barat diharapkan memberikan sejumlah manfaat, salah satunya peningkatan pendapatan peternak. Menurut perhitungan OJK, peternak dengan populasi sekitar 2.000 ekor ayam dapat memperoleh pendapatan sekitar Rp34,88 juta per bulan.
"Yang kedua akan mendorong peningkatan pendapatan peternak. Dalam hitungan kami, 2.000 ternak ayam itu akan memperoleh income per bulannya Rp34,88 juta per bulan," katanya.
Program ini juga diarahkan untuk meningkatkan produksi telur nasional sekaligus memperkuat posisi Jawa Barat sebagai salah satu daerah penyangga kebutuhan pangan.
Pengembangan ayam petelur sendiri menjadi bagian dari agenda penguatan agribisnis OJK Jabar bersama Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD). Selain ayam petelur, OJK Jabar sebelumnya menyebut sejumlah komoditas lain seperti domba, sapi perah, ikan air tawar, pisang cavendish, nanas, kopi, dan kakao.
2. Proyeksikan pembiayaan KUR Rp456,5 miliar

Harga Ayam, Telur, hingga Jeruk di Bandung Turun Usai MBG Diliburkan. IDN Times/Debbie SUtrisno Penguatan akses pembiayaan menjadi bagian lain dari program tersebut. OJK memproyeksikan potensi peningkatan kredit usaha rakyat (KUR) dari perbankan mencapai Rp456,5 miliar. Darwisman mengatakan proyeksi tersebut menggunakan asumsi KUR mikro sebesar Rp100 juta yang tidak mempersyaratkan agunan tambahan.
"Potensi peningkatan kredit pembiayaan usaha rakyat KUR dari perbankan yang diproyeksikan sebesar Rp456,5 miliar," ujarnya.
Kolaborasi pembiayaan tersebut dilakukan bersama sejumlah lembaga jasa keuangan, termasuk Bank BJB, BNI, dan Bank Mandiri. Kerja sama dituangkan melalui nota kesepahaman dengan pelaku usaha peternakan ayam petelur.
Darwisman berharap akses pembiayaan tersebut dapat membantu peternak mengembangkan kapasitas usaha sekaligus menghadapi sejumlah persoalan yang masih membayangi sektor peternakan. "Tentunya kami melihat masih terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi oleh para pelaku usaha peternakan ayam petelur di Jawa Barat hingga kini," katanya.
3. Peternak didorong masuk pasar ekspor dan hilirisasi

ilustrasi peternakan ayam, peternak telur (unsplash.com/Artem Beliaikin) Program pengembangan ekonomi daerah juga diarahkan agar peternak tidak hanya menjual telur dalam bentuk komoditas mentah. OJK mendorong pengolahan telur menjadi produk bernilai tambah.
Salah satunya melalui pengembangan tepung telur yang dapat memperpanjang masa pemanfaatan produk. Darwisman mengatakan, telur ayam memiliki masa kedaluwarsa yang relatif cepat, yakni sekitar 21 hari.
"Pengembangan produk tepung telur ini menjadi manfaat tidak hanya meningkatkan kinerja ekspor Jawa Barat, tetapi juga memitigasi kerugian peternak yang diakibatkan oleh masa kedaluwarsa telur ayam yang tergolong cepat," ujarnya.
Produk hilirisasi lainnya yang didorong antara lain produk sarapan, pupuk tanaman dari cangkang telur, hingga nutrisi hewan peliharaan. Di sisi ekspor, selama semester I 2026 nilai ekspor fertilized egg for incubation atau telur tetas Jawa Barat tercatat sebesar 550,23 ribu dolar AS. Angka tersebut disebut tumbuh 513 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 dengan tujuan ekspor antara lain Myanmar, Brunei Darussalam, dan Malaysia.
4. Bisa berdampak baik juga untuk MBG

Ilustrasi telur (pexels.com/Klaus Nielsen) OJK juga melihat pengembangan ekosistem ayam petelur dapat mendukung efisiensi pengadaan bahan pangan untuk program makan bergizi gratis (MBG). Darwisman memproyeksikan, program tersebut dapat berkontribusi terhadap efisiensi anggaran pemerintah untuk MBG di Jawa Barat sekitar Rp4,23 triliun per tahun.
Skemanya dilakukan dengan menghubungkan peternak telur secara langsung dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dengan rantai pasok tersebut, harga telur diproyeksikan bisa lebih rendah sekitar 10-15 persen per kilogram dibandingkan pembelian melalui pasar.
"Kerja sama antara SPPG dan peternak ini memberikan manfaat harga telur yang lebih rendah sebesar 10 sampai 15 persen per kilogram dibandingkan kalau nanti SPPG-nya harus beli langsung ke pasar," kata Darwisman.
Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan peresmian ekspor 7.000 ekor day old chick (DOC) dan 6,3 ton produk olahan ke Timor-Leste dengan nilai sekitar 22 ribu dolar AS. Selain Timor-Leste, DOC tersebut direncanakan diekspor ke Myanmar, Brunei Darussalam, dan Malaysia.
Saat ini masih ada sejumlah pekerjaan yang perlu diperkuat, mulai dari tingginya harga pakan, volatilitas harga telur, akses pembiayaan, hingga tata kelola peternakan. OJK juga mendorong perluasan kepemilikan Nomor Kontrol Veteriner (NKV). Saat ini, menurut Darwisman, baru 39 pelaku usaha ternak ayam petelur yang memiliki NKV.
"Pengembangan industri tepung telur, mengubah telur ayam menjadi produk bernilai tambah, serta perluasan akses ekspor dinilai menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing pelaku usaha ternak ayam petelur di Jawa Barat," ujarnya.
Program tersebut ditujukan untuk membangun ekosistem usaha ayam petelur di 18 kabupaten dan 9 kota di Jawa Barat melalui kolaborasi pemerintah daerah, industri jasa keuangan, peternak, eksportir, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















