Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Padepokannya di Bakar, Penghayat STJ di Tasik: Kami Punya Hak Hidup

Padepokannya di Bakar, Penghayat STJ di Tasik: Kami Punya Hak Hidup
Ilustrasi penganiayaan (IDN Times/Aditya Pratama)
Intinya Sih
  • Sebuah padepokan penghayat kepercayaan Saung Taraju Jumantara (STJ) di Tasikmalaya dibakar massa setelah video salah satu anggotanya viral dan dianggap menistakan agama.
  • Kelompok pelaku sempat mencari pengurus STJ bernama Khobir, namun karena tidak menemukannya, mereka membakar bangunan padepokan dan membuat para penghayat terpaksa bersembunyi.
  • Anggota STJ menegaskan bahwa mereka hanya ingin hidup damai menjalankan kepercayaan leluhur tanpa mengganggu pihak lain serta meminta negara menjamin hak hidup mereka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandung, IDN Times - Sebuah bangunan yang menjadi padepokan penghayat kepercayaan Saung Taraju Jumantara (STJ) di Kampung Babakan Salak Desa Purwarahayu, Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, dibakar massa, Rabu (1/4/2026) malam. Akibat kejadian tersebut para penghayat meninggalkan padepokan dan sampai sekarang bersembunyi karena takut menjadi korban penganiayaan.

Salah satu anggota STJ, sebut saja Amran (bukan nama sebenarnya) menuturkan bahwa dia sekarang harus kabur dari Tasikmalaya dan bersembunyi. Dari informasi yang diterimanya, kelompok yang melakukan pembakaran masih melakukan intimidasi dan mencari siapa saja anggota dan pengurus dari STJ.

"Kondisinya ini belum kondusif. Ini (saya) masih bersembunyi karena ada teman saya juga masih mendapatkan intimidasi," kata dia saat dihubungi, Senin (6/4/2026).

1. Berawal dari urusan pribadi

ilustrasi pembakaran (pexels.com/Alexander Zvir)
ilustrasi pembakaran (pexels.com/Alexander Zvir)

Dia menuturkan, kasus ini sebenarnya berawal dari urusan pribadi saudara Khobir yang menjabarkan beberapa hal di akun media sosial Tiktok. Namun, video tersebut kemudian viral dan dianggap menjabarkan mengenai penistaan agama.

Padahal dalam diskusi di media sosial tersebut banyak juga penghayat kepercayaan yang lain ikut menjabarkan berbagai macam hal. Dari video tersebut kemudian ada pihak tidak senang dan mencari Khobir.

Namun, karena tidak mendapatkannya, sekelompok orang yang mendatangi pandepokan lantas melakukan pembakaran. Beruntung anggota STJ yang juga keluarga Khobir di sekitar bangunan padepokan tidak menjadi korban.

"Jadi STJ ini memang sekupnya kecil, seperti keluarga. Kami mempelajari mengenai kepercayaan lain atau ajara leluhur. Jadi apa salahnya," kata Amran.

2. Pelaku tak puas karena gagal temui pengurus STJ

ilustrasi pembakaran (pexels.com/Pixabay)
ilustrasi pembakaran (pexels.com/Pixabay)

Menurutnya, sebelum pembakaran pada Rabu pagi ada seseorang yang datang ke padepokan untuk mencari pengurus STJ khususnya Khobir. Setelah itu pada siang hari datangnya sekitar 25-30 orang dari berbagai kelompok merangsak ke kawasan padepokan.

Mereka mencari Khobir untuk meminta penjelasan. Namun, karena lama menunggu dan tidak juga mendapatinya, kelompok tersebut kemudian melakukan pembakaran.

"Mereka bilangnya mau silaturahmi tapi keluar kata-kata seperti iblis, setan, jadi Khobir juga ga mau nemuin," kata dia.

3. Kami juga punya hak hidup

Cara penghayat Sapta Darma bersujud.
Cara penghayat Sapta Darma bersujud. Foto: dokumentasi Komunitas GUSDURian Yogyakarta pada Sabtu (7/3/2026)

Dia menuturkan, kejadian ini jelas menjadi pukulan untuk penghayat kepercayaan. Sebab, selama ini mereka tidak pernah menganggu pihak manapun atau agama manapun.

Amran menilai bahwa sebagai penghayat kepercayaan dia hanya ingin hidup tenang menjalani kepercayaan yang dianut. Karena semua agama atau kepercayaan ujunganya adalah untuk saling menghasihi sesama manusia.

"Saya ingin menikati hidup, tidak ingin ada masalah dan tidak mengganggu yang lain. Sampaikan ke negara, ke Kemenag, bahwa saya juga punya hak hidup," kata dia.

Share
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More