Jabar Jadi Provinsi dengan Laporan Scam Terbanyak, Capai 131 Ribu

- Jawa Barat mencatat 131.445 laporan scam pada November 2024–Juli 2026, tertinggi di Indonesia; laporan terbanyak berasal dari Kota Bekasi, Kota Bandung, Kabupaten Bogor, Kabupaten Bekasi, dan Kota Depok.
- Secara nasional, IASC menerima 637.055 laporan scam. Modus utama di Jawa Barat juga nasional ialah penipuan belanja online, fake call yang mengaku institusi tertentu, serta penipuan investasi.
- OJK mengingatkan scam makin kompleks melalui teknologi dan kanal digital. Masyarakat diminta berhenti sejenak, memverifikasi informasi, tidak mudah percaya, serta tidak terburu-buru bertransaksi.
Bandung, IDN Times - Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah laporan penipuan digital atau scam terbanyak di Indonesia. Dari periode November 2024 hingga Juli 2026, Indonesia Anti-Scam Center (IASC) mencatat 131.445 laporan scam dari masyarakat di Jawa Barat.
Jumlah tersebut menjadi perhatian karena scam kini berkembang dengan memanfaatkan teknologi dan kepercayaan masyarakat. Modusnya pun beragam, mulai dari penipuan jual beli online hingga pelaku yang mengaku sebagai pihak tertentu.
"Jawa Barat mencatatkan jumlah pelaporan tertinggi di Indonesia, yaitu sebanyak 131.445 laporan," kata Direktur Lembaga Jasa Keuangan II OJK Jabar Rianti Dwiyani dalam konferensi pers di Polda Jabar, Jumat (21/8/2026).
1. Terbanyak laporan ada di Bekasi hingga Depok

ilustrasi penipuan (unsplash.com/Lindsey LaMont) Secara nasional, IASC menerima 637.055 laporan scam dari masyarakat dalam satu setengah tahun ke belakang. Adapun lima daerah di Jawa Barat dengan jumlah pelaporan tertinggi yakni Kota Bekasi, Kota Bandung, Kabupaten Bogor, Kabupaten Bekasi, dan Kota Depok.
Data tersebut menunjukkan penipuan digital masih menjadi persoalan yang perlu diwaspadai masyarakat. Apalagi, pelaku terus memanfaatkan berbagai kanal digital untuk menjangkau calon korban.
2. Belanja online hingga investasi jadi modus utama

ilustrasi belanja online (magnific.com/rawpixel.com) Penipuan belanja online atau jual beli menjadi modus scam yang paling banyak dilaporkan secara nasional. IASC mencatat 113.520 laporan dengan total kerugian yang dilaporkan mencapai sekitar Rp1,78 triliun.
Modus berikutnya adalah fake call, yakni pelaku mengaku sebagai pihak atau institusi tertentu. Tercatat 63.517 laporan dengan nilai kerugian mencapai Rp2,09 triliun. Sementara penipuan investasi menempati posisi ketiga dengan 32.251 laporan dan total kerugian yang dilaporkan mencapai Rp2,08 triliun.
"Untuk daerah Jawa Barat juga modus yang terbanyak sama di tiga itu, dari mulai penipuan belanja online, kemudian fake call, dan penipuan investasi," ujarnya.
3. Masyarakat diminta berhenti sejenak sebelum transfer

ilustrasi belanja online (pexels.com/Anthony Nguyen) OJK menilai scam telah berkembang menjadi kejahatan yang semakin kompleks. Pelaku terus beradaptasi dengan memanfaatkan teknologi, kanal digital, hingga kepercayaan masyarakat.
Karena itu, penanganan scam tidak cukup hanya dilakukan melalui penindakan hukum. Pencegahan dan kewaspadaan masyarakat juga menjadi bagian penting untuk menekan potensi kerugian.
Masyarakat diimbau tidak mudah percaya terhadap penawaran maupun permintaan yang datang melalui kanal digital. Sebelum melakukan transaksi, masyarakat diminta melakukan verifikasi dan memastikan informasi yang diterima benar.
"Selalu waspada, berhati-hati, berhenti sejenak, melakukan verifikasi, dan tidak terburu-buru dalam melakukan transaksi," katanya.


















