Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Karhutla Jabar Tembus 264 Kejadian, 416 Hektare Lahan Hangus

Kota Bandung
Karhutla Jabar Tembus 264 Kejadian, 416 Hektare Lahan Hangus
ilustrasi karhutla (unsplash.com/Matt Palmer)
  • BPBD Jawa Barat mencatat 264 kejadian karhutla hingga 13 September 2026, menghanguskan 416,08 hektare lahan di 252 desa/kelurahan dan 137 kecamatan.
  • Sumedang menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, 64 kasus dan 98,59 hektare terdampak; Kabupaten Bandung mencatat luas lahan terbakar terbesar, 132,80 hektare.
  • Karhutla di Blok Cileutik TNGC Kuningan diperkirakan mencapai 40 hektare tanpa korban jiwa; tim gabungan melanjutkan pemadaman, penyekatan, dan pendinginan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda berbagai wilayah di Jawa Barat sepanjang tahun 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat mencatat, hingga Minggu (13/9/2026) pukul 07.00 WIB, total akumulasi luas lahan yang terbakar di Jabar telah mencapai 416,08 hektare.

Dampak bencana karhutla ini tersebar di 252 desa/kelurahan yang berada di 137 kecamatan dari total 264 kejadian kebakaran yang terdata di seluruh Jawa Barat.

Berdasarkan data sebaran kejadian BPBD Jawa Barat, Kabupaten Sumedang menjadi daerah yang paling parah terdampak karhutla sepanjang tahun 2026. Sumedang mencatatkan kejadian terbanyak sekaligus kerusakan lahan terluas. Berikut wilayah kabupaten/kota dengan jumlah kejadian karhutla:

Kab. Sumedang: 64 kejadian (98,59 ha)

Kab. Ciamis: 34 kejadian (28,05 ha)

Kab. Bandung: 22 kejadian (l32,80 ha)

Kab. Subang: 20 kejadian ( 40,53 ha)

Kab Majalengka: 18 kejadian (53,66 ha)

Kab. Sukabumi: 16 kejadian (53,30 ha)

Kab. Purwakarta: 13 kejadian (8,92 ha)

Kab. Kuningan: 12 kejadian (23,80 ha)

Kab. Karawang: 10 kejadian (1,05 ha)

Kab. Cirebon: 9 kejadian (21,73 ha)

Kab. Bogor: 8 kejadian (5,25 ha)

Kab. Garut: 7 kejadian (10,01 ha)

Kab. Pangandaran: 7 kejadian (21,07 ha)

Kab. Cianjur: 6 kejadian (7,40 ha)

Kota Sukabumi: 5 kejadian (3,06 ha)

Kota Bandung: 4 kejadian (0,05 ha)

Kab. Bandung Barat: 4 kejadian (0,58 ha)

Kota Depok: 2 kejadian (0,08 ha)

Kab. Tasikmalaya: 1 kejadian (5,00 ha)

Kota Cimahi: 1 kejadian (0,05 ha)

Kab. Indramayu: 1 kejadian (0,05 ha)

Mengingat luasnya area terdampak serta risiko cuaca kering yang masih melanda Jawa Barat, BPBD Provinsi Jawa Barat terus bersiaga dan mengimbau masyarakat untuk segera melapor jika menemukan titik api atau aktivitas pembakaran liar di lingkungannya.

Warga yang memerlukan bantuan penanganan darurat atau ingin melaporkan potensi kebakaran lahan dapat menghubungi Call Center BPBD Jawa Barat di nomor 0899-9404-629, atau memantau pembaruan informasi melalui situs resmi bpbd.jabarprov.go.id dan akun Instagram.

Sebelumnya, Berton SP Panjaitan, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB menyebutkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta banjir dan kekeringan masih menjadi bencana yang terus mendapatkan atensi dari pemerintah pusat dan daerah.

Kepulan asap dari kejadian karhutla muncul di kawasan lahan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) Blok Cileutik, Kecamatan Pasawahan, Desa Singkup, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, pada Senin (7/9/2026).

BNPB melaporkan tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, sementara kerugian material diperkirakan mencapai sekitar 40 hektare dan masih dalam pendataan. TNGC beserta aparat desa berkoordinasi dengan aparat kecamatan, TNI, Polri, dan BPBD Kabupaten Kuningan. BPBD Kabupaten Kuningan turut mengirimkan tim asesmen dan penanganan, sementara tim gabungan.

Sebagai upaya Penanganan, BPBD Jabar melakukan pemadaman menggunakan jetshooter serta cara manual. Kebutuhan mendesak yang sangat diharapkan meliputi tim penanganan tambahan, peralatan pemadaman karhutla, dan logistik.

Adapun luas kebakaran diperkirakan 40 ha dan masih dilakukan pemetaan oleh pihak TNGC. Kondisi terkini pada Rabu (9/9/2026) menunjukkan tim gabungan masih melakukan pemadaman, penyekatan, dan pendinginan. Sementara pada pukul 20.00 WIB titik api sudah tidak terlihat meski penyekatan dan pendinginan masih terus dilakukan.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More