Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Tiga Karhutla Terjadi dalam Sehari di Jabar, 53 Hektare Terdampak

Kota Bandung
Tiga Karhutla Terjadi dalam Sehari di Jabar, 53 Hektare Terdampak
Ilustrasi Karhutla (IDN Times/Arifin Al Alamudi)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Tiga karhutla terjadi serentak pada 27 Juli 2026 di Sumedang, Sukabumi, dan Kabupaten Bandung, dengan total lahan terdampak mencapai 53 hektare.
  • Api di Sumedang, Sukabumi, dan Kabupaten Bandung telah dipadamkan; di Bandung, petugas sempat menyisir area untuk memastikan tidak ada titik api tersisa.
  • BPBD Jabar mencatat 46 laporan karhutla di 14 kabupaten/kota sepanjang Juli 2026 dan mengimbau warga tidak membakar sampah serta segera melapor.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Peristiwa kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Jawa Barat terjadi di tiga daerah dalam satu hari, Senin (27/7/2026). BPBD Provinsi Jawa Barat mencatat peristiwa ini ada di Kabupaten Bandung, Sumedang, dan Sukabumi yang mana insiden tersebut terjadi bersamaan dalam satu hari.

Pranata Humas Ahli BPBD Jabar, Hadi Rahmat mengatakan, kebakaran pertama terjadi di Gunung Batu, bekas kawasan Multimarindo, Dusun Pananjung, Desa Cinanjung, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang sekitar pukul 11.30 WIB.

Dari laporan tim BPBD Jabar, pada area tersebut api membakar lahan seluas kurang lebih tiga hektare dengan intensitas yang cukup besar, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

1. Peristiwa kebakaran disebut karena human error

Ilustrasi karhutla di Sumsel (IDN Times/Rangga Erfizal)
Ilustrasi karhutla di Sumsel (IDN Times/Rangga Erfizal)

Sebelum peristiwa tersebut, sekitar pukul 11.00 WIB, kebakaran juga melanda kawasan hutan pegunungan Puncak H. Biebie di Kampung Nelayan, Desa Pasir Baru, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.

Api pertama kali diketahui warga dari lereng pegunungan sebelum dilaporkan kepada petugas pemadam kebakaran. Hingga laporan terakhir, luas lahan yang terbakar masih dalam proses penghitungan.

Sementara itu, kebakaran lainnya terjadi pada pukul 17.25 WIB di Kampung Badaraksa, Desa Jelegong, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung. BPBD mencatat kebakaran diduga dipicu human error yang diperparah tiupan angin. Api menghanguskan sekitar satu hektare lahan yang ditumbuhi semak belukar serta limbah kain.

2. Petugas BPBD masih melakukan penyisiran di beberapa titik

Ilustrasi karhutla (Dok: istimewa)
Ilustrasi karhutla (Dok: istimewa)

Hadi menyampaikan, BPBD Jawa Barat bersama BPBD kabupaten, pemadam kebakaran, aparat kepolisian, dan pemerintah desa telah melakukan penanganan di seluruh lokasi. Di Sumedang, api berhasil dipadamkan sekitar pukul 14.15 WIB. Di Sukabumi, api dinyatakan padam total pada Selasa (28/7/2026) pukul 01.00 WIB.

Sementara di Kabupaten Bandung, petugas masih melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada lagi titik api kecil yang berpotensi memicu kebakaran kembali.

"Yang di Kabupaten Bandung, Puncak Habibi Kabupaten Sukabumi dan Gunung batu Sumedang, Alhamdulillah sudah padam," ujar Hadi, Selasa (28/7/2026).

3. Masyarakat diminta tidak membakar sampah

(Ilustrasi Karhutla di Sumsel) IDN Times/istimewa
(Ilustrasi Karhutla di Sumsel) IDN Times/istimewa

Hadi mengatakan selama musim kemarau terjadi peningkatan kasus Karhutla, total ada 46 laporan kejadian karhutla sepanjang Juli 2026 di 14 kabupaten/Kota di Jabar. Ia mengimbau agar masyarakat tidak membakar sampah di lahan terbuka, demi menghindari karhutla.

"Total terdampaknya ini ada 53 hektare," katanya.

Menurutnya, pembakaran sampah di area terbuka berpotensi memicu api menjalar ke lahan milik warga maupun kawasan yang lebih luas.

"Sehingga perlu diantisipasi, misalnya jangan membakar sampah di lahan-lahan terbuka. Itu juga penting menghindari kebakaran di lahan-lahan yang terbuka yang berdekatan dengan lahan masyarakat yang menyebabkan kebakaran lahan gitu ya," katanya.

Selain pembakaran sampah, BPBD Jabar juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan yang dapat memicu munculnya titik api.

Di tengah meningkatnya ancaman karhutla dan kekeringan, BPBD Jawa Barat meminta masyarakat tidak menunggu hingga kebakaran meluas untuk melapor. Pelaporan dini dinilai menjadi faktor penting agar petugas dapat melakukan respons cepat dan mencegah dampak yang lebih besar.

"Kalau misalnya memang terjadi, bisa juga masyarakat melaporkan ya ke BPBD setempat untuk kita lakukan respons cepat terkait dengan kejadian, baik kekeringan ataupun kebakaran hutan dan lahan," ucapnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More