Warga Bandung Selatan Mulai Dapatkan Akses Air Bersih Jelang Kemarau

- Warga di Ciwidey, Kutawaringin, dan Cangkuang kini menikmati akses air bersih berkat pembangunan sumur baru yang menjawab kekhawatiran krisis air jelang musim kemarau.
- Program penyediaan air bersih dirancang dengan metode geolistrik untuk memastikan keberlanjutan sumber air, menekankan pentingnya solusi jangka panjang atas kebutuhan dasar masyarakat.
- Kolaborasi antara warga, DPRD Kabupaten Bandung, dan Yayasan Nur Leli Berkah menjadi kunci sukses program ini, termasuk partisipasi warga yang menghibahkan lahan serta upaya menjaga keseimbangan lingkungan.
Kabupaten Bandung, IDN Times - Kekhawatiran akan datangnya musim kemarau 2026 sempat membayangi sejumlah wilayah di Kabupaten Bandung, khususnya di kawasan selatan. Selama ini, keterbatasan air bersih menjadi persoalan berulang yang dirasakan warga setiap tahun.
Namun, situasi berbeda mulai terlihat di beberapa titik seperti Ciwidey, Kutawaringin, dan Cangkuang. Warga yang sebelumnya harus menempuh jarak cukup jauh untuk mendapatkan air, kini mulai merasakan akses yang lebih dekat dan memadai.
Perubahan ini berangkat dari aspirasi masyarakat yang disampaikan kepada anggota DPRD Kabupaten Bandung, Arya Everest Setiawan. Aspirasi tersebut kemudian diwujudkan melalui kolaborasi dengan Yayasan Nur Leli Berkah, termasuk dukungan warga yang secara sukarela menghibahkan lahan untuk pembangunan sumur.
Langkah ini menjadi salah satu upaya konkret dalam menjawab kebutuhan dasar masyarakat, sekaligus mengurangi risiko krisis air bersih saat musim kemarau tiba.
1. Momentum pengeboran disambut haru warga

Proses pengeboran sumur yang dilakukan dengan metode geolistrik menjadi titik awal perubahan yang dirasakan masyarakat. Ketika air pertama kali keluar, respons warga berlangsung spontan dan penuh haru.
Salah satu warga, Riri, mengungkapkan rasa lega setelah melihat air mulai mengalir. “Biasanya kalau kemarau, kami sudah mulai cemas dari jauh-jauh hari. Air makin susah, harus ambil jauh. Sekarang, ya rasanya lega saja,” ujarnya.
Pengalaman serupa juga dirasakan warga lain yang selama ini bergantung pada sumber air terbatas. Kehadiran sumur baru ini memberi harapan baru bagi aktivitas sehari-hari mereka.
Bagi masyarakat, momentum tersebut bukan sekadar keberhasilan teknis, tetapi juga simbol perubahan nyata dari kondisi yang selama ini mereka hadapi.
2. Program air bersih difokuskan pada solusi jangka panjang

Program penyediaan air bersih ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan jangka pendek, tetapi juga dirancang dengan pendekatan yang lebih terukur. Penggunaan metode geolistrik menjadi salah satu upaya untuk memastikan keberlanjutan sumber air.
Arya Everest Setiawan menegaskan bahwa program ini diprioritaskan karena persoalan air bersih merupakan kebutuhan mendasar yang terus berulang. “Karena masalahnya nyata dan berulang setiap tahun. Ini bukan isu baru. Jadi ketika aspirasi itu datang, pendekatannya harus langsung ke solusi. Air bersih itu kebutuhan dasar, tidak bisa ditunda,” ujarnya.
Selain itu, aspek teknis menjadi perhatian penting agar program tidak berhenti di tengah jalan. Dengan pendekatan yang matang, diharapkan sumber air yang ditemukan dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.
Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa penanganan masalah air bersih memerlukan kombinasi antara aspirasi masyarakat dan perencanaan teknis yang tepat.
3. Kolaborasi warga dan yayasan jadi kunci keberhasilan

Keberhasilan program ini juga tidak lepas dari peran aktif masyarakat dan dukungan berbagai pihak. Yayasan Nur Leli Berkah turut berkontribusi dalam pelaksanaan program, termasuk memastikan keberlanjutan melalui penanaman pohon di sekitar sumber air.
Ketua Dewan Pembina yayasan, Nabil Khansa, menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam program ini. “Yang paling penting sebenarnya partisipasi warga. Mereka mau menghibahkan lahan, di mana itu tidak sederhana. Artinya ada kepercayaan yang harus dijaga,” ujarnya.
Selain menyediakan akses air, program ini juga dirancang untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Penanaman pohon di sekitar sumur diharapkan dapat membantu menjaga ketersediaan air sekaligus memberi manfaat jangka panjang.
Dengan beroperasinya sumur di tiga kecamatan tersebut, warga kini mulai merasa lebih tenang menghadapi musim kemarau. Bagi mereka, air bersih bukan hanya soal kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menghadirkan rasa aman yang sebelumnya sulit didapatkan.


















