Ini Alasan UMKM Susah Dapat Pembeli Menurut Moch Dzikri Nur Alam
- Banyak UMKM sudah berjualan digital, tetapi sulit ditemukan karena nama dan deskripsi produk tidak memakai kata yang biasa digunakan calon pembeli saat mencari.
- Informasi seperti jenis produk, lokasi, alamat, jam operasional, dan kontak perlu dilengkapi; produk juga sebaiknya dipisahkan dalam halaman spesifik agar mudah dipahami mesin pencari.
- Keterbatasan waktu membuat pembaruan kanal digital tertunda, sementara hasil optimasi tidak instan; UMKM perlu konsisten merapikan informasi secara bertahap tanpa biaya besar.
Bandung, IDN Times – Saat ini, semakin banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang masuk ke ruang digital untuk menjangkau konsumen. Namun, memiliki akun media sosial atau situs web ternyata belum tentu membuat sebuah produk mudah ditemukan calon pembeli.
Masih banyak pelaku UMKM yang telah aktif berjualan secara daring, tetapi belum mendapatkan kunjungan atau pesanan sesuai harapan. Persoalannya pun tidak selalu berkaitan dengan besarnya anggaran promosi yang dimiliki.
Praktisi optimasi mesin pencari asal Surabaya, Moch Dzikry Nur Alam, mengatakan ada sejumlah persoalan mendasar yang kerap membuat kanal digital UMKM sulit muncul ketika konsumen melakukan pencarian. Hal itu ia temukan dari pengalamannya mendampingi pelaku usaha melalui agensi digital yang dijalankannya.
Menurut Dzikry, persoalan tersebut dapat diperbaiki tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Mulai dari penggunaan kata yang tepat, kelengkapan informasi usaha, hingga konsistensi dalam memperbarui kanal digital menjadi beberapa hal yang perlu diperhatikan.
1. Nama produk sering tidak sesuai dengan cara pembeli mencari

ilustrasi belanja online (pexels.com/AS Photography) Salah satu persoalan yang kerap ditemukan adalah penggunaan nama dan deskripsi produk yang tidak sesuai dengan kata-kata yang biasa digunakan calon pembeli. Pemilik usaha terkadang lebih memilih istilah internal atau nama yang dianggap menarik, tetapi tidak memasukkan jenis produk maupun informasi lain yang justru sering dicari konsumen.
Kondisi ini membuat informasi yang tersedia di kanal digital tidak selalu bertemu dengan kata kunci yang digunakan calon pembeli saat melakukan pencarian. Menurut Dzikry, pelaku usaha perlu memahami cara konsumen mencari produk mereka.
“Yang punya usaha nulis nama produknya pakai istilah sendiri, sementara pembelinya ngetik pakai bahasa sehari-hari. Dua-duanya benar, tapi tidak pernah ketemu,” ujar Dzikry, dalam siaran pers yang diterima IDN Times, Sabtu (22/8/2026).
Ia menilai pemilik usaha perlu mulai menggunakan bahasa yang lebih dekat dengan kebiasaan konsumen. Selain nama produk, informasi seperti jenis barang, lokasi, hingga kebutuhan yang bisa dijawab produk tersebut juga perlu dijelaskan secara jelas.
2. Informasi usaha dan produk belum ditata secara lengkap

ilustrasi seseorang belanja online dengan gratis ongkir (pexels.com/cottonbro studio) Selain penggunaan kata yang tepat, kelengkapan informasi juga menjadi persoalan yang cukup sering ditemukan. Alamat usaha, jam operasional, dan nomor kontak terkadang belum dicantumkan secara lengkap, padahal informasi tersebut dapat membantu konsumen menemukan usaha yang relevan dengan kebutuhan mereka.
Dzikry juga menyoroti kebiasaan pelaku usaha yang mencampurkan banyak produk dalam satu halaman. Menurutnya, setiap produk memiliki karakter pencarian yang berbeda sehingga informasi akan lebih mudah dipahami jika disusun secara lebih spesifik.
“Banyak yang lupa, orang mencari bukan cuma produknya, tapi juga yang paling dekat dan masih buka. Kalau informasinya kosong, ya tidak akan ditampilkan,” katanya.
Menurut dia, pelaku UMKM tidak harus langsung melakukan perubahan besar pada seluruh kanal digital. Langkah sederhana, seperti merapikan deskripsi produk yang paling banyak diminati atau memisahkan informasi setiap produk, dapat menjadi awal untuk membuat usaha lebih mudah ditemukan.
3. Konsistensi dan ekspektasi hasil masih menjadi tantangan

ilustrasi belanja online (pexels.com/Shoper .pl) Masalah lain yang dihadapi pelaku UMKM adalah keterbatasan waktu untuk mengelola kanal digital. Tidak sedikit pemilik usaha harus mengurus produksi, penjualan, hingga pengiriman barang sendiri sehingga pembaruan konten dan informasi usaha kerap menjadi pekerjaan yang tertunda.
“Kalau semua digabung jadi satu, mesin pencari bingung halaman itu sebenarnya soal apa. Lebih baik dipisah, satu produk satu halaman, walaupun isinya pendek,” ucapnya.
Selain itu, Dzikry menilai sebagian pelaku usaha memiliki harapan yang terlalu cepat terhadap hasil optimasi digital. Ketika belum terlihat perubahan dalam beberapa minggu, sebagian memilih berhenti atau tergoda menggunakan layanan yang menjanjikan hasil instan.
“Hasilnya memang lama kelihatan, dan itu yang paling sering bikin orang berhenti. Padahal yang berhenti di bulan kedua biasanya cuma kurang sedikit lagi,” imbuhnya.
Menurut Dzikry, membuat usaha lebih mudah ditemukan tidak selalu membutuhkan anggaran besar atau kemampuan teknis yang rumit. Kuncinya adalah menuliskan informasi usaha secara jelas dengan bahasa yang digunakan calon pembeli, serta membangun kebiasaan untuk memperbarui dan merapikan kanal digital secara bertahap.





















