Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pemkot Bandung Gandeng Danantara-Kemenristek Olah Sampah Jadi Briket

Kota Bandung
Pemkot Bandung Gandeng Danantara-Kemenristek Olah Sampah Jadi Briket
Menteri Diktisaintek, Prof Brian Yuliarto, Wali Kota Bandung M Farhan, dan CTO Danantara Sigit Puji Santoso memberikan keterangan kepada awak media di Balaikota Bandung, Jumat(21/8/2026).
  • Pemkot Bandung bekerja sama dengan Danantara dan Kemendiktisaintek membangun fasilitas pengolahan sampah di Gedebage, menyusul masalah sampah mendesak dan ketiadaan TPA milik kota.
  • Fasilitas berkapasitas 300 ton per hari akan memisahkan sampah organik untuk maggot, sementara residu diolah menjadi SRF berupa briket bagi industri dan pembangkit energi.
  • Investasi proyek diperkirakan Rp50-60 miliar, ditargetkan selesai sekitar empat bulan dan beroperasi Desember 2026-Januari 2027, dengan perguruan tinggi mendukung kajian teknologi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Pemerintah Kota Bandung menggandeng Danantara dan Kementerian Pendidikan Perguruan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) untuk menghadirkan teknologi dalam pengolahan sampah. Hal ini penting karena tumpukan sampah di Bandung terus bertambah sedangkan pengolahan masih sulit dimaksimalkan.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, fasilitas tersebut kemungkinan besar dibangun di Gedebage yang saat ini memang sudah ada tempat untuk mengelola sampah melalui maggot. Pemkot Bandung memilih bergerak cepat karena persoalan sampah di Kota Bandung mendesak, terlebih kota ini belum memiliki Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sendiri.

"Kota Bandung merupakan satu-satunya ibu kota provinsi yang tidak memiliki Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sendiri," ujar Farhan di Balaikota, Jumat (21/8/2026).

  1. 1. Satu titik bisa olah 300 ton sampah

    IMG-20260804-WA0014.jpg
    Bandung Siapkan 100 Armada Sampah Jelang Operasional Legok Nangka. Dok Diskominfo Bandung

    Farhan mengatakan fasilitas pengolahan sampah tersebut akan dibangun di salah satu Satuan Wilayah Kerja (SWK) Kota Bandung. Berdasarkan hasil survei, Gedebage menjadi lokasi yang paling memungkinkan.

    Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas pengolahan hingga 300 ton sampah per hari. Pemkot Bandung bahkan berencana mengembangkan fasilitas yang saat ini sudah ada di Gedebage.

    "Kita sudah memiliki fasilitas TPS Maggot di Gedebage. Fasilitas tersebut nantinya akan di-upgrade menjadi pusat pengolahan sampah yang lebih besar," kata Farhan.

    Teknologi yang digunakan mengolah sampah residu menjadi Solid Recovered Fuel (SRF). Sementara sampah organik akan dipisahkan dan dapat diolah menggunakan teknologi maggot.

  2. 2. Sampah nantinya tidak usah dibawa ke TPA

    IMG-20260804-WA0011.jpg
    Bandung Siapkan 100 Armada Sampah Jelang Operasional Legok Nangka. Dok Diskominfo Bandung

    Sementara itu, CTO Danantara Sigit Puji Susanto menuturkan bahwa SRF yang dihasilkan berupa bahan bakar padat berkalori tinggi atau solid fuel. Produk akhirnya berupa briket yang dapat digunakan untuk kebutuhan industri, seperti boiler, kilang, hingga pembangkit energi.

    "Output dari fasilitas ini adalah solid fuel atau bahan bakar padat berupa briket yang dapat digunakan untuk boiler industri maupun pembangkit energi," ujarnya.

    Pengolahan sampah ini dirancang menggunakan konsep desentralisasi. Artinya, sampah tidak perlu seluruhnya dibawa ke TPA, tetapi diproses di wilayah masing-masing.

    Sigit mengatakan, teknologi yang dipilih menggunakan sistem tertutup sehingga proses pengolahan dapat dikontrol. Menurutnya, aspek lingkungan dan kenyamanan warga menjadi salah satu syarat utama dalam pemilihan teknologi.

    "Kami tidak ingin proyek ini justru melahirkan masalah baru. Karena itu, fasilitas ini harus bebas bau dan tidak menimbulkan polusi," kata Sigit.

    Jika nantinya setiap SWK memiliki fasilitas serupa dengan kapasitas 300 ton per hari, persoalan sampah Kota Bandung diharapkan dapat ditangani secara lebih menyeluruh.

  3. 3. Investasi butuh puluhan miliar

    IMG_20260602_090934.jpg
    Sampah di TPS Cijambe Menumpuk, DLH Lakukan Pembersihan. IDN Times/Debbie Sutrisno

    Dari sisi investasi, fasilitas pengolahan sampah berkapasitas 300 ton per hari diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp50 miliar hingga Rp60 miliar. Namun, angka tersebut masih dalam proses perhitungan finansial secara lebih detail.

    Sigit mengatakan kapasitas fasilitas masih dapat dikembangkan. Jika nantinya ditingkatkan hingga 1.000 ton per hari, kebutuhan investasinya tidak otomatis meningkat tiga atau empat kali lipat.

    Pembangunan fasilitas ditargetkan selesai dalam waktu sekitar empat bulan. Jika sesuai rencana, fasilitas tersebut dapat mulai beroperasi pada Desember 2026 hingga Januari 2027.

    Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Brian Yuliarto mengatakan perguruan tinggi didorong ikut mencari solusi atas persoalan sampah di berbagai daerah. Bandung menjadi salah satu daerah yang akan menjadi lokasi penerapan hasil kajian dan pengembangan teknologi tersebut.

    Brian mengatakan pengembangan teknologi pengolahan sampah merupakan bagian dari arahan Presiden agar perguruan tinggi tidak hanya berfokus pada pendidikan, tetapi juga berkontribusi menyelesaikan persoalan di masyarakat.

    Perguruan tinggi didorong melakukan berbagai kajian untuk menemukan teknologi yang sesuai dengan karakteristik persoalan sampah di setiap daerah.

    "Kita memasuki tahap lanjutan dari kerja sama yang telah dibangun. Sesuai arahan Presiden, perguruan tinggi didorong untuk melakukan berbagai kajian guna mendukung percepatan penyelesaian masalah sampah di berbagai daerah di Indonesia," katanya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More