Saat Kebutuhan Listrik Naik, Seberapa Siap Sistem Energi?

- Pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi diproyeksikan menaikkan kebutuhan listrik dari industri, pusat data, bangunan, transportasi, serta rumah tangga yang makin terelektrifikasi.
- Penambahan pembangkit perlu dibarengi efisiensi energi dan pengelolaan jaringan agar pola konsumsi dapat menyesuaikan pasokan, termasuk listrik surya yang bersifat bergantung kondisi.
- Pembiayaan fleksibel dinilai penting untuk menekan risiko proyek energi, menarik investasi swasta, serta mendukung ekosistem industri hijau seperti baterai, kendaraan listrik, dan tenaga surya.
Bandung, IDN Times - Pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi diperkirakan ikut meningkatkan kebutuhan listrik Indonesia dalam beberapa dekade mendatang. Permintaan tersebut tidak hanya berasal dari sektor industri, tetapi juga pusat data, bangunan, transportasi, hingga rumah tangga.
Kondisi itu membuat penambahan kapasitas pembangkit bukan menjadi satu-satunya pekerjaan yang perlu disiapkan. Sistem energi juga dituntut mampu mengelola perubahan pola konsumsi sekaligus memanfaatkan listrik secara lebih efisien.
GIZ Energy Programme Director Lisa Tinschert mengatakan peluang industrialisasi Indonesia akan semakin terbuka seiring pertumbuhan ekonomi dan ketersediaan tenaga kerja. Namun, perkembangan tersebut juga berpotensi meningkatkan kebutuhan listrik, terutama dari sektor industri.
“Industri merupakan salah satu sektor yang akan berkontribusi signifikan terhadap peningkatan permintaan listrik,” ujar Lisa dalam Katadata SAFE 2026 pada sesi bertajuk Indonesia’s Strategic Wager: Planning Future Demand, Powering Sustainable Growth, Rabu (16/9/2026).
1. Sumber permintaan listrik semakin beragam

Saat Kebutuhan Listrik Naik, Seberapa Siap Sistem Energi? (Dok. Katadata SAFE 2026) Selain industri, pusat data menjadi salah satu sumber permintaan listrik yang relatif baru. Menurut Lisa, kebutuhan listrik sektor tersebut masih sulit diproyeksikan, baik dari sisi pertumbuhan maupun karakteristik bebannya yang berbeda sehingga perlu diperhitungkan dalam perencanaan jaringan.
Permintaan juga berpotensi meningkat dari bangunan, terutama untuk kebutuhan pendinginan di rumah tangga dan industri. Sektor transportasi turut mengalami perubahan seiring penggunaan kendaraan listrik, sementara elektrifikasi rumah tangga dapat meluas ke kebutuhan seperti kompor listrik.
“Secara umum, ada dorongan menuju elektrifikasi dan pertumbuhan permintaan energi yang signifikan. Indonesia sekarang berada di persimpangan untuk menentukan dari mana kapasitas pembangkitan baru tersebut akan berasal,” kata Lisa.
2. Efisiensi dan jaringan perlu berjalan beriringan

Ilustrasi listrik padam (Pexels/Burak The Weekender) Menambah pembangkit dinilai belum cukup untuk menjawab pertumbuhan kebutuhan listrik. Efisiensi penggunaan energi juga diperlukan agar pertumbuhan ekonomi tidak selalu diikuti peningkatan konsumsi listrik dalam skala yang sama.
Penggunaan energi yang semakin efisien berpotensi membantu menekan konsumsi sekaligus mengurangi emisi. Di sisi lain, Managing Director of Development Investment Danantara Development Management Fund (DDMF) Rachmat Kaimuddin menilai fleksibilitas perlu diterapkan pula dalam desain pembiayaan energi.
“Kalau kita memiliki 100 gigawatt listrik dari tenaga surya, kita harus memikirkan apakah kita memiliki beban untuk menyerapnya dan apakah ada penggunaan energi yang bisa dialihkan ke siang hari,” ujar Rachmat.
3. Pembiayaan ikut menentukan kesiapan sistem

ilustrasi pembiayaan (pexels.com/@pixabay) Menurut Rachmat, pengembangan sistem energi perlu mempertimbangkan sumber daya yang tersedia, infrastruktur yang sudah dibangun, serta pola konsumsi masyarakat. Hal ini menjadi penting ketika Indonesia meningkatkan penggunaan sumber energi yang produksinya bergantung pada kondisi tertentu, seperti tenaga surya.
DDMF memiliki mandat untuk mendukung proyek pembangunan jangka panjang dengan pembiayaan yang lebih fleksibel. Rachmat menilai lembaga pembiayaan pembangunan dapat membantu menurunkan risiko sekaligus mempersiapkan proyek agar lebih mudah menarik investasi swasta.
Di sisi lain, Lisa melihat peluang pengembangan energi surya dapat berjalan bersama pembentukan ekosistem industri hijau, termasuk baterai dan kendaraan listrik.
“Saya sangat percaya bahwa revolusi tenaga surya akan segera dimulai di Indonesia. Energi surya akan membawa listrik yang lebih murah dan dapat meningkatkan daya saing Indonesia secara global,” kata Lisa.
Katadata SAFE 2026 menjadi forum yang mempertemukan pemerintah, dunia usaha, investor, akademisi, dan masyarakat untuk membahas tantangan serta peluang menuju ekonomi berkelanjutan. Memasuki tahun ketujuh, forum yang digelar pada 16–17 September 2026 di Sudirman Hall, Sequis Tower, SCBD Jakarta, ini mengusung tema The Green Changer melalui rangkaian forum, lokakarya, pameran interaktif, dan kolaborasi lintas sektor.





















