Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pelajar Garut Ditembak, Proyektil Airgun Bersarang di Mata hingga Buta

Kota Bandung
3 min read
Pelajar Garut Ditembak, Proyektil Airgun Bersarang di Mata hingga Buta
ilustrasi Penembakan (IDN Times/Aditya Pratama)
  • PP (15) mengalami kebutaan pada mata kiri setelah proyektil airgun bersarang akibat penembakan di vila Kabupaten Garut pada 26 September 2026.

  • Korban sempat mengaku matanya terkena bola, namun akhirnya memberi tahu keluarga setelah sakit dan gangguan penglihatan memburuk; ia menjalani pemeriksaan serta persiapan operasi di RS Mata Cicendo.

  • Polres Garut memburu pria berinisial H yang diduga menembakkan airgun secara acak hingga melukai dua orang, sambil mendalami dugaan intimidasi terhadap korban.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Mata kiri seorang anak laki-laki PP (15 tahun) kini tak lagi bisa melihat seperti sebelumnya. Sebuah proyektil peluru airgun masih bersarang di dalam matanya setelah ia ditembak saat berada di sebuah vila di Kabupaten Garut.

Di Rumah Sakit Mata Cicendo, Kota Bandung, Selasa (6/10/2026), Pazwa masih menjalani pemeriksaan dan persiapan untuk operasi. Proyektil yang bersarang di mata kirinya harus segera diangkat.

"Rencananya nanti operasi, untuk ambil proyektil pelurunya," ujar Imelia Pratiwi, Ketua Asosiasi Perlindungan dan Kesejahteraan Anak, yang mendampingi Pazwa dan keluarganya, Selasa (6/10/2026).

  1. 1. Terduga pelaku merupakan kakak tingkat di sekolah

    Ilustrasi Penembakan. (IDN Times/Sukma Shakti)
    Ilustrasi Penembakan. (IDN Times/Sukma Shakti)

    Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (26/9/2026). Saat itu, PP sedang berkumpul bersama sejumlah rekannya di sebuah vila di Kabupaten Garut. Suasana berubah ketika seorang pria berinisial H datang membawa senjata airgun jenis pistol.

    H diketahui pernah bersekolah di SMP yang sama dengan PP. Usianya disebut lebih tua sekitar dua tahun dan merupakan kakak kelas korban ketika masih duduk di bangku SMP.

    Menurut keterangan yang dihimpun pendamping korban, pria tersebut kemudian menembakkan airgun secara acak ke sejumlah objek di lokasi. Dua orang menjadi korban tembakan. Salah satunya terkena bagian tubuh, sementara proyektil lainnya mengenai mata kiri Pazwa.

  2. 2. Korban mengalami buta

    Ilustrasi penembakan. (IDN Times/Arief Rahmat)
    Ilustrasi penembakan. (IDN Times/Arief Rahmat)

    Namun, sepulang dari kejadian, PP justru tidak langsung mengatakan kepada orangtuanya bahwa dirinya terkena tembakan. Ia memilih mengatakan matanya terkena bola ketika sedang bermain di vila.

    Kondisinya kemudian semakin memburuk. Rasa sakit dan gangguan penglihatan yang dialami membuat PP akhirnya menceritakan kejadian sebenarnya kepada keluarganya.

    Korban pun telah dua kali menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Mata Cicendo. Dari pemeriksaan tersebut diketahui proyektil masih berada di dalam mata kirinya. "Kondisi saat ini, proyektil peluru masih ada di dalam mata. Kalau cerita korban, itu sudah tidak terlihat apa-apa, buta aja yang sebelah kiri," kata Imelia.

  3. 3. Polisi buru pelaku

    Ilustrasi Penembakan. (Aditya Pratama)
    Ilustrasi Penembakan. (Aditya Pratama)

    Kini keluarga fokus mendampingi PP menjalani pengobatan. Di sisi lain, kasus tersebut telah dilaporkan kepada Polres Garut. Satreskrim Polres Garut masih memburu pria yang diduga sebagai pelaku penembakan tersebut.

    Kasat Reskrim Polres Garut AKP Herman mengatakan polisi telah menerima informasi mengenai kejadian tersebut dan tengah mencari keberadaan pelaku.

    "Sudah monitor, pelakunya sedang kami cari. Untuk korban ya anak-anak. Nah, untuk pelaku masih simpang siur, apakah anak atau dewasa. Tapi kemungkinan besar dewasa. Informasinya apakah 18 tahun atau (entah) berapa," kata Herman.

    Dari keterangan sejumlah saksi, pria yang membawa airgun tersebut diduga bukan seorang pelajar. Ia disebut sebagai laki-laki dewasa yang sejak awal menembakkan pistol airgun ke sejumlah objek secara sembarangan.

    Polisi juga mendalami dugaan adanya intimidasi terhadap korban. Dugaan itu menjadi salah satu alasan Pazwa sempat menutupi kejadian sebenarnya dari orang tuanya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More