Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Suhu 37,2 Derajat Menguji Cirebon di Puncak Kemarau

Kab. Majalengka
3 min read
Suhu 37,2 Derajat Menguji Cirebon di Puncak Kemarau
Ilustrasi Kemarau. (IDN Times/Anjani Asra)
  • Suhu maksimum 37,2 derajat Celsius terpantau di Jatiwangi, Majalengka, sementara cuaca panas di Ciayumajakuning diperkirakan bertahan hingga akhir Oktober 2026.

  • Kemarau dan vegetasi kering meningkatkan risiko karhutla; masyarakat diminta menghindari pembakaran sampah, membuang puntung rokok sembarangan, serta membatasi aktivitas siang hari untuk mencegah dehidrasi.

  • BPBD Majalengka mencatat 28 kejadian karhutla pada September dan total 169,96 hektare lahan terbakar hingga 2 Oktober 2026; hujan diprediksi meningkat mulai November.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Cirebon, IDN Times - Suhu udara di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning) mencapai 37,2 derajat celcius pada periode puncak musim kemarau.

Kondisi tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga akhir Oktober 2026 sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta menggunakan air bersih secara bijak.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Kertajati, Kabupaten Majalengka, M Syifaul Fuad mengatakan, suhu maksimum 37,2 derajat Celsius terpantau di wilayah Jatiwangi, Kabupaten Majalengka.

Menurut dia, suhu tinggi pada September-Oktober merupakan kondisi yang lazim terjadi karena posisi matahari. Cuaca panas diperkirakan masih bertahan hingga akhir Oktober, sedangkan curah hujan diprediksi mulai meningkat pada November.

“Suhu tinggi tersebut lumrah di bulan September-Oktober karena posisi matahari menuju ke arah kita,” kata Fuad, Selasa (6/10/2026).

  1. 1. Suhu panas masih berlangsung

    kekeringan besar (radiowest.kuer.org)
    kekeringan besar (radiowest.kuer.org)

    Fuad mengatakan, kondisi kemarau saat ini membuat wilayah dengan vegetasi kering lebih rentan terhadap kebakaran. Karena itu, masyarakat diminta menghindari aktivitas yang dapat memicu munculnya api, terutama membakar sampah dan membuang puntung rokok sembarangan.

    Menurutnya, kondisi lahan yang kering ditambah angin dapat membuat api lebih mudah menyebar. Kewaspadaan diperlukan hingga kondisi cuaca mulai berubah dan hujan kembali turun.

    “Waspadai potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah kering dan rawan terbakar,” ujarnya.

    Selain ancaman kebakaran, cuaca terik juga dapat meningkatkan risiko dehidrasi. Masyarakat dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan pada siang hari dan memperbanyak konsumsi air putih.

  2. 2. Ada 28 karhutla terjadi pada September

    ilustrasi gelombang panas dan kekeringan (pexels.com/Johannes Plenio)
    ilustrasi gelombang panas dan kekeringan (pexels.com/Johannes Plenio)

    Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka menunjukkan karhutla menjadi salah satu kejadian bencana yang menonjol selama September 2026.

    Penata Penanggulangan Bencana Ahli Pertama pada Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Majalengka, Wawan Suryawan, mengatakan terdapat 28 kejadian karhutla selama September.

    “Karhutla masih mendominasi kejadian kebencanaan pada September lalu,” kata Wawan.

  3. 3. Sebanyak 169,96 hektare lahan terbakar

    Kabut asap semakin tebal akibat karhutla. (IDN Times/istimewa).
    Kabut asap semakin tebal akibat karhutla. (IDN Times/istimewa).

    Jika dihitung sejak awal tahun, luas lahan yang terbakar di Kabupaten Majalengka telah mencapai 169,96 hektare hingga 2 Oktober 2026. Angka tersebut merupakan akumulasi kejadian kebakaran lahan sejak 1 Januari 2026. Kondisi ini menjadi perhatian karena musim kemarau masih berlangsung dan suhu udara relatif tinggi.

    BPBD bersama TNI, Polri, serta instansi terkait terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengurangi aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Wawan mengatakan masyarakat perlu berhati-hati terhadap sumber api sekecil apa pun, terutama ketika berada di kawasan dengan kondisi vegetasi yang kering.

    Cuaca panas juga mendorong masyarakat untuk memperhatikan penggunaan air bersih. Fuad mengimbau penggunaan air dilakukan secara bijak selama periode kemarau. Masyarakat diminta tidak menggunakan air secara berlebihan dan tetap memenuhi kebutuhan tubuh dengan mengonsumsi air putih yang cukup.

    "Perkiraan hujan baru mulai turun pada November, kewaspadaan terhadap karhutla dan penghematan air masih diperlukan hingga kondisi cuaca berubah," tutupnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More