Disdik Jabar Bongkar Jurusan SMK yang Dibutuhkan Pabrik BYD Subang

- Pemerintah Provinsi Jawa Barat meminta BYD Subang menyerap tenaga kerja lokal, terutama lulusan SMK, dengan fokus pada kemampuan teknologi, karakter, dan bahasa.
- Disdik Jabar menyiapkan siswa SMK di bidang kelistrikan, elektronika, dan pemesinan agar memenuhi kebutuhan industri BYD serta mewajibkan pendaftaran melalui aplikasi Nyari Gawe.
- Sebanyak 4.500 lulusan SMA/SMK Jabar telah mengikuti pelatihan bersertifikat untuk bekerja di pabrik BYD Subang, dan jumlahnya diperkirakan terus bertambah seiring meningkatnya kebutuhan tenaga kerja.
Bandung, IDN Times - Pemerintah Provinsi Jawa Barat meminta agar perusahaan mobil listrik asal China, BYD, yang kini memiliki pabrik di Subang, harus menyerap tenaga kerja lokal, khususnya lulusan SMK. Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat pun membeberkan jurusan SMK yang berpotensi direkrut oleh BYD.
Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Menegah Kejuruan, Disdik Jabar, Edy Purwanto mengatakan, BYD pada dasarnya tidak pernah mengkhususkan jurusan mana saja yang akan direkrut. Hanya saja, ada beberapa syarat yang diberikan pada calon pekerja.
"Itu enggak banyak karena memang tidak pernah dikhususkan, mereka hanya bicara tentang teknologi, karakter sama bahasa. Hanya tiga yang diminta," ujar Edy, Selasa (7/4/2026).
1. Semua jurusan SMK dipersiapkan

Disdik Jabar sendiri kini terus memantapkan para murid SMK dapat memenuhi semua persyaratan dari perusahaan China tersebut, dan memberikan bekal terutama di bidang industri, seperti kejuruan bidang elektronik dan juga kelistrikan.
"Tapi kami kami tetap menyiapkan seluruhnya sesuai dengan kebutuhan. Karena mereka kan membutuhkannya sesuai dengan industrinya. Kalau industrinya pada otomotif berarti kan banyak hal kelistrikan, elektronika, pemesinan dan sebagainya, bukan hanya satu titik saja," kata dia.
Meski BYD akan menyerap tenaga kerja lokal termasuk dari lulusan SMK di Jabar, Edy mengatakan, nantinya para calon pekerja ini haurs tetap harus mendaftarkan diri di aplikasi Nyari Gawe yang sudah disediakan Pemprov Jabar.
Artinya, perekrutan tidak bisa dilakukan hanya untuk beberapa sekolah tertentu saja, melainkan ada beberapa yang harus tetap mendaftar diri di aplikasi tersebut.
"Kami mempersiapkan anak-anaknya yang kelas 12 untuk disiapkan dan nantinya masuk ke dalam aplikasi yang dibuat oleh Disnakertrans yang disebut dengan Nyari Gawe," kata dia.
2. Beberapa lulusan SMK sudah diberikan pelatihan oleh BYD

Soal data berapa pekerja lulusan SMK yang akan direkrut oleh BYD, Edy belum mengetahui secara pasti, namun koordinasi dengan perusahaan tersebut terus dilakukan, dan persiapan sekolah juga dimatangkan.
"Kalau data detailnya memang kami enggak tahu karena mohon maaf itu memang menjadi kewenangan BYD. (Tapi) Kalau komunikasi sering, meski itu kan itu konteksnya anak-anak yang sudah lulus yang sudah memang menjadi kewenangan di Disnakertrans," ujarnya.
Sebelumnya, ribuan lulusan SMA/SMK asal Jawa Barat dipastikan siap disalurkan untuk bekerja di Pabrikan Otomotif BYD, Kabupaten Subang. Para calon pekerja ini pun dipastikan sudah memiliki sertifikat uji yang diberikan oleh BYD dan juga Disdik Provinsi Jabar.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi pun membenarkan hal tersebut. Dia memastikan sudah ada 4.500 lulusan SMA/SMK di Jawa Barat yang sudah mengikuti pelatihan dan kini mendapatkan sertifikat.
"Sebanyak 4.500 lulusan SMA/SMK di Jawa Barat yang sudah mengikuti pelatihan untuk bekerja di perusahaan otomotif BYD di Subang di kawasan Surya Cipta. Sehingga ini tahap awal, tahap berikutnya nanti mungkin ada penyerahan lagi 5.000 atau 6.000," kata Dedi, dikutip Sabtu (4/10/2025).
3. Sebanyak 4.500 tenaga kerja akan diserap BYD Subang

Menurutnya angka ini akan terus bertambah mengingat kebutuhan tenaga kerja siap pakai di industri kendaraan listrik diperkirakan akan terus tumbuh. Hal ini juga sejalan rencana pihaknya menghasilkan lulusan-lulusan SMA/SMK yang siap kerja.
"(4.500) Ini tenaga kerja yang sudah lulus. Lulus pelatihan, punya sertifikat dan siap bekerja. Tinggal pembentukan mental. Pembentukan mental bisa dilakukan dengan konsep barak militer," katanya.
Dengan skema penyiapan tenaga kerja ini, industri tidak lagi menganggarkan pelatihan untuk calon tenaga kerja terampil mengingat kewajiban tersebut sudah ditangani oleh Pemerintah Provinsi Jabar.
"Sehingga industri memiliki cost yang rendah untuk membuat pelatihan karena pelatihannya sudah menjadi tanggungan pemerintah provinsi. di Jawa Barat," katanya.


















