Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Riset: Warga Cirebon Boros Parah, Uang Habis Buat Jajan dan Rokok

Riset: Warga Cirebon Boros Parah, Uang Habis Buat Jajan dan Rokok
Ilustrasi Rokok (Pexels.com/Pixabay)
Intinya Sih

  • Komponen pengeluaran makanan naik, didominasi makanan siap saji

    • Pengeluaran per kapita untuk makanan mencapai Rp1,3 juta per bulan

    • Masyarakat Cirebon cenderung konsumsi makanan siap saji

    • Pengeluaran untuk beras, daging, dan buah-buahan juga mengalami kenaikan

  • Pengeluaran nonmakanan meningkat, dominasi biaya rumah tangga

    • Pengeluaran nonmakanan mencapai Rp630.462 per kapita per bulan pada 2024

    • Kebutuhan transportasi dan layanan berbasis teknologi informasi

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Cirebon, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Cirebon merilis data terbaru mengenai rata-rata pengeluaran per kapita sebulan di wilayah tersebut.

Dalam laporan bertajuk Kabupaten Cirebon Dalam Angka 2025, tercatat pengeluaran per kapita per bulan masyarakat Kabupaten Cirebon meningkat dari Rp1,23 juta pada tahun 2024 menjadi Rp1,3 juta pada 2025.

Kenaikan sebesar Rp107.405 atau sekitar 8,7 persen tersebut terjadi di hampir seluruh kelompok komoditas, baik makanan maupun non-makanan. Kategori makanan menjadi penyumbang terbesar dalam struktur pengeluaran masyarakat, diikuti oleh pengeluaran untuk perumahan, aneka jasa, dan kebutuhan sosial.

1. Komponen pengeluaran makanan naik, didominasi makanan siap saji

ilustrasi jajan (pexels.com/Mike Jones)
ilustrasi jajan (pexels.com/Mike Jones)

Dari total pengeluaran sebesar Rp1,3 juta per kapita per bulan pada 2025, sebanyak Rp707.634 atau 52,9 persen digunakan untuk kebutuhan makanan.

Angka ini naik dari Rp675.859 pada tahun sebelumnya. Salah satu pos terbesar dalam kelompok ini adalah pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi, yang mencapai Rp299.998, naik dari Rp274.342 pada 2023.

BPS mencatat, konsumsi makanan siap saji, baik yang dibeli di warung makan maupun produk kemasan, menjadi tren konsumsi masyarakat Cirebon dalam dua tahun terakhir. Hal ini disebut sebagai salah satu faktor utama kenaikan pengeluaran rumah tangga.

Selain makanan jadi, pengeluaran untuk beras juga naik dari Rp73.346 menjadi Rp81.157. Kenaikan serupa terjadi pada daging dari Rp24.368 menjadi Rp29.316 dan buah-buahan dari Rp26.583 menjadi Rp28.405. Pengeluaran untuk sayur-mayur meningkat dari Rp39.579 menjadi Rp41.496.

Namun, beberapa jenis bahan pangan justru mengalami penurunan pengeluaran. Telur dan susu turun dari Rp35.665 menjadi Rp33.452, kacang-kacangan dari Rp16.112 menjadi Rp14.380, dan minyak kelapa dari Rp14.483 menjadi Rp14.143.

BPS juga mencatat penurunan pengeluaran untuk rokok, meskipun jumlahnya masih signifikan. Pada 2025, pengeluaran rokok per kapita mencapai Rp92.094, turun dari Rp97.442 pada 2024. Meski turun, rokok tetap menjadi pengeluaran terbesar ketiga dalam kelompok makanan setelah makanan jadi dan beras.

2. Pengeluaran nonmakanan meningkat, dominasi biaya rumah tangga

ilustrasi rumah yang tidak berpenghuni (pexels.com/Pixabay)
ilustrasi rumah yang tidak berpenghuni (pexels.com/Pixabay)

Sementara itu, pengeluaran nonmakanan pada 2024 tercatat sebesar Rp630.462 per kapita per bulan, naik dari Rp554.832 pada 2023. Pos pengeluaran terbesar adalah untuk kebutuhan perumahan dan fasilitas rumah tangga seperti listrik, air, dan sewa rumah, yaitu Rp294.313 per bulan, naik dari Rp278.921.

Selain itu, pengeluaran untuk aneka barang dan jasa naik tajam dari Rp136.547 menjadi Rp198.850. BPS menyebut kenaikan ini dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan transportasi, pulsa, dan layanan berbasis teknologi informasi.

Pengeluaran untuk pakaian, alas kaki, dan tutup kepala juga naik dari Rp25.112 menjadi Rp27.117. Pajak dan asuransi mencatat kenaikan dari Rp34.317 menjadi Rp40.112.

Di sisi lain, pengeluaran untuk barang tahan lama mengalami penurunan dari Rp60.806 pada 2023 menjadi Rp40.236 pada 2024. Penurunan ini, menurut BPS, berkaitan dengan penurunan konsumsi peralatan elektronik dan rumah tangga yang bersifat investasi jangka panjang.

Menariknya, pengeluaran untuk pesta dan upacara meningkat signifikan dari Rp19.128 menjadi Rp29.834. Peningkatan ini dikaitkan dengan meningkatnya kembali aktivitas sosial masyarakat pascapandemi, termasuk hajatan, pernikahan, dan peringatan keagamaan.

3. Daya beli meningkat, konsumsi bergeser

ilustrasi uang dan kalkulator (unsplash.com/@jakubzerdzicki)
ilustrasi uang dan kalkulator (unsplash.com/@jakubzerdzicki)

Kepala BPS Kabupaten Cirebon, Judiharto Trisnadi, menyatakan peningkatan pengeluaran ini menunjukkan adanya pemulihan daya beli masyarakat, namun juga mencerminkan pergeseran pola konsumsi ke arah gaya hidup praktis.

“Sebagian besar peningkatan terjadi pada makanan jadi dan jasa. Ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai mengadopsi gaya hidup urban, dengan konsumsi yang lebih instan dan berbasis layanan,” ujarnya, dalam Kabupaten Cirebon Dalam Angka 2025.

Judiharto menambahkan, kenaikan harga bahan pokok, terutama beras dan daging, turut mendorong peningkatan total pengeluaran. “Inflasi pangan sepanjang 2024 cukup terasa, terutama pada komoditas beras yang menjadi konsumsi utama di Cirebon,” ujarnya.

BPS merekomendasikan agar pemerintah daerah memperhatikan tren ini dalam perencanaan kebijakan pangan dan ekonomi rumah tangga. Fokus perlu diberikan pada edukasi konsumsi sehat dan penguatan ketahanan pangan lokal, terutama untuk menekan ketergantungan pada makanan olahan.

“Edukasi konsumsi gizi seimbang serta pengendalian harga pangan strategis menjadi penting, agar pengeluaran masyarakat tidak membebani keuangan rumah tangga dalam jangka panjang,” kata Judiharto.

Share
Topics
Editorial Team
Galih Persiana
EditorGalih Persiana
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More