Industri Air Minum Kemasan Siapkan Strategi Hadapi Dinamika Global

- Industri AMDK menghadapi tantangan besar seperti pengelolaan sumber daya air, produk ilegal, dan dampak krisis global yang memengaruhi biaya energi serta rantai pasok.
- AMDATARA mendorong penguatan standar BPOM dan SNI, penerapan ekonomi sirkular, serta tanggung jawab produsen untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan ketahanan industri.
- Musda I AMDATARA JDB mengukuhkan kepengurusan baru periode 2026–2031 yang berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan demi kemajuan industri AMDK.
Bandung, IDN Times - Industri air minum dalam kemasan (AMDK) tengah menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari pengelolaan sumber daya air hingga tekanan ekonomi global yang memengaruhi rantai pasok. Kondisi tersebut membuat pelaku industri perlu memperkuat konsolidasi dan kolaborasi di tingkat daerah maupun nasional.
Hal itu menjadi salah satu sorotan dalam Musyawarah Daerah (Musda) I Dewan Pengurus Daerah (DPD) Perkumpulan Pengusaha Air Dalam Kemasan Nusantara (AMDATARA) Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten. Kegiatan tersebut digelar di Soreang dan diikuti lebih dari 150 anggota industri AMDK.
Musda ini menjadi momentum bagi pelaku industri untuk menyusun arah organisasi sekaligus memperkuat sinergi dalam menghadapi perubahan industri yang terus berkembang. Selain itu, forum ini juga menekankan pentingnya keberlanjutan lingkungan dalam pengembangan industri AMDK.
Wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten sendiri dinilai memiliki peran penting sebagai kontributor utama industri AMDK nasional. Karena itu, penguatan organisasi di kawasan ini dianggap strategis untuk menjaga kualitas produk sekaligus keberlanjutan industri.
1. Industri AMDK hadapi tantangan dari berbagai sisi

Ketua Umum AMDATARA, Karyanto Wibowo, mengatakan industri AMDK kini menghadapi tantangan yang tidak ringan, baik dari dalam negeri maupun kondisi global. Menurutnya, isu pengelolaan sumber daya air hingga produk ilegal menjadi perhatian utama industri saat ini.
Selain itu, dinamika global seperti krisis geopolitik juga berdampak pada kenaikan biaya energi, bahan baku, hingga gangguan rantai pasok yang memengaruhi operasional perusahaan. Kondisi tersebut membuat pelaku industri dituntut lebih adaptif dan efisien.
“Industri AMDK saat ini dihadapkan pada tantangan pengelolaan sumber daya air, pengawasan terhadap produk ilegal, serta percepatan implementasi ekonomi sirkular,” ujar Karyanto.
Ia menambahkan, organisasi daerah diharapkan dapat menjadi contoh soliditas industri dalam menghadapi tantangan tersebut. Menurutnya, penguatan kolaborasi antaranggota menjadi langkah penting agar industri tetap tumbuh secara berkelanjutan.
2. AMDATARA dorong penguatan standar dan ekonomi sirkular

Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, AMDATARA terus mendorong sejumlah agenda strategis di industri AMDK. Salah satunya melalui penguatan kepatuhan terhadap standar BPOM dan Standar Nasional Indonesia (SNI).
Selain itu, organisasi juga mendorong implementasi ekonomi sirkular dan skema Extended Producer Responsibility (EPR) guna memperkuat pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan. Ketahanan rantai pasok dan pengelolaan sumber daya air juga menjadi fokus utama.
“Penguatan organisasi di wilayah ini menjadi fondasi penting untuk memastikan industri terus berkembang dengan menjunjung tinggi kualitas, keamanan produk, serta keberlanjutan lingkungan,” kata Karyanto.
Menurutnya, langkah tersebut perlu dilakukan secara bersama-sama agar industri mampu menjawab tuntutan pasar sekaligus menjaga keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.
3. Musda I kukuhkan kepengurusan baru AMDATARA JDB

Dalam Musda I tersebut, AMDATARA juga resmi mengukuhkan kepengurusan DPD Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten periode 2026–2031. Zainal Abidin dari PT Tirta Investama dipercaya menjadi Ketua DPD bersama jajaran pengurus lainnya.
Zainal mengatakan kepengurusan baru siap memperkuat peran asosiasi di tingkat daerah, termasuk membangun kerja sama yang lebih konstruktif dengan pemerintah dan para pemangku kepentingan.
“Melalui Musda ini, kami berharap dapat memperkuat soliditas organisasi, melahirkan kepengurusan yang visioner, serta meningkatkan kontribusi industri AMDK dalam menjawab tantangan ekonomi, sosial, dan lingkungan ke depan,” ujar Zainal.
Musda I AMDATARA JDB turut dihadiri sejumlah pemangku kepentingan dari pemerintah pusat dan daerah, termasuk perwakilan Kementerian Perindustrian, BPOM, hingga Dinas Lingkungan Hidup. Kehadiran berbagai pihak ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi untuk mendukung perkembangan industri AMDK yang berkelanjutan.




![[QUIZ] Sekolah Maung Jabar Buka Pendaftaran, Kamu Sudah Tahu Programnya?](https://image.idntimes.com/post/20250610/upload_3fcd7fe774f2abf5ee793454e63e6f66_watermarked_idntimes-1.jpg)
![[QUIZ] PKL di Trotoar Bandung Jadi Sorotan, Kamu Pro atau Kontra?](https://image.idntimes.com/post/20260522/upload_3b8a15b14565e3b967f7ddaf129f90c3_c061ea4e-e804-438f-a4e4-cacf6a5211e2.jpeg)












