Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Cuaca Tak Menentu, Sekda Jabar Kaji Perpanjangan Status Siaga Bencana

Cuaca Tak Menentu, Sekda Jabar Kaji Perpanjangan Status Siaga Bencana
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman (IDN Times/Azzis Zulkhairil)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah mengkaji perpanjangan status siaga bencana karena cuaca tak menentu dan potensi bencana hidrometeorologi yang masih tinggi hingga beberapa bulan ke depan.
  • BPBD Jabar mencatat 23 peristiwa bencana alam pada awal April 2026 di 11 kabupaten kota, menyebabkan kerusakan ratusan rumah, fasilitas umum, serta satu korban meninggal dunia.
  • BMKG memprediksi musim kemarau datang lebih cepat dengan curah hujan Bawah Normal dan durasi lebih panjang, berpotensi menimbulkan kekeringan, gangguan irigasi, serta risiko kebakaran hutan dan lahan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandung, IDN Times - Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana memperpanjang status siaga kebencanaan dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini dilakukan karena kondisi cuaca yang belum menentu dan berpotensi terjadi bencana hidrometeorologi.

Status siaga kebencanaan ini sebelumnya sudah ditetapkan sejak 2025 dan akan berakhir pada 30 April 2026. Sekda Provinsi Jabar, Herman Suryatman mengatakan, penerapan kembali status itu masih dalam tahap kajian.

"Nanti kita lihat yang jelas kita selalu waspada bencana, Jabar Provinsi rawan bencana jadi kami imbau 27 kabupaten kota kepada warga masyarakat harus selalu siaga," ujar Herman, Rabu (29/4/2026).

1. Sekda ingatkan potensi Sesar Lembang

IMG-20250724-WA0021.jpg
Sekda Jabar Herman Suryatman (IDN Times/Azzis Zul Khairil)

Selain soal siaga kebencanaan untuk bencana hidrometeorologi, Herman meminta kabupaten kota di Jawa Barat khususnya wilayah Bandung Raya dan sekitarnya turut melakukan mitigasi potensi aktivitas dari Sesar Lembang.

"Termasuk potensi bencana Sesar Lembang, dan apabila terjadi bencana terutama bencna gempa harus melakukan gerakan merunduk lindungi kepala (Gempa). Jadi kalau ada gempa yang pertama merunduk lindungi kepala," kata dia.

Sebagai informasi, selama awal pekan April 2026 BPBD Jabar mencatat ada 23 peristiwa bencana alam turut terjadi di sejumlah daerah di Provinsi Jawa Barat. Bencana alam selama periode ini turut membuat dampak kerusakan rumah warga dan juga fasilitas umum lainnya.

Dari data BPBD Jabar, bencana alam terjadi di sebelas kabupaten kota dengan rinciannya ada sebanyak tujuh peristiwa banjir, tujuh bencana longsor, dan sembilan cuaca ekstrem. Kepala Pelaksana BPBD Jabar Teten Ali mengatakan, pada periode awal pekan bulan ini 23 kejadian bencana alam terjadi di Jabar.

"Total ada 23 peristiwa bencana alam, mengakibatkan 76 rumah rusak berat, 99 rusak sedang, 102 rusak ringan, 647 rumah terendam, dan 6.173 jiwa terdampak, satu rumah ibadah, lima fasilitas pendidikan, dan satu orang meninggal," ujar Teten, Kamis (9/4/2026).

2. Jabar sudah masuk musim kemarau

Lahan sawah mengering karena kemarau
Lahan sawah mengering karena kemarau (Pinterest.com/Betty Palen)

Sedangkan, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Bandung memprediksi musim kemarau tahun ini akan datang lebih cepat dari normal dengan sifat hujan didominasi Bawah Normal di sebagian besar wilayah.

"Awal musim kemarau diprediksi terjadi bertahap mulai Maret hingga Juni 2026, dengan sebagian besar wilayah memasuki musim kemarau pada Mei 2026," kata Koordinator UPT BMKG Jabar sekaligus Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Teguh Rahayu alias Ayyu, Rabu (11/3/2026).

Secara umum, sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi mengalami sifat hujan Bawah Normal, dengan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dan durasi kemarau berkisar 13–15 dasarian dan diprediksi memiliki durasi lebih panjang dari normal.

Dengan sifat hujan yang didominasi Bawah Normal dan durasi kemarau yang cenderung lebih panjang, ada beberapa potensi dampak yang perlu diwaspadai masyarakat.

"Beberapa di antaranya kekeringan meteorologis, penurunan ketersediaan air bersih, gangguan irigasi pertanian, peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan," ujar Ayyu.

3. Sebagian wilayah Jabar ada yang belum masuk musim kemarau

Ilustrasi kemarau
Ilustrasi kemarau (commons.wikimedia.org/Houssain tork)

BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengantisipasi potensi kekeringan, penurunan ketersediaan air, gangguan irigasi pertanian, serta peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan, melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih optimal dan penyesuaian kalender tanam.

Adapun awal musim kemarau 2026 diprediksi terjadi di wilayah Bekasi bagian utara, Kota Bekasi bagian utara, dan Karawang bagian barat laut. Selanjutnya pada April 2026 diperkirakan terjadi di sebagian wilayah Bekasi, Karawang, Purwakarta bagian timur laut, Subang bagian utara, Indramayu, serta sebagian wilayah Cirebon.

Sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026, meliputi sebagian wilayah Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung Raya, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Pangandaran, serta wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Ciamis, dan Banjar.

Kemudian pada Juni 2026, musim kemarau diperkirakan meluas ke sebagian besar wilayah Bogor, Sukabumi bagian utara, Cianjur bagian barat laut, Bandung Raya, Garut bagian tenggara, Tasikmalaya bagian selatan, dan Pangandaran bagian barat. Selain itu terdapat 1 ZOM bertipe satu musim (2,4 persen).

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Galih Persiana
EditorGalih Persiana
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More