Amerika Masih Pegang Nasib Ekspor Ciayumajakuning

- Bank Indonesia Cirebon menyoroti ketergantungan ekspor Ciayumajakuning pada pasar Amerika Serikat yang mencapai 47,17 persen, dinilai berisiko tinggi terhadap gejolak ekonomi global.
- BI mendorong diversifikasi pasar ke kawasan ASEAN, Timur Tengah, dan Afrika serta percepatan hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk lokal.
- Kebutuhan SDM terampil meningkat seiring transformasi ekonomi kawasan Rebana; BI menekankan pentingnya pendidikan vokasi dan pelatihan kerja agar industrialisasi berdampak positif bagi masyarakat lokal.
Cirebon, IDN Times - Bank Indonesia (BI) Perwakilan Cirebon menyebutkan, ketergantungan industri ekspor di wilayah Ciayumajakuning terhadap pasar Amerika Serikat mulai mendapat perhatian serius di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Dominasi pasar tunggal dalam struktur ekspor kawasan berpotensi menimbulkan risiko bagi keberlanjutan pertumbuhan industri apabila terjadi perlambatan ekonomi atau perubahan kebijakan perdagangan di negara tujuan utama tersebut.
Kepala BI Perwakilan Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis, mengungkapkan, Amerika Serikat masih menjadi tujuan terbesar ekspor dari kawasan Ciayumajakuning dengan kontribusi mencapai 47,17 persen dari total nilai ekspor.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa hampir separuh aktivitas perdagangan luar negeri kawasan masih bergantung pada permintaan dari negara tersebut.
Menurut dia, ketergantungan yang terlalu besar terhadap satu pasar membuat industri daerah lebih rentan menghadapi gejolak ekonomi global. Pelemahan daya beli konsumen, perubahan tarif impor, hingga ketegangan geopolitik internasional dapat langsung memengaruhi kinerja ekspor dan aktivitas produksi industri di daerah.
“Struktur pasar ekspor yang lebih beragam akan membuat perekonomian daerah memiliki daya tahan yang lebih baik ketika terjadi guncangan eksternal,” ujarnya, Senin (1/6/2026).
1. Perluasan pasar jadi prioritas

BI menilai perluasan tujuan ekspor menjadi salah satu langkah strategis yang perlu segera dilakukan pemerintah daerah bersama pelaku usaha. Kawasan ASEAN, Timur Tengah, dan Afrika disebut memiliki peluang yang masih terbuka untuk pengembangan pasar baru bagi berbagai produk unggulan Ciayumajakuning.
Selama ini, sejumlah sektor seperti tekstil dan produk tekstil, manufaktur pengolahan, kerajinan, hingga batik menjadi kontributor utama ekspor kawasan.
Namun dominasi pasar Amerika Serikat membuat sektor-sektor tersebut menghadapi risiko yang cukup besar ketika permintaan dari negara tersebut mengalami perlambatan.
"Diversifikasi pasar dinilai tidak hanya berfungsi sebagai langkah mitigasi risiko, tetapi juga membuka peluang peningkatan volume perdagangan ke wilayah yang pertumbuhan ekonominya relatif lebih stabil," tuturnya.
2. Hilirisasi dorong nilai tambah

Selain memperluas pasar, BI juga menyoroti pentingnya percepatan hilirisasi industri. Langkah tersebut dianggap penting untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus memperkuat daya saing ekspor.
Wihujeng menjelaskan, sebagian komoditas unggulan daerah masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah atau setengah jadi. Kondisi ini membuat pelaku usaha lebih rentan terhadap fluktuasi harga komoditas di pasar internasional.
Ia menilai berbagai sektor potensial seperti batik, pangan olahan, hasil perikanan, dan tekstil memiliki peluang untuk berkembang menjadi produk bernilai tinggi apabila didukung inovasi desain, teknologi produksi, serta akses pasar yang lebih luas.
"Pengembangan industri hilir juga diperkirakan dapat menciptakan lapangan kerja baru dan memperkuat keterkaitan antara sektor industri dengan usaha mikro, kecil, dan menengah di daerah," jelasnya.
3. Kebutuhan SDM industri meningkat

Wihujeng mengatakan, transformasi ekonomi yang berlangsung di kawasan Rebana turut memunculkan kebutuhan baru terhadap tenaga kerja yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri modern.
Karena itu, penguatan kualitas sumber daya manusia dinilai menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan industrialisasi.
BI mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia pendidikan, dan pelaku usaha untuk memperkuat pendidikan vokasi serta program pelatihan kerja yang lebih adaptif terhadap perkembangan industri.
Menurut Wihujeng, investasi yang masuk ke kawasan industri harus mampu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat setempat melalui peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal.
Di sisi lain, BI mengingatkan agar percepatan industrialisasi tidak mengabaikan aspek ketahanan pangan. Ekspansi kawasan industri di sejumlah wilayah dinilai mulai memberi tekanan terhadap keberadaan lahan pertanian produktif yang selama ini menjadi penopang produksi pangan regional.
"Transformasi ekonomi kawasan merupakan proses yang tidak dapat dihindari. Namun arah pembangunan perlu dijaga agar mampu menciptakan pertumbuhan yang inklusif, memperkuat daya saing industri, serta tetap menjaga ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka Panjang," tuturnya.



















