Halte BRT di Jalan Ahmad Yani Bikin Macet, Farhan Minta Proyek Dikebut

- Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani memicu kekhawatiran kemacetan; Wali Kota Bandung Muhammad Farhan meminta proyek dipercepat agar gangguan konstruksi tidak berkepanjangan.
- Pemkot Bandung tidak akan menutup atau mengalihkan arus Jalan Ahmad Yani, serta menyesuaikan jam kerja proyek dan memindahkan perbaikan trotoar maupun galian kabel ke malam hari.
- Pengamat menilai halte tengah jalan memangkas kapasitas jalur satu arah Ahmad Yani, sementara BRT Cekungan Bandung dirancang melayani lima wilayah melalui 18 rute mulai beroperasi 2027.
Bandung, IDN Times - Pembangunan halte Bus Rapid Transit (BRT) Cekungan Bandung di tengah Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, menuai kekhawatiran karena dinilai membuat kemacetan semakin parah. Kondisi tersebut bahkan dirasakan langsung pengendara yang melintas di kawasan tersebut.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan Pemkot Bandung telah menyiapkan langkah untuk mengantisipasi dampak pembangunan terhadap lalu lintas. Menurutnya, percepatan pengerjaan proyek menjadi pilihan agar gangguan akibat konstruksi tidak berlangsung terlalu lama.
"Solusinya adalah kita harus segera percepat si apa namanya proyeknya karena nggak ada pilihan lain," kata Farhan, Selasa (6/10/2026).
1. Sulit untuk penutupan jalan sementara

Pembangunan proyek Bus Rapid Transit di Cekungan Bandung Raya. IDN Times/Debbie Sutrisno Farhan mengatakan Pemkot Bandung tidak memilih opsi menutup Jalan Ahmad Yani atau mengalihkan arus lalu lintas ke ruas jalan lain. Menurutnya, pengalaman pembangunan infrastruktur di Kota Cimahi menunjukkan penutupan ruas utama justru dapat menimbulkan kemacetan yang lebih parah.
"Belajar dari pengalaman Cimahi yang sekarang sedang menutup ruas jalan utama wah kemacetan lebih mengerikan," ungkapnya.
Karena itu, pengerjaan BRT akan dikebut. Terlebih, BRT Cekungan Bandung ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 sehingga pekerjaan konstruksi harus segera diselesaikan.
Farhan mengatakan pihaknya akan menyosialisasikan percepatan pengerjaan tersebut kepada masyarakat. Waktu pengerjaan juga akan disesuaikan dengan pola perjalanan warga agar dampaknya terhadap lalu lintas dapat ditekan.
"Kita terpaksa harus menyesuaikan jam perjalanan kita dan juga tentu saja kita akan mengurangi titik-titik pekerjaan seperti galian kabel, seperti perbaikan-perbaikan jalan kita kurangi dulu sekarang," bebernya.
Ia menambahkan, pekerjaan perbaikan trotoar dan galian kabel akan lebih banyak dilakukan pada malam hari. "Kita akan lebih fokus pada perbaikan trotoar dan juga perbaikan galian kabel itu kita lakukan di tengah malam. Itu antisipasinya," sebut Farhan.
2. Halte tengah jalan pangkas kapasitas ruas

Pembangunan proyek Bus Rapid Transit di Cekungan Bandung Raya. IDN Times/Debbie Sutrisno Pembangunan halte di tengah Jalan Ahmad Yani sebelumnya mendapat sorotan dari pengamat Tata Kota ITB Frans Ari Prasetyo. Ia menilai pemerintah terkesan terburu-buru dalam merealisasikan program BRT.
Salah satu yang menjadi perhatian Frans adalah desain dan penempatan halte yang dinilai perlu disesuaikan dengan karakteristik jalan di Bandung. Menurutnya, pembangunan halte di tengah jalan idealnya diterapkan pada koridor yang memiliki dua arah berlawanan. Sementara Jalan Ahmad Yani merupakan jalur satu arah.
Selain persoalan desain, keberadaan halte di tengah jalan juga dinilai berpotensi memangkas kapasitas jalan. Menurut Frans, konsep tersebut lebih tepat diterapkan pada ruas jalan dengan kapasitas besar seperti Jalan Soekarno-Hatta.
3. BRT dibangun untuk 18 rute

Pembangunan proyek Bus Rapid Transit di Cekungan Bandung Raya. IDN Times/Debbie Sutrisno BRT Cekungan Bandung sendiri dirancang sebagai sistem transportasi massal yang menjangkau lima wilayah, yakni Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Sumedang. Sistem tersebut akan memiliki 18 rute layanan langsung, 21 kilometer jalur khusus, 34 stasiun BRT, 719 bus stop, serta 478 unit bus.
Proyek ini diharapkan menjadi salah satu solusi persoalan mobilitas di Bandung Raya. Dalam booklet Indonesia Mass Transit Project, waktu yang hilang akibat kemacetan di Bandung tercatat mencapai 108 jam per tahun. Analisis manfaat proyek juga memproyeksikan penurunan rata-rata waktu tempuh sebesar 11 persen, dari 45 menit menjadi 40 menit.

![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)

















