Jabar Targetkan Bebas Kabel Semerawut 2029, Dimulai dari Gedung Sate

- Pemerintah Provinsi Jawa Barat menargetkan seluruh kabel listrik dan telekomunikasi di kota-kota besar tertata rapi melalui sistem bawah tanah pada tahun 2029.
- Penataan dimulai dari kawasan Gedung Sate Bandung sebagai simbol pemerintahan, lalu diperluas ke wilayah lain dengan melibatkan operator dan asosiasi terkait.
- Gubernur Dedi Mulyadi menekankan pentingnya integrasi infrastruktur agar efisien, aman, serta menjadi langkah menuju transformasi kota modern di Jawa Barat.
Bandung, IDN Times - Kondisi kabel semerawut tidak tertata rapih yang ada di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat turut menjadi perhatian Gubernur Dedi Mulyadi. Pemerintah Provinsi Jabar pun memastikan akan turun tangan langsung untuk menata kabel tersebut.
Menurut Dedi, praktik pemasangan kabel yang tidak tertib harus diakhiri dan diganti dengan sistem bawah tanah (underground) secara menyeluruh.
"Saya tidak ingin lagi melihat kabel bergelantungan di jalan-jalan kota. Itu merusak wajah kota dan berbahaya," katanya, Selasa (5/5/2026).
1. Kita di Jabar harus bebas dari kabel semerawut

Dedi memasang targe pada 2029, seluruh jaringan kabel telekomunikasi dan listrik di pusat-pusat kota Jawa Barat sudah tertata rapi melalui sistem bawah tanah. Sehingga, saat ini dirinya tengah mengkaji hal tersebut.
"Target kita jelas, 2029 kota-kota di Jawa Barat sudah bebas dari kabel semrawut," ujarnya.
Dia memastikan, penataan akan dimulai dari kawasan Gedung Sate di Bandung sebagai etalase pemerintahan, lalu diperluas ke wilayah perkotaan lain seperti Karawang dengan melibatkan operator telekomunikasi dan asosiasi terkait.
"Kita mulai dari pusat dulu, dari Gedung Sate. Itu simbol. Kalau di sana rapi, daerah lain harus ikut," katanya.
2. Kabel semerawut sangat membahayakan

Menurutnya, persoalan kabel bukan hanya soal estetika, tetapi juga menyangkut keselamatan dan efisiensi tata kota.
"Kabel yang tidak tertata itu rawan putus, rawan kebakaran, dan membahayakan masyarakat. Ini bukan sekadar soal enak dilihat, tapi soal keamanan," ucapnya.
Untuk memastikan program berjalan efektif, KDM menekankan integrasi pekerjaan infrastruktur agar tidak ada lagi pembongkaran berulang.
"Tidak boleh lagi ada trotoar baru dibangun, lalu dibongkar lagi karena kabel. Semua harus masuk satu sistem sejak awal. Sekali kita bangun, harus tuntas. Jangan ada gali-tutup yang merusak fasilitas publik," tuturnya.
3. Dedi Mulyadi ingin kita di Jabar naik kelas

Lebih lanjut, Dedi juga meminta seluruh pemerintah kabupaten/kota mengikuti pola yang sama agar tidak terjadi ketimpangan penataan antarwilayah.
"Provinsi dan kabupaten/kota harus satu pola. Kalau tidak, yang rapi hanya sebagian, yang lain tetap semrawut," katanya.
Dia menegaskan, penataan kabel bawah tanah merupakan bagian dari transformasi besar menuju kota modern di Jawa Barat.
"Kita ingin kota-kota di Jawa Barat naik kelas—lebih tertib, lebih aman, dan punya standar infrastruktur yang baik. Ini bukan proyek jangka pendek, ini fondasi masa depan Jawa Barat," kata dia.


















