Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

943 Ribu Jiwa Terdampak Kekeringan di Jabar, Tersebar di 246 Kecamatan

Kota Bandung
943 Ribu Jiwa Terdampak Kekeringan di Jabar, Tersebar di 246 Kecamatan
BPBD Kota Semarang melaksanakan penyaluran air bersih ke sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan. (dok. BPBD)
  • Kekeringan di Jawa Barat sepanjang 2026 berdampak pada 943.492 jiwa atau 291.607 KK, tersebar di 660 desa/kelurahan pada 246 kecamatan.
  • Hingga 13 September 2026, 25.002.900 liter air bersih telah disalurkan berbagai lembaga; Kabupaten Bekasi menerima terbanyak, 9.881.700 liter.
  • BMKG memprakirakan Jawa Barat didominasi cuaca cerah dan kering pada 14–20 September, dengan peluang hujan lokal terbatas di Majalengka dan Kuningan pada 18 September.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Sebanyak 943.492 jiwa di Jawa Barat terdampak bencana kekeringan sepanjang 2026. Kondisi tersebut tersebar di 660 desa/kelurahan yang berada di 246 kecamatan di berbagai kabupaten/kota.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat per 13 September 2026 pukul 07.00 WIB, jumlah warga terdampak tersebut berasal dari 291.607 kepala keluarga (KK). Untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, sebanyak 25.002.900 liter air telah didistribusikan ke wilayah terdampak.

Distribusi air bersih dilakukan secara bertahap dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari BPBD, PMI, PDAM, kepolisian, BBWS, Baznas, TNI, komunitas, dunia usaha, Kementerian Pekerjaan Umum, Tagana hingga pemerintah daerah.

  1. 1. Bekasi paling banyak dapat suplai

    IMG-20260911-WA0616.jpg
    Penyaluran bantuan air bersih di salah satu wilayah terdampak kekeringan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (10/9/2026). (Dok. Pemkot Makassar)

    Dikutip dari data BPBD Jabar, Kabupaten Bekasi menjadi wilayah dengan distribusi air bersih terbanyak di Jawa Barat. Hingga 13 September 2026, wilayah tersebut telah menerima 9.881.700 liter air untuk masyarakat terdampak kekeringan.

    Kabupaten Bogor berada di posisi berikutnya dengan distribusi mencapai 5.503.000 liter. Kemudian Kabupaten Pangandaran sebanyak 1.380.000 liter, Kabupaten Ciamis 1.283.000 liter, dan Kota Tasikmalaya sebanyak 1.033.000 liter.

    Sementara itu, Kabupaten Purwakarta menerima 964.000 liter, Kabupaten Karawang 928.000 liter, Kabupaten Tasikmalaya 640.000 liter, Kabupaten Garut 447.000 liter, serta Kabupaten Bandung Barat sebanyak 419.000 liter.

    Distribusi juga dilakukan ke sejumlah wilayah lain seperti Kabupaten Bandung, Kota Banjar, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Subang, Kota Cirebon, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, hingga Kabupaten Majalengka.

    "Penanganan kekeringan dilakukan dengan memastikan kebutuhan dasar masyarakat, terutama akses terhadap air bersih, tetap terpenuhi di wilayah yang mengalami keterbatasan sumber air," kutip IDN Time dari data BPBD, Minggu (13/9/2026).

  2. 2. Suplai air diberikan berbagai lembaga

    droping air, air bersih, kemarau, kekeringan
    BPBD Kota Semarang melaksanakan penyaluran air bersih ke sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan. (dok. BPBD)

    Dari total air yang telah didistribusikan, BPBD Jawa Barat menjadi salah satu unsur dengan kontribusi terbesar, yakni mencapai 15.678.200 liter.

    Selain BPBD, distribusi air juga didukung PMI sebanyak 2.559.000 liter, PDAM 3.276.000 liter, Kementerian Pekerjaan Umum 886.900 liter, dunia usaha 768.600 liter, Tagana 670.000 liter, komunitas 510.800 liter, BBWS 248.000 liter, pemerintah daerah 200.000 liter, Baznas 156.000 liter, Polres 43.000 liter, serta Kodim 7.000 liter.

    Dampak kekeringan tidak hanya terlihat dari luas wilayah yang membutuhkan pasokan air, tetapi juga dari jumlah keluarga yang terdampak. Data BPBD Jabar mencatat terdapat 291.607 KK atau 943.492 jiwa yang masuk dalam catatan masyarakat terdampak kekeringan.

    Kondisi tersebut membuat distribusi air bersih menjadi salah satu langkah penanganan yang terus dilakukan pemerintah bersama berbagai unsur terkait. Pasokan air diarahkan ke desa dan kelurahan yang mengalami kesulitan mendapatkan sumber air untuk kebutuhan sehari-hari. BPBD Jawa Barat juga terus memantau perkembangan kondisi kekeringan di sejumlah wilayah seiring berlangsungnya musim kemarau.

  3. 3. Curah hujan sangat minim di Jabar sepekan ke depan

    Cuaca Hujan
    Cuaca Hujan (magnific.com/magnific)

    Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun Klimatologi Jawa Barat kembali merilis prakiraan cuaca mingguan untuk periode 14 hingga 20 September 2026. Sepanjang sepekan ke depan, sebagian besar wilayah di Jawa Barat diprakirakan akan didominasi oleh cuaca cerah dan kering dengan curah hujan yang cenderung rendah.

    Meski demikian, BMKG mencatat masih ada potensi hujan lokal berintensitas sedang yang dapat disertai kilat, petir, serta angin kencang berdurasi singkat di wilayah tertentu. Berdasarkan pembaruan data cuaca per 13 September 2026 pukul 09.30 WIB, potensi hujan tersebut hanya terjadi pada akhir pekan, tepatnya pada Jumat, 18 September 2026.

    "Hujan diprediksi kawasan Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan, sedangkan daerah lain nihil," kata prakirawan BMKG Jabar Edi Wibowo.

    Kondisi atmosfer saat ini dipengaruhi oleh indeks NINO 3.4 yang berada di kisaran angka +2.54, yang mengindikasikan tidak adanya pengaruh signifikan terhadap peningkatan pola konvektif di sebagian wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat. Kelembapan udara pada lapisan 850–700 mb berada pada kisaran 40 hingga 95 persen, disertai anomali suhu muka laut antara -3.0 hingga +3.5 derajat Celsius.

    Kondisi tersebut menunjukkan adanya potensi penguapan dan penambahan massa uap air di Pesisir Utara Jawa Barat, yang berpadu dengan tingkat labilitas atmosfer ringan hingga sedang sehingga memicu peluang lahirnya hujan lokal secara terbatas.

    Menyikapi dominasi cuaca kering ini, BMKG meminta masyarakat dan instansi terkait untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai dampak musim kemarau. Ancaman yang perlu diantisipasi di antaranya penurunan ketersediaan air bersih, kekeringan pada lahan pertanian, hingga potensi peningkatan titik panas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan.

    "Kami mengimbau agar warga lebih bijak dalam memanfaatkan air bersih, tidak membakar sampah atau lahan secara sembarangan, serta tetap menjaga kondisi fisik dari paparan debu dan suhu panas ekstrem," kata dia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More