Ada 258 Kasus Campak di Jabar, Kota Tasikmalaya Paling Banyak

- Jawa Barat mencatat 258 kasus campak hingga minggu ke-11 Januari 2026, dengan Kota Tasikmalaya menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak.
- Satu tenaga medis di Cianjur dilaporkan meninggal akibat campak, sementara Dinkes Jabar menegaskan pentingnya imunisasi untuk mencegah komplikasi serius seperti radang otak dan amnesia imun.
- Kemenkes mengeluarkan surat edaran kewaspadaan serta melaksanakan program ORI dan CUC Campak di 102 kabupaten/kota guna menekan penyebaran penyakit pada anak usia 9–59 bulan.
Bandung, IDN Times - Penenangan kasus campak saat ini masih dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan data selama awal Januari 2026 kasus campak di Jawa Barat sudah ditemukan di beberapa daerah, dan paling banyak di Kabupaten Tasikmalaya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat, Vini Adiani Dewi mengatakan, data mencatat adanya 258 kasus campak yang terjadi di Jabar selama periode Januari 2026. Adapun jumlah itu diketahui berdasarkan laporan dari 15 kabupaten/kota di Jabar.
"Sampai minggu ke 11, itu ada 258 kasus di Jawa Barat. Dari 15 kabupaten/kota," kata Vini, dikutip Selasa (7/4/2026).
1. Satu orang dinyatakan meninggal

Dari 15 kabupaten dan kota ini, kasus terbanyak terjadi di Kota Tasikmalaya, dan untuk korban meninggal akibat campak yang terdata, baru satu kasus yaitu dokter internship berinisial AMW (26 tahun) yang dilaporkan meninggal dunia pada Kamis (26/3/2026), usai menjalankan tugas di salah satu rumah sakit di Cianjur.
"Kota Tasikmalaya. Kalau dilaporkan (meninggal) baru yang kemarin itu, kasus yang di Cianjur," ucapnya.
Penyakit campak muncul tidak hanya sekadar gatal di kulit saja. Vini mengatakan, hal itu bisa membuat dampak lain ke anggota tubuh. Sehingga, imunisasi penting untuk meminimalisir dampak tersebut.
"Kalau orang belum diimunisasi, itu bisa terjadi radang otak, radang paru-paru, mata menjadi buta, pendengaran menjadi tuli. Bahkan yang paling bahaya itu ada namanya amnesia imun," katanya.
2. Campak bisa menganggu kondisi tubuh lainnya

Vini menjelaskan, amnesia imun itu dimana tubuh lupa akan tugasnya dalam memerangi penyakit, dan ini merupakan dampak paling parah dari seseorang terpapar campak. Penanganan penyakit ini sendiri dikatakan dia tidak bisa dilakukan sembarang.
Pasien harus terus diobservasi selama empat bulan hingga tiga tahun, guna memastikan ada dampak tambahan penyakit lain atau tidak dari campak tersebut.
"Jadi lupa, antibodi. Yang sudah divaksin pnemonia, nah antibodi tubuh lupa kalau sebetulnya ia itu tentara untuk mencegah pnemonia," katanya.
3. Kasus campak di Indonesia sempat mengalami penurunan

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah mengeluarkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/1602/2026 untuk rumah sakit agar waspada penyakit campak, khususnya bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan.
Kemenkes mencatat hingga pekan ke-11 2026, tercatat 58 KLB campak di 39 kabupaten/kota. Pada awal tahun, kasus sempat alami lonjakan hingga 2.740 kasus, namun terjadi tren penurunan menjadi 177 kasus.
Kemenkes merespons kondisi tersebut dengan melakukan Outbreak Response Immunization (ORI) serta Catch-Up Campaign (CUC) Campak di 102 kabupaten/kota dengan sasaran anak usia 9 hingga 59 bulan.
ORI merupakan imunisasi massal darurat untuk menghentikan penyebaran wabah. Sementara, CUC adalah imunisasi yang bertujuan untuk melengkapi status imunisasi yang belum lengkap.


















