Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ancaman Kanker Meningkat, Deteksi Dini dan Terapi Inovatif Jadi Kunci

Ancaman Kanker Meningkat, Deteksi Dini dan Terapi Inovatif Jadi Kunci
Dok.IDN Times
Intinya Sih
  • Kasus kanker di Indonesia terus meningkat dan diproyeksikan melonjak hingga 70 persen pada 2050, mengancam produktivitas serta stabilitas ekonomi nasional.
  • Tingkat kesadaran deteksi dini masih rendah, banyak pasien datang saat stadium lanjut sehingga peluang sembuh menurun dan biaya pengobatan meningkat.
  • Akses terhadap terapi inovatif seperti imunoterapi dinilai penting untuk meningkatkan harapan hidup pasien sekaligus menekan beban ekonomi jangka panjang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandung, IDN Times – Ancaman kanker di Indonesia kian meningkat seiring proyeksi lonjakan kasus dalam beberapa dekade ke depan. Deteksi dini dan akses terhadap terapi inovatif dinilai menjadi kunci utama untuk menekan angka kematian sekaligus mengurangi beban ekonomi nasional.

Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay menekankan bahwa penanganan kanker membutuhkan pendekatan yang lebih progresif dan terintegrasi, tidak hanya dari sisi pengobatan tetapi juga pencegahan dan akses layanan kesehatan.

Menurut dia, penanganan kanker membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, industri, hingga masyarakat. Dengan pendekatan yang terintegrasi mulai dari deteksi dini hingga akses terapi ancaman kanker di Indonesia dapat ditekan secara lebih efektif.

1. Kasus kanker meningkat jadi ancaman serius bagi negara

ilustrasi kanker payudara (IDN Times/Aditya Pratama)
ilustrasi kanker payudara (IDN Times/Aditya Pratama)

Kanker menjadi salah satu penyakit dengan beban tertinggi di Indonesia. Data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022 mencatat lebih dari 400 ribu kasus baru setiap tahun dengan angka kematian yang tinggi.

Jika tidak ditangani dengan langkah strategis, jumlah kasus kanker diperkirakan terus meningkat hingga lebih dari 70 persen pada 2050. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga pada produktivitas tenaga kerja dan stabilitas ekonomi nasional.

Menurut Esra, kanker berpotensi menjadi hambatan tersembunyi bagi pembangunan jika tidak direspons secara serius.

“Tanpa intervensi yang lebih progresif, kanker bisa menjadi penghambat pembangunan karena berdampak pada produktivitas dan beban ekonomi jangka panjang,” ujar Esra.

2. Deteksi dini masih rendah, pasien banyak datang saat stadium lanjut

ilustrasi kanker payudara (IDN Times/Novaya Siantita)
ilustrasi kanker payudara (IDN Times/Novaya Siantita)

Salah satu tantangan utama dalam penanganan kanker di Indonesia adalah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini. Banyak pasien baru memeriksakan diri saat kondisi sudah memasuki stadium lanjut.

Pada kasus kanker payudara, lebih dari 70 persen pasien diketahui datang dalam kondisi lanjut. Hal ini membuat peluang kesembuhan semakin kecil dan biaya pengobatan semakin besar.

Esra menilai peningkatan literasi kesehatan menjadi langkah penting agar masyarakat lebih sadar terhadap skrining kanker.

“Deteksi dini harus menjadi bagian dari budaya kesehatan masyarakat, bukan sekadar imbauan,” kata Esra.

Ia menambahkan bahwa diagnosis awal harus diikuti dengan akses pengobatan yang memadai agar hasilnya bisa optimal.

3. Akses terapi inovatif jadi kunci tingkatkan harapan hidup

ilustrasi kanker payudara (IDN Times/Mardya Shakti)
ilustrasi kanker payudara (IDN Times/Mardya Shakti)

Perkembangan teknologi medis menghadirkan berbagai terapi inovatif seperti terapi target dan imunoterapi yang mampu meningkatkan angka harapan hidup pasien kanker.

Namun, tidak semua pasien di Indonesia memiliki akses terhadap pengobatan tersebut. Keterbatasan akses dan pembiayaan masih menjadi tantangan utama dalam pemerataan layanan kesehatan.

Menurut Esra, inovasi harus menjadi bagian penting dalam sistem kesehatan agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas.

“Akses terhadap terapi inovatif bukan hanya soal pengobatan, tetapi juga investasi jangka panjang bagi kualitas hidup pasien dan ekonomi nasional,” ujarnya.

Selain meningkatkan peluang hidup, pasien yang mendapatkan terapi tepat juga berpotensi tetap produktif, sehingga membantu menekan beban ekonomi dalam jangka panjang.

Share
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More