Krisis Berlapis Bandung Zoo: dari Sepinya Lelang Hingga Kondisi Hewan

- Lelang pengelola baru Bandung Zoo sepi peminat, hanya empat pihak yang menunjukkan minat dari 85 lembaga konservasi yang diundang oleh Pemkot Bandung.
- Bandung Zoo menghadapi krisis berlapis, mulai dari kasus korupsi yayasan lama, pencabutan izin Kemenhut, hingga kematian dua anak harimau akibat infeksi virus FPV.
- Pemprov dan DPRD Jabar turun tangan memastikan kesejahteraan satwa serta gaji pegawai, sambil menyiapkan langkah lanjutan jika lelang pengelola gagal hingga batas waktu Mei 2026.
Bandung, IDN Times - Nasib Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo saat ini memasuki tahap krusial. Langkah pemerintah mencari pengelola baru lewat lelang terbuka, ternyata tidak begitu diminati oleh para lembaga pemilik izin konservasi.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan pun merasa pesimistis Bandung Zoo nantinya mendapatkan pengelola sesuai harapan. Sejumlah langkah untuk mengantisipasi kondisi ini juga sudah disiapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung.
"Saya dan Pak Gubernur sedang intensif komunikasi. Kalau sampai tanggal 5 Mei 2026 tidak berhasil lelang, maka akan diambil alih pemerintah. Sekarang kita siapkan semua skenario, baik ada pemenang lelang maupun tidak," ujar Farhan pada Sabtu (2/5/2026).
1. Baru ada empat pihak yang tertarik mengelola Bandung Zoo

Proses lelang pengelola baru Bandung Zoo ini sudah dilakukan Pemkot Bandung sejak beberapa waktu lalu dan akan ditutup besok, 3 Mei 2026. "Masih tahap pendaftaran. Syaratnya ketat, tidak semua lembaga konservasi mampu," kata Farhan.
Berdasarkan data yang ada, Pemkot Bandung sudah membidik beberapa pengelola lembaga konservasi yang bisa mengembangkan Bandung Zoo. Bahkan, Farhan mengatakan, ada 85 lembaga yang diundang sebelumnya untuk menawarkan pengelolaan ini. Namun, tidak mendapatkan respons massif karena baru 4 pihak yang memberi respons.
"Itu pun baru menyatakan minat. Kami juga mengajukan perpanjangan deadline ke pemerintah pusat," jelasnya.
2. Bandung Zoo dan problematik yang muncul

Permasalahan yang ada di Bandung Zoo ini memang pelik. Berbagai persoalan muncul, mulai dari lahan bermasalah; kasus korupsi yang nenyeret yayasan pemegang izin sebelumnya; hingga mantan Sekda Kota Bandung, Yossi Irianto kini tengah meringkuk di dalam jeruji besi.
Berbagai masalah itu memaksa Kementerian Kehutanan (Kemenhut) RI mencabut izin pengelola Yayasan Margasatwa Tamansari (YMT). Pemkot Bandung kemudian menyegel Bandung Zoo pada 5 Februari 2026, dengan catatan urusan hewan akan dijamin oleh Kemenhut. Sementara, gaji pegawai ditangani oleh Pemkot Bandung,
Terbaru, ada dua anak harimau bernama Huru dan Hara mati akibat terinfeksi Feline Panleukopenia Virus (FPV). Kondisi itu pun mengundang perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) dan DPRD Jawa Barat (Jabar).
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi memastikan, untuk gaji para pekerja Bandung Zoo yang ada saat ini akan ditanggung oleh Pemkot Bandung. Sementara, untuk gaji yang belum dibayarkan setelah penutupan kebun binatang, kata Dedi, akan diselesaikan oleh Pemprov Jabar.
"Gaji mereka sudah masuk dan ditanggung Pemkot Bandung, yakni Pak Wali Kota Farhan, terdaftar tenaga kerja Pemkot Bandung dan mulai gajian pada 25 April," ujarnya.
3. Kondisi Bandung Zoo membuat Pemprov dan DPRD Jabar ikut turun tangan

Di sisi lain, Dedi juga memastikan kesejahteraan para satwa di Bandung Zoo. Untuk pakan satwa, kata Dedi, akan ada tambahan nutrisi dari Bank Jabar Peduli, pun demikian dengan dokter hewan.
"Proses dibuka Kebun Binatang Bandung ini harus ada pengelola, kalau bahasa Indonesianya itu kompetisi. Jadi siapa yang berminat, asalkan harus punya sertifikat pengelolaan kebun binatang," kata dia.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Provinsi Jabar, Ono Surono menyebutkan, ada memorandum of understanding (MoU) antara Kementerian Kehutanan dengan Pemerintah Daerah Kota Bandung yang akan berakhir pada 6 Mei mendatang.
Pemkot Bandung bertanggung jawab untuk mengelola kebun binatang Bandung itu setelah dicabutnya Lembaga Konservasi (LK) dari yayasan pengelola sebelumnya.
Pada April lalu, Pemkot Bandung bersama Kemenhut dan DPRD Jabar menentukan di mana penempatan hewan-hewan dari Bandung Zoo. "Hewan-hewan jenis tertentu yang dilindungi dan mendapatkan perhatian khusus, dipindahkan ke lembaga konservasi lainnya," kata Ono, belum lama ini.
IDN Times mencatat, Bandung Zoo merupakan salah satu magnet objek wisata di Kota Bandung. Mayoritas pengunjung yang datang banyak berasal dari wilayah Jawa Barat, dan tidak pernah sepi setiap hari Sabtu, Minggu, dan libur nasional.
Seperti, pada masa libur panjang Maulid Nabi, Sabtu-Senin (14-16/9/2024) total pengunjung yang datang mencapai sekitar 4.500 wisatawan lebih dari target 6.000 orang. Jika dibandingkan pada hari ketiga setelah libur Lebaran 2023, angkanya cukup stabil di 4.000 orang.
Sementara pada hari lebaran di periode tersebut pengunjung ada sebanyak 1.000 orang, hari kedua lebaran sampai 7.000 orang.











![[QUIZ] Izin Daycare di Jabar Perlu Diperketat, Kamu Tim Setuju atau Ribet?](https://image.idntimes.com/post/20250508/snapins-ai-2950734148781659893-f3e9ef7c1df10decd9d6ac98416f8a90.jpg)





