Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dulu Bantu Orang Tua di Warung, Kini Aulia Jadi Lulusan Terbaik IPB

Kota Bandung
Dulu Bantu Orang Tua di Warung, Kini Aulia Jadi Lulusan Terbaik IPB
Dari Warung Kecil di Bondowoso, Aulia Jadi Lulusan Terbaik IPB. Dok IPB
  • Aulia Ulfa, putri pemilik warung kecil di Bondowoso, menjadi salah satu lulusan terbaik Departemen Biologi FMIPA IPB University pada wisuda 19 Agustus 2026.
  • Penerima beasiswa KIP Kuliah ini terbantu fasilitas Asrama PKU dan Asrama Kepemimpinan, yang meringankan biaya pendidikan serta hidupnya selama merantau di Bogor.
  • Selama kuliah, Aulia aktif dalam riset, konferensi, magang, asistensi praktikum, tutoring, dan organisasi; ia juga mendapat dukungan dosen, kakak tingkat, serta teman-teman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bogor, IDN Times - Di sebuah warung kecil di Bondowoso, Jawa Timur, orang tua Aulia Ulfa menghabiskan hari-harinya menjual es, mi instan, kopi, dan aneka jajanan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Warung sederhana itu mungkin tak pernah terlihat istimewa bagi orang yang melintas. Namun dari tempat itulah lahir mimpi besar yang mengantarkan Aulia menjadi salah satu lulusan terbaik IPB University.

Pada momen wisuda yang digelar 19 Agustus 2026, Aulia berdiri sebagai lulusan Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University. Sebuah pencapaian yang terasa begitu berarti mengingat perjalanan panjang yang harus ia tempuh sejak meninggalkan kampung halamannya di Bondowoso.

Bagi Aulia, kesempatan kuliah bukan sesuatu yang datang begitu saja. Sejak kecil, keterbatasan ekonomi sudah menjadi bagian dari kehidupannya. Namun kondisi itu justru menjadi alasan untuk terus melangkah, bukan untuk menyerah.

“Di antara banyak karunia yang Allah berikan, menjadi bagian dari IPB adalah salah satu takdir yang paling saya syukuri. Bagi saya, kesempatan menjadi mahasiswa merupakan pertaruhan yang menggiurkan untuk menempa diri di tengah keterbatasan yang telah menjadi teman akrab saya sejak lahir,” ujarnya.

  1. 1. KIP Kuliah membuka jalan dari Bondowoso ke Bogor

    ilustrasi IPB (youtube.com/IPB TV)
    ilustrasi IPB (youtube.com/IPB TV)

    Lulusan SMAN 1 Tenggarang, Bondowoso, itu mengaku tak akan mudah menempuh pendidikan tinggi tanpa dukungan program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.

    Beasiswa tersebut membantu biaya pendidikannya selama kuliah di IPB. Selain itu, ia juga tinggal di Asrama Pendidikan Kompetensi Umum (PKU) dan Asrama Kepemimpinan selama tiga tahun pertama.

    Bagi sebagian mahasiswa, asrama mungkin hanya tempat tinggal sementara. Namun bagi Aulia, fasilitas itu menjadi penopang penting agar ia bisa bertahan selama merantau jauh dari keluarga.

    “Tinggal di asrama sangat meringankan biaya hidup saya selama merantau di Bogor,” katanya.

    Dukungan tersebut memberinya ruang untuk fokus belajar dan mengembangkan diri tanpa terlalu dibebani persoalan biaya hidup.

  2. 2. Tak hanya mengejar nilai, tetapi juga pengalaman

    IPB University (ipb.ac.id)
    IPB University (ipb.ac.id)

    Perjalanan Aulia di IPB tidak hanya diisi oleh aktivitas perkuliahan. Ia aktif mengikuti penelitian, konferensi ilmiah, program magang, hingga menjadi asisten praktikum dan tutor.

    Ia juga bergabung dalam IPB Sustainable Science Research Students Association (IPB SSRS) serta LKM Birena Al-Hurriyyah.

    Berbagai pengalaman itu mempertemukannya dengan banyak orang dan membuka cara pandang baru tentang ilmu pengetahuan.

    “Di IPB University, saya belajar bahwa menjadi biologist bukan hanya tentang memahami kehidupan, tetapi juga berani mempertanyakan, mengamati, dan mencari jawabannya,” ungkapnya.

    Baginya, kampus bukan hanya tempat memperoleh gelar, tetapi ruang untuk bertumbuh dan menemukan jati diri.

  3. 3. Belajar beradaptasi dari penelitian dan kehidupan

    ilustrasi mahasisws IPB (youtube.com/IPB TV)
    ilustrasi mahasisws IPB (youtube.com/IPB TV)

    Salah satu pelajaran paling berharga justru datang dari penelitian skripsinya. Dalam riset tersebut, Aulia mempelajari konsep plasticity, yaitu kemampuan organisme untuk merespons dan menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan.

    Tanpa disadari, konsep itu menjadi cerminan perjalanan hidupnya sendiri.

    Dari warung kecil di Bondowoso hingga ruang-ruang laboratorium di IPB, Aulia belajar bahwa bertahan dan beradaptasi adalah kunci untuk terus maju.

    “Saya belajar bahwa bertumbuh tidak selalu membutuhkan keadaan yang ideal. Sering kali kita justru paling banyak bertumbuh setelah mampu beradaptasi, mencoba kembali, dan memberi diri sendiri kesempatan untuk berkembang meskipun kondisi tidak sesuai harapan,” tuturnya.

    Di balik keberhasilannya, Aulia tak lupa mengingat orang-orang yang membersamainya selama kuliah. Ia bersyukur dipertemukan dengan dosen, kakak tingkat, dan teman-teman yang selalu memberi dukungan.

    “Mereka membuat perjalanan ini terasa lebih hangat dan mengajarkan bahwa sejauh apa pun saya melangkah, pencapaian tidak pernah benar-benar berjalan sendirian,” ujarnya.

    Kini, perjalanan dari warung kecil di Bondowoso menuju panggung wisuda IPB menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah tembok yang menghentikan langkah seseorang. Dengan kesempatan, kerja keras, kemampuan beradaptasi, dan dukungan orang-orang di sekitar, mimpi yang tampak jauh sekalipun bisa menjadi kenyataan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More