Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Hindari Meremehkan Emosi Lawan Bicara saat Ngobrol, Ini 6 Dampaknya

Hindari Meremehkan Emosi Lawan Bicara saat Ngobrol, Ini 6 Dampaknya
ilustrasi perempuan ngobrol di kantor (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Mengobrol adalah kegiatan yang sulit lepas dari keseharian kita. Aktivitas ini tak hanya berlangsung di tempat-tempat santai seperti kafetaria, warung kopi atau kantin. Tapi bisa juga di rumah bersama pasangan, orangtua dan saudara.

Kegiatan mengobrol merupakan salah satu cara untuk menjalin kehangatan, keakraban dan keharmonisan. Tidak hanya itu, mengobrol juga bisa bikin pikiran lebih jernih, perasaan lebih tenang dan beban batin berkurang. Itu semua dapat tercapai jika kita mengobrol dengan lawan bicara yang tepat.

Lawan bicara yang tepat sudah pasti menjadi pendengar yang baik juga. Dia cenderung tidak meremehkan emosi teman mengobrolnya. Dia akan berusaha mendengarkan dengan seksama, menanggapi dan memvalidasi segala informasi yang diperbincangkan. 

Lantas, apa saja dampak meremehkan emosi lawan bicara saat mengobrol? Mari kita simak uraian berikut. 

 

1. Bikin suasana pembicaraan gak nyaman

Ilustrasi ngobrol (Phinemo.com)
Ilustrasi ngobrol (Phinemo.com)

Saat kamu meremehkan emosi lawan bicara dalam mengobrol, suasana pembicaraan bisa jadi gak nyaman. Pembicaraan yang bikin gak nyaman tentu lama-lama bisa jadi canggung. Kecanggungan bahkan bisa membuat hubungan kalian merenggang. Ketika hubungan merenggang, kalian jadi gak akrab lagi, deh. 

2. Lawan bicara jadi kurang respek

ilustrasi dua orang berdebat (pexels.com/PNW Production)
ilustrasi dua orang berdebat (pexels.com/PNW Production)

Saat kamu meremehkan emosi lawan bicara dalam mengobrol, lawan bicara juga bisa kehilangan rasa respek terhadap kamu. Awalnya, dia menganggap kamu baik dan bisa diandalkan. Namun, setelah mengobrol dan merasa dianggap cengeng dan tidak dihargai, dia mulai berubah pikiran tentangmu. Mungkin tidak masalah jika hanya terjadi pada satu orang. Bagaimana jika itu berlangsung terus menerus? Maka akan semakin banyak orang yang tidak menyukaimu karena etika burukmu. 

3. Lawan bicara merasa tidak dihargai

ilustrasi wanita hijab sedang menegur relasinya (pexels.com/Thirdman)
ilustrasi wanita hijab sedang menegur relasinya (pexels.com/Thirdman)

Lawan bicara akan merasa dihargai jika ceritanya ditanggapi dengan penuh simpatik. Dia juga akan merasa nyaman mengobrol dengan orang yang merespon dengan tepat. Meremehkan emosi lawan bicara sedikit banyak menunjukkan sikap antipati. Itu membuat lawan bicara merasa tidak dihargai. 

4. Kamu mendapat cap sebagai pendengar yang buruk

ilustrasi kurang respek dengan lawan bicaranya (pexels.com/Los Muertos Crew)
ilustrasi kurang respek dengan lawan bicaranya (pexels.com/Los Muertos Crew)

Meremehkan emosi lawan bicara saat mengobrol bikin kamu dicap sebagai pendengar yang buruk. Bagaimana tidak? Di saat dia menceritakan kesedihannya, kamu malah bilang sedih itu tidak ada gunanya. Di saat dia menceritakan kesulitannya, kamu menyalahkannya dan tidak memberi solusi. Terus-menerus meremehkan emosi lawan bicara hanya membuat imej dirimu jadi jelek. 

5. Sulit menjalin relasi di kesempatan berbeda

ilustrasi orang yang bisa kehilangan relasi (pexels.com/Edmond Dantès)
ilustrasi orang yang bisa kehilangan relasi (pexels.com/Edmond Dantès)

Jika sikap meremehkan emosi lawan bicara saat mengobrol sudah menjadi kebiasaan, mungkin akan sulit merubahnya dalam waktu singkat. Kamu bisa memiliki sikap yang sama dengan orang berbeda dan di waktu berbeda. Kamu jadi sulit diterima di komunitas tertentu karena mempertahankan sikap demikian. Akhirnya, relasi-relasi potensial yang kamu butuhkan jadi sulit dijangkau. 

6. Mengundang perselisihan

ilustrasi dua orang yang bertengkar (pexels.com/Timur Weber)
ilustrasi dua orang yang bertengkar (pexels.com/Timur Weber)

Meremehkan emosi lawan bicara saat mengobrol juga cenderung mengundang perselisihan. Hal itu wajar terjadi karena ada tipe orang yang sulit mengendalikan emosi dan senang blak-blakan. Jika lawan bicaramu bertipe begitu, maka pertengkaran mudah terpicu. Sebaiknya, kamu belajar untuk memaklumi emosi orang lain saat mengobrol agar pembicaraan berlangsung damai dan santai. 

Meremehkan emosi lawan bicara saat mengobrol memang tidak sepenuhnya salah. Sebab, ada momen yang membutuhkan kejujuran dan sedikit adu pikiran. Faktor itulah yang sering memicu perselisihan. Maka, terapkanlah hal ini di saat kalian membicarakan hal-hal di luar urusan profesionalitas. Dengan batasan demikian, tak perlu ada baper di antara kamu dan relasi atau temanmu. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More

Sekolah Maung Jabar akan Terima Murid Berprestasi dari Jalur SPMB

09 Mei 2026, 19:15 WIBNews